Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah

Syekh Abi Abdullah Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abbad An Nafazi Ar Randi

Pertemuan ke – 36

Ranting NU Bogasari dan HMR

Selasa, 05 Januari  2021

Oleh. Ahmad Lahmudin

 تَشَوُّك إلى ما بَطَنَ فيك مِن العيوب خيرٌ مِن تشوّفِك إلى ما حجَبَ عنك من الغُيوبِ

‘Kecenderungan keinginanmu kepada aib-aib yang tersembunyi dalam dirimu itu lebih baik dari keinginanmu kepada hal-hal yang tersembunyi yang dapat menghalangimu’

Ketentuan bagi seorang murid yaitu cenderung untuk mengetahui dan mencari aib-aib yang terdapat di dalam dirinya, serta membahasnya. Sebab sesungguhnya hal tersebut merupakan hak Allah Ta’ala dari seorang murid. Sepatutnya bagi seorang murid menginginkannya, menarik tali kendali perhatiannya untuk menuju kepada-Nya, agar dapat tercapai kemurnian amalnya dari berbagai penyakit, menjadi bersih kondisi batinnya dari kotoran-kotoran hati, hilang kebodohan, hilang pula sesuatu yang menipu, dan batinnya terputus untuk mencintai hal-hal yang buruk.

Abu Hamid al-Ghazali Radiallu ‘Anhu menuturkan di dalam kitabnya, Riyadhotun Nafsi (latihan jiwa), pada satu pasal, tentang cara bagi manusia untuk mengetahui aib-aib dirinya. Hendaknya seorang murid melihat isi kitab tersebut. Kesimpulan dari kitab tersebut, terdapat empat cara untuk mengetahui aib-aib dalam diri manusia;

Pertama, hendaknya ia duduk bersama seorang guru yang mampu melihat dengan mata hatinya kepada aib-aib dan penyakit-penyakit hati. Jadikanlah ia hakim untuk menentukan aib dalam diri seorang murid. Dia harus mengikuti isyarat dari gurunya.

Kedua, berkawan dengan orang yang benar, yang suka dengan kebenaran. Sehingga temannya tersebut dapat mengawasi kondisi batin dan perbuatannya, dapat mengingatkannya dari hal-hal yang tercela di dalam dirinya yang masih samar.

Ketiga, seorang murid dapat mengetahui aib-aibnya melalui musuh-musuhnya. Sebab, mesti terlontar dari bibir-bibir mereka aib-aibnya bersamaan dengan aib-aib mereka. Keempat, seorang murid dapat pula mengetahui aib-aibnya dari sebab bergaul dengan sesama. Dia dapat mengetahui aib-aibnya dari keburukan-keburukan yang ada pada mereka. Apabila ia telah mengetahuinya, dan meyakini bahwa dirinya sesungguhnya tidak bisa pula dilepaskan dari keburukan yang ada pada mereka, karena sesungguhnya watak manusia saling berdekatan, dan tampak pada dirinya potensi yang lebih besar bisa saja terjadi menimpanya dari keburukan yang ada pada orang lain tersebut, maka dituntut kepadanya untuk dapat mensucikan serta membersihkan keburukan-keburukan yang ada dalam dirinya. Inilah ringkasan yang telah disebutkan oleh Imam al-Ghazali. Kemudian iapun berkata, “Semuanya ini merupakan kecerdikan-kecerdikan bagi seseorang yang tidak mendapatkan seorang guru yang ma’rifat, cerdas, yang dapat melihat dengan mata hati terhadap aib-aib seseorang, yang mengasihi, tulus, kosong dari membersihkan dirinya, sibuk dengan membersihkan hamba-hambanya Allah, dan hanya tulus untuk mereka. Barang siapa yang mendapati seorang dokter maka hendaknya menetapinya. Dia yang akan membebaskannya dari penyakit dalam dirinya. Diapula yang akan menyelamatkannya dari kehancuran yang berada di depannya”

Adapun pencarian seorang murid kepada ha-hal yang tersembunyi yang dapat menghalanginya, berupa ketentuan-ketentuan Allah yang masih tersembunyi, esensi halus dari kejadian-kejadian, maka itu merupakan hanya menguntungan bagi dirinya. Itu merupakan hak Allah Ta’ala, yang tidak ada hak bagi seorang murid. Maka tinggalkan diri dari itu semua. Janganlah sibuk dengan itu semua, baik akal maupun perasaan. Hal-hal yang tersembunyi yang tampak kepadanya, maka janganlah merasa senang dan bermaksud kepadanya. Sesungguhnya hal tersebut termasuk aib-aib yang tercela bagi ibadahnya seorang murid. Oleh sebab itu, ulama tasawuf berkata;

كن طالبا للاستقامة, ولا تكن طالبا للكرامة, فإن نفسك تتحرك وتطلب الكرامة ومولاك يطالبك بالاستقامة, ولأن تكون بحق مولاك أولى بك من أن تكون بحظّ نفسك

‘Jadilah kamu sebagai pencari istiqomah. Jangan menjadi pencari karomah. Sesungguhnya jiwamu bergerak dan mencari karomah, sedangkan Tuhanmu memintamu untuk istiqomah. Hendaknya kamu lebih mengutamakan hak Tuhanmu terhadapmu daripada mendapatkan keberuntungan untuk dirimu’

Beberapa hikayat terkait dengan makna yang telah kami sebutkan, yaitu riwayat Israiliyat, dari Wahab bin Munabbih, Radhiallahu Ta’ala ‘Anhu, Sesungguhnya seorang laki-laki dari Bani Israil telah berpuasa selama 70 tahun, dengan berbuka di setiap tahunnya selama enam hari saja. Kemudian ia meminta kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala agar diperlihatkan bagaimana cara setan mengalahkan manusia. Setelah lama menanti jawaban yang tidak kunjung datang, diapun berkata, “Seandainya Engkau memperlihatkan kesalahan-kesalahanku beserta dosa-dosaku kepada-Mu, maka itu lebih baik bagiku dari apa yang telah aku minta sebelumnya!” Kemudian Allah mengutus Malaikat, lalu berkata kepadanya, “Sesungguhnya Allah Ta’ala mengutusku untuk menyampaikan sesuatu kepadamu. Allah berfirman teruntukmu, (Sesungguhnya perkataanmu ini, yang telah engkau ucapkan, lebih Aku cintai daripada ibadah yang telah engkau lakukan!) Sungguh, Allah telah membukakan mata hatimu, maka lihatlah sekarang!” Tiba-tiba tentara-tentara Iblis mengelilingi bumi. Apabila tidak ada seorangpun dari manusia terkecuali setan-setan yang mengelilinginya, layaknya seperti lalat. Berkatalah lelaki tersebut, “Wahai Tuhanku, siapakah yang selamat dari ini?” Allah berfirman, “Orang yang wara’ (yang menjauhi maksiat), serta yang halus akhlaknya!”

Akan datang sebuah penjelasan, bahwa sesungguhnya karomah tidak dituntut untuk didapatkan. Bagi orang yang berilmu lagi pandai, karomah tidaklah membuat mereka gembira ketika berada di sisi mereka. Berikut penjelasannya;

ليس كل من ثبت تخصيصه كمل تخليصه

‘Setiap orang yang telah mendapatkan kekhususan tidak kemudian secara otomatis telah menjadi sempurna ikhlasnya’  

Wa Allahu Ta’ala Waliyyu at-Taufik

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *