Pertemuan ke – 34 Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah

Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah

Syekh Abi Abdullah Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abbad An Nafazi Ar Randi

Ranting NU Bogasari dan HMR

Selasa, 29 Desember  2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

 لِيُنْفِقْ ذُوْ سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ : اَلْواصِلُونَ إِلَيْهِ, وَمَنْ قُدِرَ عليه رِزْقُهُ السَّائِرُوْنَ إِلَيْهِ

‘Hendaknya orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya. Ini merupakan gambaran bagi orang-orang yang telah sampai kepada Allah Ta’ala. Sedangkan orang yang terbatas rezekinya, merupakan gambaran bagi orang-orang yang dalam perjalanan menuju kepada Allah Ta’ala’

Ini merupakan isyarat yang elok terhadap dua kelompok orang. Pertama, orang-orang yang telah sampai kepada Allah Ta’ala, ketika mereka telah keluar dari belenggu yang melihat sesuatu di hati selain Allah, kemudian menuju kepada keluasaan tauhid, kesempurnaan penglihatan, maka menjadi luas jarak pandang mereka. Mereka kemudian memberikan nafkah sesuai kemampuan mereka. Mereka bertindak di alam batin mereka, sekehendak mereka. Kedua, orang-orang yang melakukan perjalanan menuju kepada Allah. Allah telah tentukan rezeki ilmu dan pemahaman kepada mereka. Mereka tersandera oleh sempitnya angan-angan dan gambar-gambar. Mereka memberi nafkah dari apa-apa yang telah Allah berikan kepada mereka, berupa rezeki yang telah diketahui, terbatas, dan sempit.

اِهْتَدَى الرَّاحِلُوْنَ إِلَيْهِ بِأَنْوَارِ التَّوَجُّهِ, والْوَاصِلُوْنَ لهم أنْوارُ الْمُوَاجَهَةِ, فَالْأوّلونَ للأنْوارِ, وهؤلاءِ الأنوارُ لهم, لأنهمْ لله, لا لِشيئٍ دُونهُ (قُلِ اللهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُوْنَ)

‘Orang-orang yang melakukan perjalanan menuju kepada Allah Ta’ala memperoleh petunjuk melalui cahaya tawajjuh (perantara ibadah). Sedangkan orang-orang yang telah sampai kepada Allah Ta’ala mereka mendapatkan cahaya muwajahah (berhadapan langsung). Golongan pertama, mereka membutuhkan cahaya sebagai perantara. Sedangkan yang kedua, mereka mendapatkan cahaya tanpa bersusah payah, sebab meleburnya mereka kepada Tuhan. Mereka hanya bersandar kepada Allah, tidak kepada yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-An’am ayat 91;

قُلِ اللهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُوْنَ

‘Katakanlah Muhammad, “Allah lah yang menurunkannya,” kemudian setelah itu, biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.

Cahaya tawajjuh, yaitu cahaya yang mereka hasilkan sebagai buah dari ibadah, mu’amalah, berjuang dengan kesulitan, dan mujahadah kepada Allah Ta’ala.

Cahaya muwajahah, yaitu cahaya yang diberikan Allah untuk mereka, berupa ma’rifat, kedekatan, cinta dan rasa senang.

Golongan pertama adalah hamba-hambanya cahaya. Sebab butuhnya mereka kepada cahaya untuk bisa sampai kepada tujuan mereka.

Golongan kedua, yaitu cahaya teruntuk mereka. Sebab ketidak butuhan mereka kepada cahaya untuk bertemu kepada Tuhan mereka. Mereka hanya bersandar kepada Allah Ta’ala, tidak kepada selain-Nya. Akan datang maknanya ini pada ungkapan penulis;

 أنْتَ مع الأَكْوانِ ما لمْ تَشْهَدْ الْمُكَوِّنَ, فإذا شهِدْتَهُ كانتِ الأكوانُ معك

‘Engkau akan selalu bersama dengan alam semesta, selama engkau tidak melihat Yang Menciptakannya. Apabila engkau telah melihat-Nya, maka alam semesta akan bersamamu’

Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-An’am ayat 91;

قُلِ اللهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُوْنَ

‘Katakanlah Muhammad, “Allah lah yang menurunkannya,” kemudian setelah itu, biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.

Mengosongkan tauhid dengan tanpa memperhatikan sesuatu apapun di hati selain Allah, merupakan haqqul yakin. Melihat sesuatu selain Allah, merupakan kesesatan dan bermain-main. Keduanya (sesat dan bermain-main) merupakan sifat orang-orang yang berdusta dan munafik. Allah Azza wa Jalla memberitakan tentang keadaan mereka tersebut dalam surat Al-Muddassir ayat 45;

وَكُنَّا نَخُوْضُ مَعَ الْخَائِضِيْنَ

‘bahkan kami biasa berbincang untuk tujuan yang batil, bersama orang-orang yang membicarakannya’

Allah berfirman dalam surat Ad-Dukhan ayat 9;

بَلْ هَمْ فِي شَكٍّ يَّلْعَبُوْنَ

‘Tetapi mereka dalam keraguan, mereka bermain-main’

Wa Allahu Ta’ala Waliyyu at-Taufik

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *