Latifah (Kelembutan) Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 106-108, 1- 6 (Pertemuan ke- 39)

Pertemuan ke- 39

لطائف التفسير, ١−٦
Latifah (kelembutan) tafsir surat Al-Baqarah ayat 106-108, 1- 6

Pengajian IPNU-IPPNU PAC KECAMATAN TARUMAJAYA
Kitab Rawa’i Al Bayan Tafsir Ayat Al Ahkam Min Al-Qur’an
Minggu, 29 November 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

اللطيفة الأولى
Latifah yang pertama

Allah Ta’ala menyebutkan persoalan nasakh di dalam Al-Qur’an serta menjelaskan hikmah nasakh, yaitu mendatangkan ayat yang lebih baik bagi para hamba. Kebaikan di sini dibawa kepada dua kemungkinan;
Pertama, hukum-hukum yang lebih meringankan bagi manusia.
Kedua, persoalan-persoalan dunia dan akhirat yang lebih membawa kemaslahatan bagi manusia.

Imam al-Qurthubi berkata, pendapat yang kedua lebih tepat disebabkan oleh Allah Subhanahu mendistribusikan kemaslahatan-kemaslahatan bagi manusia. Bukan kepada yang lebih meringankan menurut tabiat/watak manusia. Terkadang Allah mengganti kepada hukum yang lebih berat, seperti mengganti kewajiban puasa tanggal 10 bulan Muharram dengan puasa bulan Ramadhan. Hal tersebut untuk kebaikan bagi manusia, sebab lebih banyak dari sisi pahala serta balasannya. Maka jelas yang dimaksud dengan kebaikan, yaitu kemaslahatan bagi manusia.

اللطيفة الثانيةُ
Latifah yang kedua

Sebagian ulama mengingkari kata أَوْ نُنْسِها dibawa kepada makna النِّسْيان (melupakan), lawan dari kata الذِّكْر (ingat). Sebab ini tidak mungkin terjadi pada diri Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam yang telah dijamin oleh Allah Yang Mahabesar Kekusaan-Nya dengan secara langsung membacakan kepada Nabi sehingga tidak akan lupa. Allah berfirman dalam surat al-A’la ayat 6, سَنُقْرِئُكَ فلا تَنْسَى (Kami akan membacakan Al-Qur’an kepadamu, Muhammad, sehingga engkau tidak akan lupa). Ayat ini bertentangan dengan tafsir yang lalu yang dikatakan oleh para ahli tafsir.

Ibnu Athiyyah menjawab pengingkaran oleh sebagian ulama di atas, sesungguhnya makna melupakan di sini yang datang dari Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika Allah sendiri yang berkehendak untuk melupakannya merupakan sesuatu yang diperkenankan secara syar’i dan akal. Adapun lupa yang merupakan penyakit manusia maka Nabi terpelihara dari itu, baik sebelum wahyu disampaikan maupun setelah disampaikannya, hingga sebagian sahabat Nabi ikut menjaganya. Dari sini terdapat hadis yang menceritakan bahwa Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam menggugurkan satu ayat ketika shalat. Setelah usai shalat Nabi pun bersabada;

أَفِي الْقَوْمِ أُبَيُّ؟ قال: نعم يا رسولَ الله, قال: فَلِمَ لَمْ تَذْكُرْنِي؟ خَشِيْتُ أن تكونَ قَدْ رُفِعَتْ, فقال النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم : لمْ تُرْفَعْ ولَكِنِّي نّسِيْتُهَا

‘Apakah di antara kalian terdapat Ubay? Ubay menjawab: Ada wahai Rasululah. Rasulullah bersabda: Mengapa engkau tidak mengingatkanku. Ubay menjawab: Aku khawatir ayat tersebut telah dihapus. Nabi lalu menjawab: Ayat tersebut tidak dihilangkan, hanya saja aku lupa membacanya’

اللطيفة الثالثةُ
Latifah yang ketiga

Firman Allah Ta’ala, نأْتِ بِخيْرٍ منها أو مِثْلِها (maka Kami mendatangkan dengan yang lebih baik atau yang semisalnya). Yang dimaksud dengan ‘kebaikan’ di sini yaitu ‘keutamaan’, yakni dalam hal السُّهُوْلَة والْخِفَّة (kemudahan dan keringanan), bukan perihal ‘keutamaan’ dalam التِّلاوَة والنَّظْمِ (bacaan dan susunan redaksinya), sebab Kalamullah (firman Allah) Ta’ala tidak ada yang lebih utama antara sebagian dengan sebagian yang lainnya. Semua Kalamullah merupakan mu’jizat yang berasal dari firman Tuhan semesta alam.

Imam al-Qurthubi berkata, lafaz خَيْرٍ di sini merupakan sifat keutamaan. Maknanya;

بأَنْفَعَ لكمْ أيُّهَا النّاسُ في عَاجِلٍ إنْ كانتْ الناسخَةُ أَخَفَّ, وفي آجِلٍ إن كانتْ أَثْقَلَ, وبِمِثْلِها إنْ كان مُسْتَوِيَةً

‘maka Kami datangkan untuk kalian, wahai manusia, dengan yang lebih bermanfaat di kehidupan dunia ini, bila keadaan ayat pengganti lebih ringan. Bila keadaan ayat pengganti lebih berat maka akan membawa manfaat di kehidupan akhirat kelak. Atau nilai kemanfaatannya sepadan bila keadaan ayat pengganti sama kadarnya dari ayat yang diganti’

Maksud dari lafaz أَخْيَرَ di sini bukan bermakna ‘mengutamakan’, sebab Kalamullah antara satu dengan lainnya tidak saling melebihkan. Semisal firman Allah dalam surat Al-Qasas ayat 84, مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ خَيْرٌ مِنْهَا , dengan makna نَفْعٌ وأَجْرٌ (Barang siapa yang membawa kebaikan maka ia akan mendapatkan manfaat dan ganjaran pahala).

Berkata Abu Bakar al-Jashas, arti dari kata بِخَيْرٍ منها yaitu التَّسْهِيْل والتَّيْسِيْر (digampangkan, dimudahkan), sebagimana yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Qatadah. Tidak ada seorang ulama manapun mengartikan خَيْرٍ منها dengan makna keutamaan dari sisi bacaan. Sebab tidak bisa dikatakan bahwa sebagian ayat Al-Qur’an lebih baik dari sebagian yang lainnya dari segi bacaan dan susunan redaksinya. Semuanya merupakan mu’jizat yang merupakan Kalamullah.

Wa Allahu A’lam ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *