Pertemuan ke – 32, Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah

Pertemuan ke – 32

Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah

Syekh Abi Abdullah Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abbad An Nafazi Ar Randi

Ranting NU Bogasari dan HMR

Selasa, 1 Desember  2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

مِنْ علاماتِ النَّجْحِ في النهاياتِ الرجوعُ إلى الله تعالى في البدايات

‘Termasuk tanda-tanda keberhasilan di akhir perjalanan yaitu kembali kepada Allah Ta’ala di saat perjalanannya’

Bagi pribadi yang ingin menuju kepada jalan Allah mempunyai dua kondisi batin, yaitu kondisi awal dan kondisi akhir. Kondisi pertama adalah kondisi batin saat perjalanan menuju kepada Allah. Kondisi kedua yaitu kondisi batin saat sampai kepada Allah Ta’ala. Barang siapa yang memperbaiki kondisi batin saat perjalanannya dengan kembali kepada Allah Ta’ala, tawakkal, dan meminta pertolngan hanya kepada-Nya, sebagaimana yang telah kami sebutkan, maka ia akan beruntung serta sukses saat perjalanannya. Dia akan sampai kepada Allah Ta’ala. Dia akan aman di saat kembali dan berhenti.

Sebagian masyayikh berkata;

مَا رَجعَ مَنْ رجع إلا مِن الطريقِ, ولو وَصلوا ما رجعوا

‘Tidak kembali bagi seseorang yang ingin kembali terkecuali dari satu titik perjalanannya. Seandainya mereka telah sampai maka mereka tidak akan kembali’

Barang siapa yang tidak memperbaiki saat perjalanannya menuju kepada Allah Ta’ala dari apa yang telah kami sebutkan, yaitu menggantungkan dirinya hanya kepada Allah, lari menuju Allah dengan meninggalkan dirinya beserta makhluk. Maka ia akan terhenti lalu kembali menuju kepada Allah dari kondisi apapun.

Berkata sebagian ulama;

مَنْ ظنَّ أنه يَصِلُ إلى الله تعالى بغيرِ الله قَطَعَ به, ومَنِ استعانَ على عبادة الله تعالى بِنفسه, وُكِّلَ إلى نفسه

‘Barang siapa yang menduga bahwa dirinya telah sampai kepada Allah Ta’ala dengan tanpa bantuan Allah maka ia telah terputus. Barang siapa yang meminta pertolongan untuk beribadah kepada Allah Ta’ala kepada dirinya sendiri maka pertolongan diwakilkan kepada dirinya’

Wajib bagi seorang hamba yang melakukan perjalanan menuju kepada Allah untuk berpegang teguh atas setiap persoalannya untuk meminta pertolongan hanya kepada Allah Ta’ala di jalan yang dilaluinya. Dia tidak melihat daya dan kekuatan pada dirinya atas amal perbuatannya, baik banyak maupun sedikit. Inilah dasar dari suluk (menempuh jalan menuju Allah) yang mesti harus diikuti bagi yang menjalaninya.

Wa Allahu Ta’ala Waliyyu at-Taufik

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *