Hukum-hukum Syar’i yang terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 106-108.

Pertemuan ke- 44

Pengajian IPNU-IPPNU PAC KECAMATAN TARUMAJAYA

Kitab Rawa’i Al Bayan Tafsir Ayat Al Ahkam Min Al-Qur’an

Minggu, 10 Januari 2021

Oleh. Ahmad Lahmudin

الْحُكْمُ الثالثُ

Hukum yang ketiga

Apakah al-Qur’an dapat dinasakh dengan as-Sunnah?

Para ulama sepakat bahwa sesungguhnya al-Qur’an dapat dinasakh dengan al-Qur’an, Sunah dapat dinasakh dengan sunah, hadis mutawatir dapat dinasakh dengan hadis mutawatir pula. Namun mereka berbeda pendapat tentang, apakah al-Qur’an dapat dinasakh dengan selain al-Qur’an, hadis mutawatir dapat dinasakh dengan hadis yang tidak mutawatir?

Imam Syafi’i berpendapat, sesungguhnya yang dapat menasakh al-Qur’an haruslah dari yang semisal al-Qur’an. Menurutnya, tidak diperbolehkan al-Qur’an dinasakh dengan sunah.

Menurut Jumhur (mayoritas ulama), diperbolehkan menasakh al-Qur’an dengan al-Qur’an, juga dengan sunah yang dianggap suci pula. Karena semuanya merupakan hukum Allah dan berasal dari-Nya.

Argumentasi Imam Syafi’i.

Imam Syafi’i berdalil atas pelarangan menasakh al-Qur’an dengan sunah dengan firman Allah Ta’ala dalam surat al-Baqarah ayat 106;

مَا نَنْسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْنُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أَوْمِثْلِهَا

‘Apabila Kami batalkan atau Kami tinggalkan satu ayat maka Kami mendatangkan dengan yang lebih baik atau yang semisalnya’

Metode pengambilan dalil Imam Syafi’i melalui beberapa cara;

Pertama, sesungguhnya Allah Ta’ala menggunakan redaksi نأْتِ  (Kami mendatangkan). Allah menyandarkan kata ‘mendatangkan’ kepada diri-Nya. Mendatangkan diartikan sebagai nasakh, yang tidak mungkin bisa terjadi kecuali berasal dari al-Qur’an.

Kedua, Allah menggunakan redaksi بخيرٍ منها  (dengan yang lebih baik). Tidak ada sesuatu yang menasakh itu lebih baik terkecuali berasal dari al-Qur’an. Sebab sunah tidak lebih baik dari al-Qur’an.

Ketiga, sesungguhnya Allah berfirman dalam ayat;  أَلَمْ تُعْلَمْ أَنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ؟

‘Tidakkah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu?’

Sungguh jelas di dalam ayat bahwa yang mendatangkan kebaikan tersebut yaitu dikhususkan kepada yang mempunyai sifat mampu atas semua kebaikan, tidak lain adalah Allah Ta’ala, Tuhan semesta alam.

Keempat, Firman Allah dalam surat An-Nahl ayat 101;

وَإِذا بَدَّلْنَا آيَةً مَكانَ آيَةٍ

‘Dan apabila Kami mengganti suatu ayat dengan ayat yang lain’

Allah menyandarkan penggantian kepada diri-Nya, dan yang menggantikan adalah ayat-ayat al-Qur’an. Ini merupakan argumentasi terkuat bagi Imam Syafi’i.

Argumentasi Jumhur (mayoritas ulama)

Jumhur berargumentasi atas kebolehan menasakh ayat dengan sunah, dengan beberapa argumen. Kami akan ajukan argumentasi mereka secara ringkas;

  1. Dinasakh ayat yang berbicara tentang wasiat, yaitu firman Allah Ta’ala dalam surat al-Baqarah ayat 179;

كُتِبَ عليْكُمْ اذَا حَضَرَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ اِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوِالِدَيْنِ والْاَقْرَبِيْنَ …

‘Diwajibkan atas kamu, apabila maut hendak menjemput seseorang di antara kamu, jika dia meninggalkan harta, berwasiat untuk kedua orang tua dan karib kerabat’

Sungguh, ayat ini dinasakh oleh hadis masyhur, yaitu sabda Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam;

أَلَا لَا وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ

‘Ingatlah, bahwasanya tidak ada wasiat bagi ahli waris’

Dalam masalah di atas tidak ada yang menasakh ayat terkecuali dengan sunah.

  • Menasakh hukuman cambuk bagi pelaku zina yang telah memiliki suami atau istri di dalam surat an-Nur ayat 2;

الزَّانِيَةُ والزَّانِى فَاجْلِدُوْا كُلَّ واحدٍ منهما مِائَةَ جَلْدَةٍ

‘Pezina perempuan dan pezina laki-laki, deralah masing-masing dari keduanya seratus kali’

Tidak ada ayat yang menggugurkan hukumnya terkecuali perbuatan Nabi yang memerintahkan kepada hukuman rajam. Jumhur berkata, sesungguhnya apa-apa yang terdapat di dalam al-Qur’an atau hadis, kesemuanya merupakan hukumnya Allah dan datang dari sisi-Nya, meskipun berbeda nama. Sebab Allah berfirman di dalam surat an-Najm ayat 3-4;

وَما يَنْطِقُ عنِ الْهَوى اِنْ هُو إلَّا وَحْيٌ يُّوْحَى

‘dan tidak yang diucapkannya itu (al-Qur’an) menurut keinginannya. Tidak lain (al-Qur’an) adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya’

  1. Jumhur menjawab terhadap argumentasi yang diajukan oleh Imam Syafi’i Rahimahullah, dengan mengatakan bahwa argumentasi Imam Syafi’i tidak memberikan kejelasan. Sebab sifat kebaikan pada dasarnya terdapat di antara hukum-hukum. Maka hukum yang menasakh itu lebih baik dari hukum yang dinasakh. Allah Maha Mengetahui kepada kemaslahatan para hamba, baik dari sisi waktu maupun kapan kemaslahatan tersebut digunakan. Tidak memiliki esensi apa-apa, bila dikatakan bahwa lafaz ayat ini lebih baik dari lafaz ayat yang lainnya. Jika persoalannya demikian, maka esensinya adalah bahwa hukum yang menasakh itu lebih baik dari hukum yang dinasakh, baik yang menasakh berasal dari al-Qur’an maupun dari  sunah. Sebab semuanya merupakan aturan yang berasal dari Dzat Yang Maha Bijaksana, Maha Mengetahui.

At-Tarjih (Pendapat yang diunggulkan)

Dari sini dapat disimpulkan bahwa pendapat Jumhur (mayoritas ulama) lebih diunggulkan. Sebab kebaikan dan keutamaan hanya bisa dilihat dari perbedaan hukum-hukum, baik hukum yang berat maupun hukum yang meringankan. Pembahasan yang lebih mendalam tentang itu dapat ditemukan di dalam ushul fiqih ..   

Wa Allahu A’lam ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *