Hukum-Hukum Syar’i Yang Terdapat Dalam Surat Al-Baqarah Ayat 106-108

Pertemuan ke- 42

الْأحْكامُ الشَّرْعِيَّةُ
Hukum-hukum Syar’i yang terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 106-108.

Pengajian IPNU-IPPNU PAC KECAMATAN TARUMAJAYA
Kitab Rawa’i Al Bayan Tafsir Ayat Al Ahkam Min Al-Qur’an
Minggu, 20 Desember 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

الْحُكْمُ الْأَوَّلُ
Hukum yang pertama

أَدِلَّةُ الْجُمْهُوْرِ
Dalil-dalil Jumhur (mayoritas ulama)

Mayoritas ulama berargumen dengan banyak dalil atas terjadinya nasakh. Kami akan ajukan secara ringkas dalil-dalil yang diajukan oleh mereka;

Argumentasi pertama, yaitu firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Baqarah ayat 106;

مَا نَنْسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْنُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا …

‘Apabila Kami batalkan atau Kami tinggalkan satu ayat maka Kami mendatangkan dengan yang lebih baik …’
Ayat ini menunjukkan dengan jelas terjadinya nasakh.

Argumentasi kedua, yaitu firmna Allah Ta’ala dalam surat An-Nahl ayat 101;

وَإِذا بَدَّلْنَا آيَةً مَكانَ آيَةٍ واللهُ أَعْلَمُ بِما يُنَزِّلُ قالوا إنّما انتَ مُفْتَرٍ ..

‘Dan apabila Kami mengganti suatu ayat dengan ayat yang lain, dan Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata, Sesungguhnya engkau (Muhammad) hanya mengada-ada saja.”
Mereka mengatakan, Sesungguhnya ayat ini sangat jelas berbicara tentang perubahan ayat-ayat dan hukum-hukum. Perubahan tersebut mencakup kepada menghilangkan dan menetapkan. Yang dihilangkan dapat berupa bacaan, dapat pula berupa hukum. Bagaimanapun bentuk perubahan tersebut maka itu termasuk menghilangkan dan menasakh.

Argumentasi ketiga, yaitu firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 142;

سَيَقُولُ السُّفَهاءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلَّاهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِى كَانُوِا عَلَيْها …

‘Orang-orang yang kurang akal di antara manusia akan berkata, “Apakah yang memalingkan mereka (muslim) dari kiblat yang dahulu mereka berkiblat kepadanya?” …
Kemudian Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 144;

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرامِ

‘Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam’
Sungguh kaum muslimin pada awalnya menghadapkan wajah mereka ketika shalat ke Baitulmaqdis, kemudian dinasakh (dirubah) dan diperintahkan untuk menghadap ke Masjidilharam.

Argumentasi keempat, sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan kepada wanita-wanita yang ditinggal mati oleh suami-suami mereka untuk menghitung iddahnya selama satu tahun penuh. Ini dapat dilihat dari firman-Nya dalam surat Al-Baqarah ayat 240;

وَالَّذين يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُوْنَ اَزْواجًا وَصِيَّةً لِّاَزْوَاجِهِمْ مَتاعًا اِلَى الْحَوْلِ غَيْرَ اِخْرَاجٍ …

‘Dan orang-orang yang akan mati di antara kamu dan meninggalkan istri-istri, hendaklah membuat wasiat untuk istri-istrinya, yaitu nafkah sampai setahun tanpa mengeluarkannya dari rumah ..’
Kemudian hukum satu tahun dinasakh dengan empat bulan ditambah sepuluh hari. Sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Baqarah ayat 234;

وَالّذِيْنَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ ويَذَرُوْنَ اَزْواجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ اَرْبَعَةَ اَشْهُرٍ وَعَشْرًا ..

‘Dan orang-orang yang mati di antara kamu serta meninggalkan istri-istri hendaklah mereka (istri-istri) menunggu empat bulan sepuluh hari’

Argumentasi kelima, sesungguhnya Allah memerintahkan kepada satu orang kaum muslimin melawan sepuluh musuh di dalam firman-Nya dalam surat Al-Anfal ayat 65;

يَا أيُّها النّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِيْنَ على الْقِتالِ اِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُوْنَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوْا مِائَتَيْنِ ..

‘Wahai Nabi (Muhammad)! Kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh..’
Kemudian Allah menasakh ketentuan tersebut dengan firman-Nya dalam surat Al-Anfal ayat 66;

اَلْانَ خَفَّفَ اللهُ عَنْكُمْ وَعَلِمَ اَنَّ فِيْكُمْ ضَعْفًا فَاِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ صابِرَةٌ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ ..

‘Sekarang Allah telah meringankan kamu karena Dia mengetahui bahwa ada kelemahan padamu. Maka jika di antara kamu ada seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh ..’

Ayat ini, juga ayat-ayat yang semisalnya banyak terdapat di dalam Al-Qur’an yang menunjukkan kepada terjadinya nasakh. Maka tidak ada ruang untuk menginggkarinya dalam kondisi apapun. Oleh karenanya, ulama sepakat terjadinya nasakh secara ucapan. Hingga diriwayatkan dari Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah, dia berkata kepada seorang lelaki, أَتَعْرِفُ النَّاسِخَ مِنَ الْمَنْسُوْخِ؟ (Apakah engkau mengetahui tentang nasakh-,ansukh?). Lelaki tersebut menjawab, لَا (Tidak !). Sayyidina Ali kemudian berkata, هَلَكْتَ وَأَهْلَكْتَ النَّاسَ (Celaka engkau! Engkau dapat mencelakakan manusia!)

Berkata al-Allamah al-Qurtubi, “Mengetahui tentang masalah nasakh-mansukh merupakan prinsip. Faedahnya sangat besar. Butuh bagi para ulama untuk mengetahuinya. Tidak ada yang mengingkari kecuali orang-orang bodoh dan tidak mengerti terhadap bencana yang terkait dengan hukum-hukum, konsekwensi halal dari yang sebelumnya haram. Sungguh sebagian sekte dalam Islam yang datang di kemudian mengingkari adanya nasakh. Mereka telah terhalang dari kesepakatan ulama terdahulu yang mengatakan bahwa nasakh itu ada.”

Imam al-Qurtubi kemudian berkata, “Tidak ada perbedaan di antara para intelek bahwa sesungguhnya syaria-syariat para Nabi bertujuan untuk kemaslahatan makhluk, baik yang bersifat agama maupun dunia. Hanyasanya wajib bagi yang tidak mengerti terhadap akibatnya sebuah persoalan untuk bersikap sebatas melihat apa yang sedang terjadi, tidak perlu ada komentar. Berbeda bagi orang yang ‘alim (mengerti) maka dapat berubah setiap ucapannya, seiring dengan perubahan dari sisi kemaslahatannya. Seperti dokter yang melakukan observasi keadaan pasien. Sesuai dengan profesinya sebagai dokter, dia mengobservasi sesuai dengan keinginan serta kehendaknya. Tiada Tuhan kecuali Allah. Firman-Nya dapat berubah, sedangkan ilmu dan iradah-Nya tidak akan berubah. Sebab yang demikian itu mustahil bagi-Nya.”

Wa Allahu A’lam ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *