Pengajian Kitab Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratul ‘Ain (ke- 15)

Pengajian kitab Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratul ‘Ain (ke- 15)
Syekh Zainuddin Abdul Aziz Al-Malibari

Ranting NU Bogasari dan HMR
Sabtu, 28 November 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

سُنَنُ الْوُضُوءِ
Sunah-sunah dalam wudhu

ووِلاءٌ – بيْنَ أفعالِ وضوءِ السَّليمِ بأنْ يَشْرَعَ فى تَطْهيرِ كلِّ عُضْوٍ قبل جِفافِ ما قبله وذلك للاتِّباع وخروجًا مِن خلافِ ما أوجبهُ ويجبُ لِسَلِسٍ.

Sunah wudhu berikutnya adalah berturut-turut di antara perbuatan-perbuatan wudhu bagi orang yang normal kondisinya. Caranya dengan memulai mensucikan tiap anggota wudhunya sebelum kering anggota wudhu yang sebelumnya. Yang demikian sebab mengikuti apa yang telah dilakukan oleh Nabi, juga sebagai jalan keluar dari perbedaan ulama yang mewajibkan kepada berturut-turut. Bagi orang yang dalam kondisi tidak dapat menahan kencing di setiap waktunya (salisul baul) maka berturut-turut wajib baginya.

وتَعهُّدُ – عَقِبٍ و (مُوْقٍ) وهو طَرْفُ العَيْنِ الذى يّلِى الأَنْفَ ولَحاظٍ وهو الطَّرْفُ اﻟﺂخِرُ بِسَبابَتَىِ شِقَّيْهِما ومحلُّ ندبِ تَعَهُّدِهما إذا لم يكن فيهما رَمَصٌ يمنعُ وصولَ الْماءِ إلى محلّهِ وإلَّا فتَعَهُّدُهما واجبٌ كما فى المجموع ولا يُسنُّ غسْلُ باطنِ الْعيْنِ بل قال بعضُهمْ يُكْرَهُ للضَّرَرِ وإنما يُغْسَلُ إذا تنجّسَ لِغَظِ أمْرِ النجاسة.

Sunah berikutnya yaitu memperhatikan tumit saat membasuhnya. Sunah juga memperhatikan saluran air mata, yaitu ujung mata yang dekat dengan hidung. Berikutnya sunah untuk memperhatikan ekor mata, yaitu bagian ujung terakhir dari mata. Memperhatikannya dengan sisi dua telunjuknya. Kesunahan dalam memperhatikan saluran air mata dan ekor mata ketika di keduanya tidak terdapat kotoran mata yang dapat menghalangi masuknya air. Jika kotoran mata menghalangi masuknya air maka memperhatikannya adalah wajib, sebagaomana yang dikatakan oleh Imam Nawawi di dalam kitab al-Majmu. Tidak disunahkan membasuh bagian dalam mata. Bahkan sebagian ulama mengatakan dimakruhkan sebab ada resiko membahayakan mata. Bagian dalam mata dibasuh hanya pada saat terkena najis, sebab besarnya resiko dari najis (dengan berargumen kepada orang yang mati syahid maka najis yang selain darahnya syahid wajib dibersihkan)

واسْتِقْبالُ – القِبْلَةِ فى كل وضوئهِ (وتركُ تكلُّمٍ) فى أثناءِ وضوئهِ بلا حاجةٍ بغير ذِكْرٍ ولا يُكْرَهُ سلامٌ عليه ولا منه ولا ردُّهُ (و) تركُ (تَنْشِيْفٍ) بلا عُذْرٍ للاتباع.

Sunah wudhu berikutnya adalah menghadap kiblat pada seluruh aktifitas wudhunya. Sunah meninggalkan pembicaraan saat berwudhu tanpa ada kebutuhan. Berbeda dengan zikir maka tidak disunahkan meninggalkan pembicaraan. Tidak dimakruhkan bagi seseorang yang tidak berwudhu mengucapkan salam kepada orang yang berwudhu. Tidak dimakruhkan pula bagi orang yang berwudhu untuk mengucapkan salam atau menjawab salam. Dan disunahkan untuk meninggalkan mengeringkan bekas air wudhu dengan tanpa adanya alasan yang diperbolehkan seperti dingin, sebab mengikuti apa yang telah dilakukan oleh Nabi.

والشهادتان عَقِبَه – أى الوضوءِ بحيثُ لا يطولُ فاصلٌ عنه عُرْفًا فيقول مُستقْبِلًا للقِبلةِ رافِعًا يدَيْهِ وبَصَرُهُ إلى السماءِ ولو أعمى

Sunah wudhu berikutnya adalah membaca dua kalimat syahadat setelah berwudhu. Dengan catatan, tidak dipisah dalam waktu yang lama menurut urf (kebiasaan) dari waktu wudhunya. Kemudian ia berdoa seraya menghadap kiblat serta mengangkat kedua tangannya, sementara pandangannya tertuju ke langit, meskipun kedua matanya buta;

أشهدُ أن لا إلهَ إلا اللهُ وحده لا شريك له وأشهد إنّ محمدًا عبده ورسولُه

‘Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah yang Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya.’

لِما رَوى مسلم عن رسول الله صلى الله عليه وسلم مَنْ تَوضَّأَ فقال أشهد أن لا إله إلا الله الخ فُتِحَتْ له أبوابُ الْجنةِ الثمانية يدخل من أيِّهِا شاءَ زادَ التُّرْمذى اللهم اجْعلْنى من التوابين واجعلْنى من المُتطهِّرين ورَوى الحاكم وصحَّحه من توضّأ ثم قال سبحانَك اللهم وبحمْدِك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغْفِرُك وأتوبُ إليك كُتِبَ في رَقٍّ ثم طُبِعَ بِطابِعٍ فلم يَكْسِرْ إلى يوم القيامةِ أى لم يَتَطَرَّقْ إليه إبطالٌ كما صَحَّ حتى يَرى ثوابَه العظيمَ ثم يصلّى ويُسلّم على سيدنا محمد ويقرأُ إنا أنزلناه كذلك ثلاثا بلا رفع يدٍ

Doa setelah wudhu didasarkan kepada riwayat Imam Muslim dari Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam;

مَنْ تَوضَّأَ فقال أشهد أن لا إله إلا الله الخ فُتِحَتْ له أبوابُ الْجنةِ الثمانية يدخل من أيِّهِا شاءَ

‘Barang siapa yang berwudhu kemudian membaca, أشهدُ أن لا إلهَ إلا اللهُ وحده لا شريك له وأشهد إنّ محمدًا عبده ورسولُه , maka dibukakan teruntuknya delapan pintu-pintu surga untuk dimasukinya dari pintu mana saja yang ia ingini’

Imam at-Tirmidzi menambahkan dengan redaksi;

اللهم اجْعلْنى من التوابين واجعلْنى من المُتطهِّرين

‘Ya Allah, jadikanlah diriku termasuk orang-orang yang bertaubat dan termasuk orang-orang yang suci’

Imam al-Hakim meriwayatkan sebuah hadis dan menganggapnya shahih;

من توضّأ ثم قال سبحانَك اللهم وبحمْدِك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغْفِرُك وأتوبُ إليك كُتِبَ في رَقٍّ ثم طُبِعَ بِطابِعٍ فلم يَكْسِرْ إلى يوم القيامةِ

‘Barang siapa yang berwudhu kemudian berdoa, سبحانَك اللهم وبحمْدِك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغْفِرُك وأتوبُ إليك (Mahasuci Engkau, Ya Allah, dalam keadaan aku memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau, aku meminta ampun kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu. Maka dicatat di dalam selembar kertas kemudian dicap dengan stempel yang tidak akan rusak hingga datang hari kiamat.’ Maksudnya, tidak datang kerusakan pada kertas sebagaimana keadaan semula sehingga ia dapat melihat pahalanya yang besar.

Setelah itu ia membaca shalawat dan salam teruntuk junjungan kita, Nabi Muhamad, juga teruntuk keluarganya. Setelah itu ia membaca ayat al-Qur’an, إنّا أنْزَلْناه , dalam posisi menghadap kiblat, sebanyak tiga kali dengan tanpa mengangkat tangan.

وأما دعاءُ الأعضاء المشهورُ فلا أصلَ له يُعْتَدُّ به فلذلك حذفتُهُ تبعاً لشيخِ المذهبِ النووىِّ رضى الله عنه وقيل يُستَحبُّ أن يقول عند كل عُضْوٍ أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله لخبرٍ رواه المُسْتغْفِرِى وقال حسنٌ غريبٌ.

Adapun doa-doa bagi tiap-tiap anggota wudhu yang sudah masyhur di masyarakat maka tidak punya dasar sama sekali yang dapat dijadikan sebagai pegangan, oleh karena itu saya membuangnya, sebab ikut kepada Syekh Mazhab, yaitu Imam Nawawi Radiallahu ‘Anhu. Ada sebagian pendapat, disunahkan bagi oarang yang berwudhu untuk berdoa di setiap anggota wudhunya dengan membaca;

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله

‘Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah Yang Maha Esa, yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya’

Doa tersebut didasarkan kepada hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Mustaghfiri. Dia berkata bahwa hadis tersebut dari sisi makna bersifat hasan (di bawah hadis shahih, tidak berisi informasi bohong dan lebih dari satu sanad), dari sisi riwayat bersifat gharib (yang menyendiri seorang perawi dalam periwayatannya).

وِشُرْبُه – مِن (فضْلِ وَضُوئِه) لخبرِ إنّ فيه شِفاءً من كلِّ داءٍ يُسنُّ رَشُّ إزارِهِ به أى إِنْ تَوَهَّمَ حصولَ مُقَذَّرٍ له كما استظهره شيخنا وعليه يُحْمَلُ رَشُّه صلى الله عليه وسلم لإزارِه به

Sunah wudhu berikutnya adalah meminum sisa air yang dibuat wudhu, karena hadis Nabi, إنّ فيه شِفاءً من كلِّ داءٍ (Sesungguhnya pada air sisa wudhu menjadi obat dari segala penyakit). Disunahkan untuk memercikkan sisa air wudhu kepada sarung yang dikenakannya bila diduga adanya sesuatu yang dianggap kotor oleh sebab percikan air yang beterbangan. Sebagaimana yang telah dianggap jelas oleh Syaikhina, Ibnu Hajar. Berdasarkan dugaan adanya sesuatu yang dianggap kotor itulah kemudian dibawa perbuatan Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam yang memercikkan gamis beliau dengan air sisa basuhan.

وركعتان بعد الوضوء أى بحيثُ تُنْسبانِ إليه عُرْفًا فتفوتان بطولِ الفصلِ عُرْفًا غلى الأوجهِ وعند بعضهم بالإعراض وبعضِهم بِجَفافِ الأعضاء وقيل بالحَدَثِ

Sunah wudhu selanjutnya adalah shalat sunah dua rakaat setelah wudhu. Dengan catatan, apabila secara urf (kebiasaan), dua rakaat shalat tersebut dianggap sebagai shalat untuk wudhu. Maka dua rakaat setelah wudhu tidak dianggap sunah oleh pendapat yang diunggulkan apabila secara urf dianggap lama keterpisahannya antara wudhu dan dua rakaat shalat wudhu. Menurut sebagian ulama, dua rakaat setelah wudhu tidak dianggap sunah apabila orang yang berwudhu telah berpaling, tidak ingin untuk melaksanakan dua rakaat shalat untuk wudhu. Sebagian ulama lainnya berpendapat dengan sebab keringnya anggota wudhu. Sebagian ulama yang lainnya berpendapat dengan sebab hadas.

ويقْرأُ ندْبًا فى أَوَّلَىِ ركعتيه بعد الفاتحة ولو أنهم إذ ظَلموا أنفسَهم إلى رحيما وفى الثانية ومن يعمل سُوءً أو يَظْلِمْ نفسَه إلى رحيما

Sunah untuk membaca di awal dua rakaat shalat wudhu setelah al-Fatihah yaitu;

وَلَوْ أَنهمْ إِذْظَلَمُوْا أَنْفُسَهمْ جاءُوكَ فاسْتَغْفَرُوْا اللهَ واسْتغْفرَ لهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللهَ تَوَّابًا رَّحِيْمًا

‘Dan sungguh, sekiranya mereka setelah mendzalimi dirinya datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampunan kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampunan teruntuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat, Maha Penyayang’ (QS. An-Nisa: 74)

Bacaan pada rakaat kedua setelah membaca surat al-Fatihah adalah;

وَمنْ يعملْ سُوءًا اَوْ يَظْلِمْ نفسَهُ ثم يَسْتَغْفِرِ اللهَ يَجِدِ اللهَ غَفورًا رحيْمًا

‘Dan barangsiapa berbuat kejahatan dan menganiaya dirinya kemudian dia memohon ampunan kepada Allah, niscaya dia akan mendapatkan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang’ (QS. An-Nisa: 110)

Wa Allahu A’lam bi Shawab ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *