Pengajian 1 – Kitab Maroqil Ubudiyah Imam Nawawi Bin Umar Al Bantani

Pengajian 1, 25 Novemver 2020
Ranting NU Desa Setia Mulya, Kec. Tarumajaya
Kitab Maroqil Ubudiyah Imam Nawawi Bin Umar Al Bantani.
Majlis Ta’lim Al-Hambaliy, Kp. Bogor, Setia MUlya

Oleh. Usman Ali, S.PdI
Rois Syuriah Ranting NU Desa Setia Mulya

MUQODDIMAHNYA ORANG ALIM
Kitab Maroqil Ubudiyah yang merupakan syarah dari kitab Bidayatul Hidayah karangan Imam Abu hamid bin Muhammad bin Muhammad Al Ghozali ini merupakan salah satu kitab yang sering sekali dikaji dan dibahas terutama di kalangan pesantren. Mungkin sudah menjadi salah satu kitab wajib yang harus dipelajari oleh kalangan santri di Nusantara.
Kitab yang memadukan penjelasan Fiqih dan Tasawwuf ini sudah menyajikan banyak sekali ilmu dan pembelajaran mulai dari Muqiddimahnya (pendahuluan) saja.
Pemilihan kata dan bahasa yang dipakai oleh Imam Nawawi dalam Muqoddimah kitab Maroqil Ubudiyah ini memiliki banyak sekali makna dan pembelajaran yang dapat kita ambil hikmahnya. Diantaranya :

الحمد لله جلّ وعلا أحمده لجميع الايّادى والالا. واشكره شكر من عوفي من البلا واستغفره لي ولوالدي ولمن له حقّ عليّ . وللمسلمين من كلّ ذنب قولا وفعلا. واتوب من كلّ معصية توبة عبد لايملك لنفسه هدى . ويستطيع ان يدفع عنها ضلالا. واشهد ان لااله الاالله وحده لا شريك له ولامماثلا. واشهد انّ محمدا نبيّه ورسوله ذو المقام أعلا. وصلّ الله وسلّم عل سيدنا محمّد الذي اختصّ الله به فضائلا . وعلى ا له الذي أمنوا بالله ورسوله وصدقوا بما قالا وأصحابه الذين فازوا بالاقتداء بالجهاد وغيره فنالوا الدرجات العلا

  1. Bersyukur seperti syukurnya orang yang selamat dari musibah.
    Syukur orang yang mendapat nikmat akan sangat berbeda dengan syukur orang yang selamat dari musibah. Orang yang selamat dari musibah akan mereflesikan rasa syukur yang lebih dalam dan tulus. Melalui muqoddimah ini Imam Nawawi mengajarkan kita untuk bersyukur seperti syukurnya orang yang mendapat musibah terhadap apapun. Sekecil apapun nikmat atau pemberian Allah harus kita syukuri sebesar syukurnya orang yang selamat dari musibah.
  2. Meminta ampun untuk semua orang yang memiliki hak atas dirinya.
    Setiap dari kita memiliki kewajiban untuk menunaikan hak kepada orang lain. Guru kepada muridnya, ayah kepada anaknya, suami kepada istrinya, pemerintah kepada rakyatnya dan lain- lain. Sebagai mu’min yang baik seharusnya selalu memintakan ampun kepada Allah atas orang- orang tersebut.
  3. Bertaubat seperti taubatnya orang yang tidak tahu dan atau terpaksa melakukan maksiyat.
    Seorang yang bertaubat karena telah berbuat maksiyat padahal dia tahu itu perbuatan maksiyat dan dengan sengaja melakukannya berbeda tingkat taubatnya dengan orang yang tidak tahu bahwa yang dilakukannya adalah perbuatan maksiyat atau orang yang tahu tapi terpaksa melakukannya karena tak mampu untuk menolak. Orang yang terpaksa berbuat maksiyat dan tak mampu menolak kemaksiyatan lalu bertaubat, akan memiliki penyesalan yang lebih mendalam dan tidak akan mengulangi perbuatannya. Sedangkan orang yang tahu bahwa itu perbuatan maksiyat tapi tetap melakukannya dengan sengaja, berpotensi besar untuk terus mengulanginya karena menganggap remeh dan mengentengkan dosa.

Selain tiga hal di atas, dari bahasa yang dipilih oleh Imam Nawawi untuk membuka kitabnya kita dapat mengetahui dan mempelajari beberapa hal tentang kepribadian Imam Nawawi Al Bantani.

  1. Sifat Tawaddu yang dimiliki oleh Imam Nawawi.
    Kesimpulan ini dapat kita ambil dari penggalan muqoddimah kitab bahwasanya Imam Nawawi dalam menulis kitab ini hanya mengumpulkan apa- apa yang telah beliau dengarkan dan beliau pelajari dari guru-gurunya yang mulia. Semua kelebihan dalam kitab ini adalah kelebihan dari keilmuan gurunya dan atas izin Allah telah memberikan kesempatan kepada Imam Nawawi untuk bertemu dengan beliau. Sedangkan kekeliruan, kesalahan dan kekurangan dalam kitab ini adalah karena kekurangan pemahaman Imam Nawawi yang dangkal. Dari muqoddimah tersebut kita bisa tau betapa Tawaddunya seorang Imam Nawawi. Padahal dalam kenyataannya setiap Ulama besar dari Zaman beliau sampai saat ini masih mengakui betapa luas dan gamblangnya penjelasan yang Imam Nawawi berikan dalam mensyarahkan kitab Bidayatul Hidayah karangan Imam Ghozali tersebut.

أما بعد فهذا شرح بداية الهداية سمَّيته .:(مراقى العبودية):. أرجو به بركة الشيخ المصنف ودعاء طلبة العلم ممن ينتصف وليس لى في هذا الّا الجمع من كلام العلماء الاجلاء بحسب ما أُطلّعني الله عليه فإذ رايت فيه شيأ من الخلل . فمن وهم صدر من سوء فهمي فالمطلوب ممن علم ذالك أن يصلحه فانّ بضاغتي من العلم والدّين مزجاة وايماني أضعاف الايمان. لنقص اليقين مع ضيق الوقت وكثرت الاحزان فرحم الله امرأ رأى عيبا فستره والى الله الكريم أمد أكف الابتهال ان لا يجعله حجّة علي يوم ظهور الاهوال. وان ينفع به نفسي ومثلي من الجهال انه تعالى رؤف جود يعطي الوال واليه تفويد والاعتماد وهو الهادى الى سبيل الرّشاد امين

  1. Imam Nawawi terbuka dalam hal keilmuan , menerima kritik dan saran.
    Imam nawawi membuka kesempatan kepada siapa saja yang mempelajari kitab ini untuk mengkoreksi dan membenarkan apa saja yang ditemukan dalam kitab ini jika terdapat kesalahan dan kekeliruan. Sebagai seorang manusia Imam Nawawi menyadari kelemahan diri sendiri yang barangkali tidak luput dari salah dan lupa. Namun sampai saat ini kitab Maroqil Ubudiyah ini masih menjadi rujukan banyak ilmuan dan pelajar. Ini membuktikan kematangan ilmu Imam Nawawi Al Bantani.

Jika kita membaca muqoddimah kitab yang diterbitkan oleh Dar Al Kutub Al Islaamiyyah kita dapat menemukan penjelasan bahwasanya Imam Nawawi Al Bantani adalah seorang yang lemah lembut dan mencintai fakir miskin. Kecintaannya kepada fakir miskin dan rasa sayangnya sama seperti rasa sayangnya kepada para Ulama.

Semoga dengan mempelajari kitab Maroqil Ubudiyah ini kita juga dapat menteladani pribadi Imam Nawawi dan semoga keberkahan untuk kita semua yang mempelajari dan mempraktekkannya.

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *