Pertemuan Ke-6 Pengajian Bulanan Masjid Jamie Assalam Wahana Pondok Ungu

Pertemuan ke-6
Pengajian Bulanan Masjid Jamie Assalam Wahana Pondok Ungu, Kec. Babelan, Kab. Bekasi.
Minggu, 6 Desember 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

بَابُ الثُّنائِىِّ
Bab kedua

و المقالة الرابعة عشرة (عن بعض الحكماء) أَطِبَّاءُ القلوب وهُمْ الأولياءُ (مَن توهّمَ أنّ له ولِيًّا أوْلى من الله قَلَّتْ معرفتُهُ بالله) والمعنى مَنْ ظَنَّ أن له ناصراً أقربَ من الله وأكثرَ نَصْرةً منه فانه لم يعرف اللهَ تعالى (ومن توَهَّمَ أنّ له عدُوًّا أعدَى من نفسه قلّتْ معرفته بنفسه) أى ومن ظَنّ أن له عدوًّا أقوى من نفسه الأَمّارةِ واللوَّامة فانه لم يعرف نفسه.

Nasihat keempat belas. (Dari sebagian ahli hikmah), yaitu mereka yang berperan sebagai para dokter hati, mereka adalah para aulia (kekasih Allah); (Barang siapa yang memiliki keyakinan bahwa ia memiliki penolong yang lebih baik dari Allah maka sesungguhnya ia tidak mengenal kepada Allah). Maknanya adalah, barang siapa yang menduga bahwa ia memiliki penolong yang lebih dekat ketimbang Allah dan lebih banyak pertolongannya daripada Allah maka sesungguhnya ia tidak mengenal Allah Ta’ala. (Barang siapa yang mempunya keyakinan bahwa dia memiliki musuh yang lebih kuat daripada nafsunya maka sesungguhnya dia tidak mengenal kepada dirinya sendiri). Maknanya, barang siapa yang menduga bahwa ia memiliki musuh yang lebih kuat dibandingkan dengan nafsu ammarahnya (nafsu yang menjadi sumber keburukan seperti sifat sombong, tamak, hasud, dan lainnya) dan nafsu lawwamahnya (nafsu yang menjadi sumber penyesalan disebabkan oleh keinginan), maka sesungguhnya dia tidak menganal kepada dirinya sendiri.

والمقالة الخامسة عشرة (عن أبى بكرٍ الصديق رضى الله عنه فى قوله تعالى – ظَهَرَ الْفسادُ فى البرِّ والْبَحْرِ- قال) أى أبو بكرٍ فى تفسير ذلك (البَرُّ هو اللسانُ والبحر هو القلْبُ فاذا فسد اللسان) بِالسَّبِّ مَثلاً (بَكَتْ عليه النفوسُ) أى الأشخاصُ من بنى آدم (وإذا فسد القلبُ) بالرياء مثلا (بكتْ عليه الملائكةُ) قيل الحكمةُ فى أن اللسانَ واحد تنبيهٌ للعبد فى أنه لا ينبغى أن يتكلم الا فيما يُهِمُّه وفى خيرٍ. وقيل لأن اللسان الذّاكرَ بكلِّ لُغاتٍ كان ذِكْرُهُ للمذكور الواحدِ وهو الله تعالى وكذلك القلبُ بخلاف نحو العينِ والأذنِ فانه يتعدد, قيل لأن الحاجة الى السمع والبَصَرِ أكثرُ من الحاجة الى الكلام اھ وإنما شُبِّهَ القلبُ بالبحر لشدة عَمْقِه واتِّساعِهِ اھ.

Nasihat kelima belas. (Dari Abu Bakar as-Shiddiq Radiallahu ‘Anhu, terkait dengan firman Allah Ta’ala dalam surat Ar-Rum ayat 41 – Telah tampak kerusakan di darat dan laut – ). Abu Bakar menafsirkan ayat tersebut dengan berkata; (Darat diumpakan sebagai lisan. Sedangkan lautan adalah hati. Apabila rusak lisan), dengan seumpama mencaci (maka menangis jiwa-jiwa), yaitu manusia yang merupakan keturunan dari Adam Alaihissalam. (Apabila rusak hati), disebabkan oleh sumpama riya (maka menangis para malaikat). Ada yang berpendapat, hikmah mengapa diberikan satu lidah yaitu sebagai peringatan kepada manusia bahwa sesungguhnya tidak layak bagi seorang hamba untuk berbicara kecuali tentang sesuatu yang dianggap penting dan tentang kebaikan. Ada juga yang berpendapat, bahwa sesungguhnya lisan yang berzikir dengan berbagai macam bahasa, semuanya berzikir hanya kepada satu yaitu Allah Ta’ala. Demikian juga hati. Berbeda dengan seumpama mata dan telinga, keduanya berbilangan. Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa kebutuhan kepada pendengaran dan penglihatan lebih besar ketimbang kebutuhan berbicara. Hati disepadankan dengan lautan oleh sebab kedalaman dan keluasan keduanya yang tidak terhingga.

والمقالة السادسة عشرة (قيل إن الشهوةَ تصير الملوكَ عبيدا) فان منْ أحبَّ شيئا فهو عبده (والصبر يصير العبيدَ مُلوكاً) لأنّ العبدَ بِصبْره يَنال ما يريد (ألا ترى) أى ألا يصل علمُك (إلى) قِصَّةِ سيدِنا الكريمِ ابن الكريم ابن الكريم (يوسف) الصِّدِّيقِ ابن يعقوب الصَّبور ابن اسحاق الحليمِ ابن ابراهيم الخليل الاوّاه عليهم السلام (وزُلَيْخا) فانها أحَبَّتْ سيدَنا يوسفَ نِهايةَ الحُبّ وهو يَصْبِرُ على مَكْرها وأَذِيَّتِها.

Nasihat keenam belas. (Dikatakan bahwa sesungguhnya syahwat dapat menjadikan raja sebagai hamba sahaya). Sesungguhnya seseorang yang mencintai sesuatu maka ia telah menjadi budaknya. (Kesabaran dapat menjadikan hamba sebagai raja). Sebab seorang hamba dengan kesabarannya dapat memperoleh apa yang diinginkannya. (Tidakkah engkau melihat), tidakkah pengetahuanmu sampai (menuju) kepada kisah junjungan kita yang mulia, putra dari orang yang mulia, putra dari putranya orang yang mulia, yaitu (Yusuf), pribadi yang banyak menyukai kebenaran, putra dari Ya’kub yang penuh dengan kesabaran, putra dari Ishak yang sangat murah hati, putra dari Ibrahim, kekasih Allah yang banyak berdoa, Alaihimussalam. (dan Dzulaikha). Sesungguhnya Dzulaikha sangat mencintai junjungan kita Yusuf, dengan cinta yang sangat mendalam. Namun Yusuf sabar dengan tipu daya serta penderitaan yang disebabkan oleh Dzulaikha.

والمقالة السابعة عشرة (قيل طُوبى) أى الخيرُ الكثيرُ (لمن كان عَقلُهُ أميرا) بأن يَقْتدِىَ بمرادِ عقلهِ الكامل (وهَواه) أى مَيَلَانُ نَفْسهِ إلى ما لا تَشْتهيهِ من غير داعية الشرع (أسيرًا) أى مَمنوعا مِن ذلك (وويْلٌ) أى هلاكٌ شديدٌ (لمن كان هواه أميرًا) بأنْ أرسلَها الى مُشْتَهياتها (وعقلُه أسيرًا) أى ممنوعا من نحو التفكر فى نعم الله تعالى وفى عَظَمَتِه تعالى.

Nasihat ketujuh belas. (Dikatakan, keberuntungan), maksudnya kebaikan yang banyak (bagi seseorang yang menjadikan akalnya sebagai pemimpin), dengan cara mengikuti keinginan akal sehatnya. (Sedangkan keinginannya), maksudnya kecenderungan dirinya kepada sesuatu yang tidak diinginkannya dari yang bukan motif syar’i (dijadikan sebagai tawanan), maksudnya tertahan dari keinginannya tersebut. (Celaka), maksudnya kehancuran yang dahsyat (bagi seseorang yang menjadikan keinginannya sebagai pemimpin) dengan dibiarkan untuk mendapatkan apa-apa yang diinginkannya. (Sedangkan akalnya menjadi tawanan), maksudnya dicegah untuk seumpama berfikir atas nikmat-nikmat Allah serta keagungan Allah Ta’ala.

والمقالة الثامنةَ عشرةَ (قيل مَنْ ترك الذنوبَ رقَّ قلبُه) فيقبل النصيحة ويخشع لها (ومن ترك الحرامَ) فى المطْعوم والملبوس وغيرهما (وأَكَل الحلالَ صفَتْ فِكرتُه) على مصنوعات الله تعالى الدالة على إحياء الله تعالى الخَلْقَ بعد الموت وعلى وحدَتِه تعالى وقُدْرته وعلمه. وذلك بأن تأمَّل بِفِكْره وتدبَّر بعقله أن الله خلقه من نُطفةٍ فى الرحم فجعلها عَلَقةً ثم مُضْغَةً ثم خلق منها لحما وعظْما وعُرُوقًا وأعْصابًا وشَقَّ لها سمعا وبصرا وأعضاءً ثم سهَّل الخروجَ للجنين من بَطْن أمه وألهمه ارتضاعَ الالثَّدْىِ وجعله فى أوّل الأمرِ بلا أسنانٍ ثم أنبتَ له الأسنانَ ثم أسقطها وأزالها عند سبع سنين ثم أعادها مرة أخرى وجعل الله تعالى أحوالَ العبد متغيرة مِن صغرٍ الى كِبَرٍ ومن شباب الى هَرَمٍ ومن صحةٍ إلى سَقَمٍ وجعل العبد كل يومٍ ينام ويستيقظ وكذلك شُعوره وأوظفاره كلما سقط منها رجع إلى ما كان وكذلك الليل والنهارُ يتناوبان كلما ذهب أحدُهما جاء الأخر وكذلك الشمس والقمر والنجوم والسحاب والمطر كلُّها تجئ وتذهب وكذلك القمر ينمحق كلَّ شهرٍ ثم يتكامل ثم ينمحق وكذلك الكسوفُ للشمس والقمر حيث يذهب الضَّوءُ منها ثم يعود وكذلك الأرضُ تكون يابِسةً ثم يُنْبِت الله فيها النباتَ ثم يذهب منها فتعود يابسةً ثم تُنبت مرة بعد أخرى فالذى قدر على ذلك كلِّه قادرٌ على احياء الموتى بعد فنائهم فى الأرض فعلى العبد أن يُكْثِر الفكرَ فى ذلك حتى يقوى ايمانُه بالبعث بعد الموت ويعلم أن الله يبعثه ويُجازيه بأعماله فعلى قدر قوة ايمانه بذلك يجتهد فى الطاعات واجتنابِ المُخالَفات للشرع.

Nasihat kedelapan belas. (Dikatakan, barang siapa yang meninggalkan dosa-dosanya maka akan terasa lembut hatinya). Dia akan menerima serta tunduk terhadap nasihat. (Barang siapa meninggalkan barang haram), baik makanan, minuman dan yang lainnya. (Kemudian dia memakan barang yang halal maka akan berdampak jernih kepada pemikirannya) terhadap ciptaan-ciptaan Allah yang menunjukkan bahwa Allah Ta’ala akan menghidupkan makhluk setelah kematiannya, bahwa Allah Maha Esa, Maha Mampu, lagi Maha Mengetahui. Hal tersebut seiring dengan perenungan melalui pemikiran dan akalnya bahwa Allah yang telah menciptakan makhluk dari air mani di dalam rahim, lalu air mani tersebut dijadikan sesuatu yang menempel, setelah itu menjadi segumpal daging, kemudian dari segumpal daging tersebut tercipta daging, tulang, pembuluh darah serta urat syaraf. Tidak sampai di situ, ditambahkan pula telinga, mata dan anggota tubuh lainnya. Allah permudah janin untuk keluar dari rahim seorang ibu. Allah bimbing cabang bayi untuk dapat menyusu di puting sang bunda. Dijadikan diawal keadaannya tanpa gigi, kemudian diciptakanlah gigi teruntuknya. Sesaat kemudian gigi-gigi tersebut Allah gugurkan, dilenyapkan di usia 70 tahun. Allah kembalikan kepada keadaan yang lain. Allah Ta’ala jadikan keadaan hamba berubah dari usia dini hingga lanjut usia, dari masa muda hingga tua renta, dari sehat hingga sakit. Allah jadikan hari-hari teruntuk hamba sebagai tempat tidur dan terjaga. Demikian pula rambut, kuku akan hilang kembali kepada keadaan semula. Siang dan malam silih berganti. Ketika hilang salah satunya kemudian datang yang lainnya. Demikian juga matahari, rembulan, bintang, awan, hujan, semuanya datang untuk kemudian pergi. Rembulan lenyap pada satu bulan untuk kemudian sempurna pada bulan berikutnya lalu kembali lenyap di bulan selanjutnya. Demikian pula terjadinya gerhana matahari dan bulan, akan hilang cahaya dari keduanya untuk sesaat kemudian kembali lagi bersinar. Bumipun demikian, ada saat dia kering kemudian Allah tumbuhkan berbagai macam tumbuhan di dalamnya, sesaat kemudian tumbuhan-tumbuhan tersebut telah lenyap dari muka bumi. Kembali bumi kering kemudian Allah tumbuhkan kembali berbagai macam tumbuhan untuk kesekian kalinya. Maka Dzat Yang Maha Mampu untuk melakukan itu semua, sangat mampu pula untuk menghidupkan orang-orang yang telah mati, setelah ketiadaan mereka di muka bumi. Wajib bagi seorang hamba untuk selalu berfikir tentang itu semua hingga menjadi kuat keyakinannya bahwa ada hari kebangkitan setelah kematian. Meyakini bahwa Allah akan membangkitkan dari alam kuburnya untuk menerima balasan setiap amal perbuatannya selama hidup di dunia. Dengan kuatnya keyakinannya tersebut maka ia akan bersungguh-sungguh untuk melakukan apa yang diperintah oleh Allah dan menjauhi setiap larangan-Nya.

Wa Allahu A’lam …

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *