Hukum-hukum Syar’i yang terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 106-108.

Pengajian IPNU-IPPNU PAC KECAMATAN TARUMAJAYA

Kitab Rawa’i Al Bayan Tafsir Ayat Al Ahkam Min Al-Qur’an

Minggu, 03 Januari 2021

Oleh. Ahmad Lahmudin

الْحُكْمُ الثاني

Hukum yang kedua.

Bagaimana macam nasakh di dalam Al-Qur’an?

Nasakh terbagi menjadi tiga bagian.

Pertama, nasakh bacaan dan hukumnya secara bersamaan.

Kedua, nasakh bacaan dengan menetapkan hukumnya.

Ketiga, nasakh hukum dengan menetapkan bacaannya.

Bagian pertama, yaitu menasakh bacaan dan hukumnya secara bersamaan. Maka tidak diperbolehkan untuk dibaca dan diamalkan. Sebab secara keseluruhan telah dinasakh. Seperti menjadikan mahram dengan sepuluh susuan yang diriwayatkan dari ‘Aisyah Radiallahu ‘Anha, ia berkata;

كَانَ فيما نَزَلَ مِن القرآنِ : عَشْرُ رَضَعَاتٍ معلوماتٍ يُحْرِمْنَ

‘Pernah turun ayat di dalam Al-Qur’an yang mengatakan; Sepuluh sususan yang dapat diketahui menyebabkan terjadinya mahram’

Ayat tersebut kemudian dinasakh dengan lima susuan untuk menjadikan mahram. Rasulullah kemudian meninggal dan ayat tersebut pernah dibaca beliau sebagai bagian dari ayat Al-Qur’an.

Imam Al-Fakhrur Razi berkata, “Bagian pertama, yaitu sepuluh susuan, merupakan bagian dari nasakh hukum beserta bacaannya. Bagian kedua, yaitu lima susuan, menurut kalangan Syafi’i, merupakan bagian dari nasakh bacaan dengan menetapkan hukumnya”.

Bagian kedua, yaitu menasakh bacaan dengan menetapkan hukumnya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Az-Zarkasyi di dalam kitab al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an, “Hukumnya diamalkan ketika umat bersepakat!” Seperti yang pernah ada di dalam surat An-Nur, ayat;

الشَّيْخُ وَالشَّيْخَةُ إِذَا زَنَيَا فَارْجُمُوْهَا اَلْبَتَّةَ نَكَالًا مِنَ اللهِ واللهُ عَزِيْزً حَكِيْمٌ

‘Seorang pria tua dan wanita tua, apabila keduanya berzina maka rajamlah keduanya. Itu sebagai peringatan dari Allah Yang Maha Agung, Maha Bijaksana’

Oleh karena itulah Sayyiduna Umar berkata; لَوْ لَا أنْ يَقولَ النَّاسُ زَادَ عُمرُ فى كتابِ اللهِ لَكَتَبْتُها بِيَدِي

‘Seandainya manusia tidak berkomentar “Umar telah menambahkan ayat di dalam Kitabullah!”, niscaya aku akan menulisnya dengan tanganku sendiri!’

Ibnu Hayyan meriwayatkan hadis saheh dari Ubay bin Ka’ab Radiallahu ‘Anhu, dia berkata;

كَانَتْ سورةُ الأحزابِ تُوَازِي سُورَةَ النُّور – أي في الطول – ثُمّ نُسِخَتْ آياتٌ منها

‘Sebelumnya surat Al-Ahzab menyamai surat An-Nur – dari sisi panjangnya ayat -, kemudian dinasakh beberapa ayat dari surat An-Nur’

Dua jenis nasakh ini (nasakh hukum beserta bacaannya dan nasakh bacaan dengan menetapkan hukumnya), keberadaannya sedikit di dalam Al-Qur’anul Karim. Jarang didapati kasus jenis nasakh ini. Sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan kitab-Nya yang mulia untuk dijadikan ibadah dengan cara dibaca serta mengimplementasikan hukum-hukumnya.

Bagian ketiga, yaitu nasakh hukum dengan menetapkan bacaannya. Nasakh semacam ini banyak terjadi di dalam Al-Qur’anul Karim. Sebagaimana dikatakan oleh Imam az-Zarkasy, bahwa nasakh hukum dengan menetapkan bacaannya terdapat di 63 surat. Contoh model nasakh ini diantaranya tentang wasiat, iddah, mendahulukan shadaqah sebelum berbicara kepada Rasulullah, mencegah untuk memerangi kaum musyrik, dan lainnya.

Syekh Abu al-Qosim Hibat Allah bin Salama mengarang sebuah risalah tentang nasikh-mansukh. Diantara komentarnya adalah;

إعلم أن أول النسخ فى الشريعة أمر الصلاة, ثم القبلة, ثم الصيام الأول, ثم الإعراض عن المشركين, ثم أمره بقتال أهل الكتاب حتى يعطوا الجزية, ثم ما كان أهل العقود عليه من المواريث, ثم هدم منار الجاهلية لئلا يخالطوا المسلمين في حجهم .. الخ

‘Ketahuilah olehmu, sesungguhnya awal nasakh dalam syariat Islam adalah perintah shalat, lalu perintah menghadap kiblat, kemudian puasa yang pertama (10 Muharram), lalu berpaling dari kaum musyrik, kemudian perintah berjihad melawan kaum musyrik, lalu perintah berjihad memerangi kaum musyrik, kemudian perintah memerangi ahlul kitab sehingga mereka membayar jizyah, lalu harta peninggalan diberikan kepada orang-orang yang pernah mengadakan janji setia untuk tolong menolong dan lainnya, lalu menghancurkan menara api milik orang-orang jahiliyah agar terhindar berbaurnya mereka dengan kaum muslimin saat berhaji, dan masalah lainnya!’

Faedah penting!

Apa hikmah adanya nasakh hukum dengan menetapkan bacaannya? Berkata Imam az-Zarkasy, “Di sini terdapat sebuah pertanyaan, apa hikmah dihilangkannya hukum dengan menetapkan bacaannya? Terdapat cara untuk menjawabnya;

Pertama, sesungguhnya al-Qur’an dibaca untuk mengetahui hukum yang terdapat di dalamnya. Demikian juga mengamalkan al-Qur’an dengan cara membacanya sehingga mendapatkan pahala. Tetap membiarkan bacaan al-Qur’an merupakan hikmah dari model nasakh ini.

Kedua, adanya nasakh pada biasanya untuk meringankan manusia. Oleh karena itu ditetapkan bacaannya untuk mengingatkan nikmat serta menghilangkan kesukaran, sehingga kaum muslim dapat mengingat nikmat yang Allah telah berikan kepada mereka”  

Wa Allahu A’lam ..    

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *