Pertemuan ke – 34, Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah

Pertemuan ke – 34
Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah
Syekh Abi Abdullah Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abbad An Nafazi Ar Randi

Ranting NU Bogasari dan HMR
Selasa, 15 Desember 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

مَا اسْتَوْدَعَ فِي غَيْبِ السّرائِرِ ظَهَرَ في شَهَادَةِ الظَّوَاهِرِ

‘Sesuatu yang tersimpan dalam hati yang tersembunyi maka akan tampak pada realitas yang terlihat’

Aku katakan, bahwa masalah ini yang juga disebutkan oleh Abu Thalib al-Makki Radiallahu ‘Anhu termasuk persoalan besar atas kebenaran orang-orang yang benar dan kebohongan orang-orang yang berbohong serta paling jelasnya dalil-dalil. Ketika tujuan kami tentang peringatan ini merupakan kesempatan untuk menyebutkan faedah-faedah yang luar biasa serta keinginan untuk menggambarkan tujuan-tujuan yang sulit sebab keterasingan agama di zaman yang hina ini dan menguasainya orang-orang terkemuka yang bodoh yang dianggap memiliki ilmu dan keutamaan, maka kami menganggap baik untuk mendatangkan kalimat-kalimat ini dengan cara mencontohkan sebuah perumpamaan dan mencukupkan kepada awal minum dengan meninggalkan minum yang kedua, agar murid yang sedang melakukan perjalanan beramal sesuai dengan yang dituntut serta mengikuti nasehat Tuhannya terkait agama dan hatinya kepada jalan yang paling jelas. Bawalah kepada jalan ini seluruh ungkapan yang tidak jelas kesesuaiannya untukmu dan yang tidak sempurna kesesuaiannya menurut pandanganmu. Agar engkau selamat dengan sebab itu dari berbagai tujuan dan tinggi keinginanmu untuk meninggalkan sesuatu yang sangat diingini oleh orang-orang yang memiliki hati yang sakit. Mudah-mudahan Allah menjadikan keadaan kita sehat dengan karunia-Nya dan kebaikan-Nya.

Sugguh jauh perbedaan antara seseorang yang mencari dalil dengan Allah sendiri dan seseorang yang mencari dalil untuk menuju kepada Allah. Orang yang berdalil dengan Allah akan mengetahui Allah yang Maha Benar. Maka ia akan menetapkan persoalan dari wujud asalnya. Adapun seseorang yang mencari dalil untuk menuju kepada Allah maka termasuk ketiadaan sampai kepada-Nya. Jika tidak, sejak kapan Allah bersembunyi harus dicarikan dalil atas keberadaan-Nya? Sejak kapan Dia jauh sehingga harus ada atsar (jejak-jejak) yang bisa sampai kepada-Nya?

Manusia, diawal tumbuhnya, diawal penciptaannya, dan keluar dari rahim para ibu. Mereka distempel dengan kebodohan serta ketiadaan ilmu. Allah berfirman dalam surat An-Nahl ayat 78;

وَ اللهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُوْنِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْئًا

‘Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun’

Setelah itu Allah Ta’ala mengkhususkan sebagian manusia melalui pertolongan-Nya. Allah memilih mereka untuk menguasai ilmu;

وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْاَفْئِدَةِ

‘dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan dan hati nurani’ (QS. An-Nahl:78)

Allah yang mewujudkan pertalian, derajat dan kedekatan bagi mereka. Ditunjukkan pada akhir ayat, لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ (agar kamu bersyukur).

Allah jadikan manusia menjadi dua bagian, yaitu Muradin (orang-orang yang telah sampai kepada Allah) dan Muridin (orang-orang yang berputar-putar di kulit, mereka belum sampai). Ungkapan lain dari kedua kata tersebut adalah Majzubin (orang-orang yang oleh kebenaran akan kehadira Allah) dan Salikin. Pada hakekatnya kedua ungkapan kata terbsebut berpulang kepada Muradin dan Majzubin. Allah Ta’ala berfirman dalam surat Asy-Syura ayat 13;

اللهُ يَجْتَبِيْ اِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِيْ اِلَيْهِ مَنْ يُنِيْبُ

‘Allah memilih orang yang Dia kehendaki kepada gama tauhid dan memebri petunjuk kepada agama-Nya bagi orang yang kembali kepada-Nya’

Maka al-Muriduna adalah orang-orang yang berjalan menuju kepada Allah Ta’ala di saat perjalanan mereka. Mereka terhijab/terhalang dari Allah oleh sebab adanya sesuatu di hati selain Allah, efek-efek eksternal dan hal-hal yang bersifat materi yang tampak dan ada di sisi mereka. Sedangkan Allah Ta’ala tersembunyi dari mereka, merekapun tidak melihat-Nya. Merekapun berdalil kepada selain Allah atas adanya Allah di saat mendakinya mereka menuju kepada-Nya. Adapun al-Muraduna, al-Mahzubuna, Allah menghadapkan wajah-Nya kepada mereka. Allah menjadikan mereka ma’rifat sehingga mereka ma’rifat kepada-Nya. Ketika mereka telah ma’rifat kepada Allah maka menjadi terhalang hal-hal selain Allah. Mereka tidak melihat kecuali Allah. Mereka berdalil dengan Allah sendiri di dalam pencarian mereka. Inilah dua keadaan yang berbeda. Sungguh jauh perbedaan di antara keduanya. Orang yang berdalil hanya kepada Allah akan mengetahui Allah Yang Maha Benar. Dia yang wujud, yang wajib ada-Nya. Dia yang berhak atas sifat terdahulu. Dia yang menetapkan perkara selain-Nya yang bersifat tidak ada kepada asalnya menuju kepada yang mengadakan, yang nyata wujud-Nya. Sedangkan orang yang berdalil kepada selain-Nya, yaitu kebalikan dari apa yang telah kami sebutkan. Sebab dia berdalil dengan sesuatu yang tidak diketahui atas sesuatu yang telah diketahui, berdalil dengan sesuatu yang tidak ada atas sesuatu yang ada, berdalil dengan perkara yang samar atas perkara yang jelas. Hal tersebut disebabkan adanya hijab/penghalang, maqamnya dia berada di maqam asbab, dan tidak akan memperoleh pencapaian kepada Allah. Jika tidak, sejak kapan Allah bersembunyi sehingga harus didatangkan dalil dengan hal-hal terlihat? Sejak kapan Allah menjauh sehingga harus ada hal-hal selain Allah yang bisa sampai kepada-Nya? Atau memang Allah ditiadakan sehingga menjadikan hal-hal di luar Allah sebagai petunjuk menuju kepada-Nya? Para penyair melantunkan syi’irnya;

عَجِبْتُ لِمَنْ يَبْغِي عَلَيْكَ شَهَادَةً وَأَنْتَ الَّذِي أَشْهَدْتَه كُلَّ مَشْهَدٍ

‘Aku heran terhadap seseorang yang mencari bukti atas keberadaan-Mu. Padahal Engkau Yang memperlihatkan setiap realitas’

Berkata Syekh Ibnu Athaillah di dalam kitab Lathaif al-Minan, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya dalil-dalil hanya ditegakkan bagi orang yang mencari Yang Maha Benar, bukan bagi orang yang meyaksikan Yang Maha Benar. Sebab orang yang menyaksikan tidak butuh kepada dalil dengan jelasnya penglihatan. Maka ma’rifat dengan memperhatikan adanya wasilah-wasilah (perantara) merupakan ma’rifat yang bersifat kasbi (usaha), kemudian ma’rifat kembali kepada keadaan puncaknya secara dharuri. Apabila benda-benda tidak butuh untuk mengajukan dalil oleh sebab telah jelas, maka yang menciptakan benda-benda lebih tidak butuh lagi kepada dalil!” Kemudian Syekh Ibnu Athaillah melanjutkan perkataannya, “Termasuk yang paling mengherankan adalah menjadikan benda-benda sebagai washilah untuk menuju kepada Allah. Barang kali pengetahuanku bisa menjangkau, apakah benda-benda itu wujud bersama Allah sehingga bisa menyampaikan kepada-Nya? Atau adakah benda-benda tersebut tidak ditampakkan oleh Allah sehingga dengan sendirinya bisa terlihat? Jika benda-benda tersebut dapat menyampaikan kepada adanya Allah maka secara zatnya benda tersebut tidak ada. Namun, benda-benda tersebut membantu menuju kepada Allah. Maka selain Allah tidak ada yang dapat menyampaikan menuju kepada Allah. Namun Allah Yang Maha Bijaksana menciptakan sebab-sebab. Itu bagi orang yang berada di maqam asbab dan kekuasaan Allah tidak dapat keluar sebab adanya hijab”

Wa Allahu Ta’ala Waliyyu at-Taufik

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *