Hukum-Hukum Syar’i Yang Terdapat Dalam Surat Al-Baqarah Ayat 106-108

Pertemuan ke- 41

الْأحْكامُ الشَّرْعِيَّةُ
Hukum-hukum Syar’i yang terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 106-108.

Pengajian IPNU-IPPNU PAC KECAMATAN TARUMAJAYA
Kitab Rawa’i Al Bayan Tafsir Ayat Al Ahkam Min Al-Qur’an
Minggu, 13 Desember 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

الْحُكْمُ الْأَوَّلُ
Hukum yang pertama

Imam Fakhruddin Ar-Razi (1149-1210 M), berkata, “Nasakh menurut pendapat kami diperbolehkan secara akal dan dapat terjadi secara pendengaran. Berbeda menurut pendapat orang-orang Yahudi. Sebagain dari mereka mengingkari nasakh secara akal. Sebagian dari mereka memperbolehkan terjadinya nasakh secara akal. Namun menurut mereka, nasakh tidak dapat terjadi secara pendengaran. Sebagian dari kaum muslimin mengingkari adanya nasakh”.

Mayoritas ulama muslim berargumen atas kebolehan dan dapat terjadinya nasakh, yaitu bahwa dalil-dalil (argumentasi teologis) menunjukkan atas kenabian pada diri Muhammad Shallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kenabian Muhammad tidak mungkin dapat terjadi kecuali bersamaan dengan ungkapan telah menasakh syariat nabi sebelumnya. Maka wajib dipastikan itu dengan cara menasakh.

Bekata Imam Al-Jashas (Abu Bakar Ahmad Ibn Ali Al-Razi), di dalam tafsirnya, Ahkam Al-Qur’an, “Sebagian ulama kontemporer yang tidak termasuk ahli fiqih menyangka bahwa tidak ada nasakh pada syariat nabi kita Muhammad Shallahu ‘Alaihi wa Sallam. Semua persoalan nasakh yang disebutkan pada syariat nabi kita merupakan persoalan nasakh syariat-syariat para nabi yang terdahulu, seperti melakukan ibadah khusus pada hari Sabtu, kebolehan shalat menghadap arah timur atau barat. Mereka berkata, sesungguhnya nabi kita ‘Alaihissalam adalah akhir para nabi. Syariatnya abadi dan kekal hingga akhir masa. Sungguh, telah jauh orang yang berpendapat seperti ini dari petunjuk Allah. Sebab tidak ada seorangpun yang berpendapat seperti itu sebelumnya. Bahkan umat terdahulu dan umat yang datang kemudian diikat melalui agama Allah dan syariat-Nya. Banyak syariat-syariat Allah yang telah dinasakh. Yang demikian sampai kepada kita dalam bentuk riwayat yang tidak mereka ragukan. Mereka tidak memperbolehkan adanya tafsiran lain. Sungguh, lelaki ini (Abu Muslim al-Ishfahani) telah melakukan perbuatan yang keluar dari pendapat-pendapat umat terhadap ayat-ayat yang dinasakh dan yang menasakh serta hukum-hukumnya dengan menyimpang dari makna yang sebenarnya. Dugaan kuatku, apa yang telah dilakukannya disebabkan oleh sedikit ilmunya. Pendapatnya hanya sebatas menuqil untuk kepentingannya itu dan mengemukakan pendapatnya tanpa memahami apa yang telah diungkapkan oleh ulama salaf lalu dinuqil oleh umat ..”.

Argumentasi Abu Muskim al-Isfahani (868-934 M);

  1. Abu Muslim berargumen bahwasanya Allah Ta’ala menyipati kitab-Nya yang agung dengan ungkapan, لَا يَأْتِيْهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ (Tidak datang kebatilan terhadap Al-Qur’an baik dari depan maupun dari belakang –masa lalu dan yang akan datang- ). Seandainya diprbolehkan nasakh maka sungguh datang kebatilan terhadap Al-Qur’an.
  2. Sebagaimana menafsiri Abu Muslim kepada ayat, مَا نَنْسَخْ مِنْ آيَةٍ , menurut pendapatnya, maksud ayat tersebut yaitu menasakh syariat-syariat yang terdapat dalam kitab-kitab sebelumnya, yaitu Taurat dan Injil. Atau maksud menghapus di sini adalah memindahkan dari Al-Lauhul Mahfudz ke seluruh kitab-kitab.
  3. Sesungguhnya ayat yang terdahulu tidak menunjukkan kepada terjadinya nasakh. Bahkan jika memang terjadi nasakh niscaya terjadi kepada sesuatu yang lebih baik.

Jawaban sanggahan dari argumentasi yang diajukan oleh Abu Muslim. Yang pertama, bahwa maksudnya yaitu, kitab ini (Al Qur’an) tidak ada perubahan dan pergantian di dalamnya, baik ditambah maupun dikurangi. Tidak terdapat di dalamnya pertentangan ataupun perbedaan. Allah berfirman dalam surat An-Nisa ayat 82;

وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللهِ لَوَجَدُوْا فِيْهِ اِخْتِلَافًا كَبِيْرًا

‘Seandainya Al-Qur’an datang dari selain Allah maka mereka akan menemukan di dalamnya banyaknya pertentangan’

Jawaban yang kedua dan ketiga. Penafsiran yang diajukan oleh Abu Muslim merupakan tafsir yang lemah yang tidak memiliki bangunan argumentasi yang kuat, juga bertentangan dengan kenyataan. Banyak hukum-hukum syar’i yang dinasakh melalui perbuatan, seperti menasakh arah kiblat, menasakh bilangan iddah wanita yang ditinggal mati suaminya dan persoalan lainnya yang akan kami ikutkan sebagai bahan kajian pilihan nanti ..

Wa Allahu A’lam ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *