Pengajian Kitab Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratul ‘Ain (ke- 15)

Pengajian kitab Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratul ‘Ain (ke- 15)
Syekh Zainuddin Abdul Aziz Al-Malibari

Ranting NU Bogasari dan HMR
Sabtu, 6 Desember 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

فائدةٌ – يحرُمُ التطهُّرُ بالمُسَبَّلِ للشُّرْبِ وكذا بِماءٍ جُهِلَ حالُه على الأَوْجَهِ وكذا حَمْلُ شيئٍ من المُسبَّلِ إلى غيرِ مَحلّهِ

(Satu faedah). Haram bersuci dengan menggunakan air yang diperuntukkan untuk minum. Demikian pula air yang tidak diketahui penggunaannya, apakah diperuntukkan untuk minum atau untuk bersuci, itu menurut pendapat yang lebih diunggulkan. Haram pula memindahkan air yang diperuntukkan untuk bersuci atau untuk minum ke tempat lain.

ولْيَقْتَصِر -أى المُتوضِّئُ (حَتْمًا) أى وُجوبًا (على) غَسْلٍ أو مسحٍ (واجِبٍ) أى فلا يَجوزُ تثليثٌ ولا إتْيانُ سَائرِ السُّنَنِ (لِضَيْقِ وقْتٍ)عن إدراكِ الصلاةِ كلِّها فيه كما صرّحَ به البَغَوِىُّ وغيرُهُ وتبِعه المُتأَخِّرون لكنْ أَفْتَى فى فَواتِ الصلاةِ لو أَكْمَلَ سُنَنَها بأنْ يأْتِيَها ولو لمْ يُدْرِكْ ركعةً وقدْ يُفْرَقُ بأنه ثَمَّ اشتغلَ بالْمَقْصُودِ فكانَ كما لو مَدَّ فى القراءةِ

Wajib bagi orang yang berwudhu untuk hanya membatasi kepada basuhan atau mengusap yang diwajibkan. Maka tidak diperbolehkan mentiga kalikan, dan tidak boleh pula mendatangkan semua sunah-sunah dalam berwudhu. Hal tersebut disebabkan oleh sempitnya waktu untuk dapat melakukan shalat secara sempurna. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Imam Al-Baghawi dan yang lainnya serta diikuti pula oleh ulama kontemporer. Namun Imam Baghawi berfatwa tentang tidak diharamkan shalat yang tertinggal dari waktunya disebabkan mengerjakan seluruh sunah-sunah dalam shalat, meskipun satu rakaat sahalat tidak didapati di waktunya. Dibedakan pada persoalan mengerjakan kesunahan wudhu saat waktu shalat telah sempit dan mengerjakan sunah-sunah dalam shalat pada waktu yang sempit pula. Yang pertama tidak bisa ditolerir oleh sebab tidak sibuk dengan yang ingin dituju, yaitu shalat. Yang kedua ditolerir oleh sebab sibuk dengan yang ingin dituju, yaitu shalat.

أو قِلَّةِ ماءٍ- بحيثُ لا يَكْفِى إلا الفرضَ فلو كان معه ماءٌ لا يكفيه لِتَتِمّةِ طُهْرهِ إنْ ثلَّثَ أو أتَى السننَ أو احتاج إلى الفاضِلِ لِعَطَشِ مُحْتَرَمٍ حرُم استعمالُهُ فى شيئٍ من السنن وكذا يقال فى الغُسْل

Atau disebabkan oleh sedikitnya air sehingga tidak dapat mencukupi kecuali teruntuk basuhan atau usapan yang wajib. Seandainya seseorang mempunyai air yang tidak dapat mencukupi untuk bersuci bila digunakan untuk mentiga kalikan atau mendatangkan sunah-sunah dalam wudhu, atau sisa air bisa digunakan untuk mentiga kalikan dan mendatangkan sunah-sunah dalam wudhu tapi dibutuhkan oleh hewan yang pantas dihormati, maka mempergunakan air untuk sunah-sunah dalam wudhu diharamkan. Demikian pula ketika mandi hadas besar, hendaknya membatasi pada basuhan yang wajib ketika waktu telah sempit atau air yang sedikit.

وندْبًا – على الواجب بترْكِ السنن (لِإدراك جماعةٍ) لم يُرْجَ غَيْرُها نعم ما قيل بوجوبِه كالدَّلْكِ ينبغى تقديمُه عليها نظيرَما مرَّ مِنْ ندْبِ تقديمِ الفائتِ بعذرٍ على الحاضرة وإنْ فاتَتِ الجماعةُ.

Sunah hukumnya untuk hanya membatasi membasuh dan mengusap yang wajib dalam wudhu dengan cara meninggalkan sunah-sunah dalam wudhu. Kesunahan membatasi disebabkan untuk mendapati berjamaah dalam shalat, tidak untuk lainnya. Namun, apabila ada pendapat yang mengatakan wajib, seperti menggosok ke anggota wudhu yang dibasuh, maka selayaknya menggosok didahulukan dibanding berjamaah. Sebagai perbandingannya adalah kesunahan mendahulukan bagi shalat yang tertinggal disebabkan adanya alasan syar’i atas shalat yang dilakukan dalam waktunya, meskipun meninggalkan berjamaah.

تَتِمَّةٌ – يتيممُ عن الحدَثَيْنِ لِفقْدِ ماءٍ أو خوفٍ محذورٍ من استعمالهِ بترابٍ طهورٍ له غُبارٌ وأركانُهُ نِيَّةُ استباحةِ الصلاةِ المفروضةِ مقرونةً بِنقْلِ الترابِ ومسحُ وجههِ ثم يديه ولو تيقّنَ ماءً آخِرَ الوقْتِ فانتِظارُهُ أفضلُ وإلا فتعجيلُ تَيَمُّمٍ وإذا امْتُنِعَ استعمالُهُ فى عُضْوٍ وجب تَيَمُّمٌ وغسْلُ صحيحٍ ومسحُ كلِّ الساتِرِ الضارِّ نزْعُهُ بماءٍ ولا ترتيبَ بينهما لِجُنُبٍ أو عُضْوَيْنِ فَتَيَمُّمَانِ ولا يُصَلِّى به إلا فرضاً واحداً ولو نذْرًا وصحَّ جنائزُ مع فرضٍ

(Pelengkap). Seseorang bertayammum untuk menghilangkan hadas kecil maupun hadas besar yang disebabkan oleh ketiadaan air atau karena khawatir terhadap sesuatu yang mesti diwaspadai. Syarat tayammum yaitu dengan tanah yang suci dan berdebu. Rukun-rukun tayammum yaitu niat,نَوَيْتُ اِسْتِبَاحَةَ الصَّلَاةِ الْمَفْرُوْضَةِ (Saya niat untuk dapat diperbolehkannya shalat yang wajib), dibersamakan dengan memindahkan debu ke bagian anggota tayammum. Rukun tayammum berikutnya adalah menyampaikan debu ke wajah kemudian kedua tangan. Seandainya seseorang yakin adanya air di akhir waktu shalat maka menunggu adanya air itu lebih utama. Jika tidak yakin, maka menyegerakan tayammum lebih utama. Jika dicegah untuk menggunakan air pada satu anggota wudhu maka wajib untuk bertayammum dan membasuh anggota wudhu yang sehat serta mengusap dengan air seluruh pelindung/perban yang akan menimbulkan bahaya apabila dicabut. Tidak ada kewajiban untuk tartib antara tayammum dan membasuh anggota yang sehat bagi yang junub. Atau jika ada dua anggota wudhu yang tidak dapat menggunakan air maka wajib dua tayammum. Satu tayammum dipergunakan hanya untuk satu shalat fardhu, meskipun shalat yang dinazarkan. Satu tayammum diperbolehkan untuk shalat janazah dan satu shalat fardhu.

Wa Allahu A’lam bi Shawab ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *