Pengajian kitab Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratul ‘Ain (ke- 17)

Syekh Zainuddin Abdul Aziz Al-Malibari

Ranting NU Bogasari dan HMR

Sabtu,  9 Januari 2021

Oleh. Ahmad Lahmudin

ونواقِضُهُ – أى أسبابُ نَواقضِ الْوُضوءِ أربعةٌ أحدُهما تَيَقُّنُ (خروجِ شيئٍ) غيرِ مَنِيِّهِ عينًا كان أو رِيحًا رَطْبًا أو جَافًّا مُعْتادًا كبولٍ أو نادِرًا كدَمِّ بَاسورٍ أو غيرِهِ اِنفصلَ أو لا كدُودٍ أخرجتْ رأْسُها ثم رجعتْ (مِنْ أحدِ سَبيْلى) المُتوضّئِ الْحَيِّ (دُبُرًا كان أو قُبُلًا) ولو (كان الْخارجُ) باسورًا نابِتًا داخِلَ الدُّبُرِ فخرجَ أو زاد خُروجُه لكن أفتَى العلّامةُ الْكَمالُ الرَّدَّادُ بعدمِ النَّقْضِ بخروجِ الْباسورِ نفسِهِ بل بالخارِج منه كالدَّمِ وعند مالكٍ لا ينتقض الوضوءَ بالنَّادِرِ

(Hal-hal yang membatalkan wudhu). Maksudnya sebab-sebab yang dapat membatalkan wudhu ada empat. Pertama, meyakini keluarnya sesuatu selain air mani, baik berupa materi maupun berupa angin, baik lembab maupun kering, baik yang biasa terjadi, seperti air seni maupun yang jarang terjadi, seperti darah sebab penyakit ambeien dan selain darah sebab penyakit ambeien, baik yang keluar tersebut dalam keadaan terpisah maupun tidak, seperti ulat yang mengeluarkan bagian kepalanya kemudian kembali lagi. (Keluarnya sesuatu tersebut berasal dari salah satu tempat keluarnya) orang yang berwudhu yang masih hisup, (baik melalui dubur «pantat» maupun melalui kemaluan bagian depan), meskipun (sesuatu yang keluar tersebut) berupa basur, yaitu bagian dalam yang tumbuh di dalam dubur lalu keluar, atau basur telah keluar sebelum berwudhu kemudian bertambah setelah berwudhu. Namun al-Allamah al-Kamal ar-Raddad berfatwa kepada ketidakbatalan wudhu sebab keluar dengan sendirinya basur. Berbeda bila yang keluar dari basur berupa darah misalnya, maka menurut al-Kamal ar-Raddi dapat membatalkan wudhu. Menurut Imam Malik, tidak membatalkan wudhu sebab keluarnya sesuatu yang jarang terjadinya.     

و – ثانِيها  (زوالُ عَقْلٍ) أى تمييزٍ بِسَكَرٍ أو جُنونٍ أو إغْماءٍ أو نومٍ للخبر الصحيحِ فمنْ نامَ فلْيتوضَّأْ وخرج بزوالِ العقْلِ النُّعاسُ وأوائِلُ نَشْوَةِ السَّكَرِ فلا نَقْضَ بِهما كما إذا شَكَّ هل نامَ أو نَعَسَ ومِن علامة النُّعاس سِماعُ كلامِ الحاضرين وإن لم يَفْهَمْ (لا) زوالُهُ (بِنومٍ) قاعِدٍ (مُمْكِنٍ مَقْعَدُهُ) أى ألْيَيْهِ مِنْ مَقَرِّهِ وإِنْ اِسْتَنَدَ لِما لو زَالَ سَقَطَ أو احْتَبَى وليس بين مَقْعَدِه ومَقَرِّه تَجَافٌّ وينتقضُ وضوءُ مُمْكِنٍ اِنْتَبهَ بعد زوالِ ألْيَتِهِ عن مقرّهِ لا وضوءُ شاكٍّ هل كان ممكنًا أو لا أو هل زالَتْ أليَتُهُ قبل الْيَقْظَةِ أو بعدها وتَيَقُّنُ الرُّؤْيا مع عدمِ تَذَكُّرِ نومٍ لا أثرَ له بِخلافِهِ مع الشَّكِّ فيه لأنها مُرْجِحَةٌ لِأحدِ طَرَفَيْهِ Sebab kedua yang dapat membatalkan wudhu, (yaitu hilangnya akal) yang disebabkan oleh mabuk, gila, pingsan, atau tidur. Hal tersebut berdasarkan hadis shahih, مَنْ نَامَ فَلْيَتَوَضَّأْ (Barang siapa yang tertidur maka hendaknya berwudhu). Dikecualikan dari hilangnya akal, yaitu kantuk dan di awal-awal permulaan mabuk, maka tidak termasuk membatalkan wudhu. Sebagaimana juga tidak membatalkan kepada wudhu ketika seseorang ragu-ragu, apakah telah tertidur atau sekedar mengantuk? Termasuk tanda mengantuk, yaitu dapat mendengar pembicaraan orang di sekitarnya, meskipun tidak memahaminya. Tidak juga termasuk hilang akalnya, (yaitu disebabkan oleh tidur) dalam keadaan duduk (yang dalam kondisi pantatnya memungkinkan menetapi tempat duduknya), meskipun dia dalam posisi bersandar kepada sesuatu yang apabila digeser ia akan terjatuh. Begitu juga ketika dia tertidur dalam posisi

duduk dengan memeluk lutut, dengan tidak berjauhan antara pantat dan tempatnya duduk. Wudhunya orang yang tertidur dalam kondisi pantatnya memungkinkan menetapi tempat duduknya bisa batal manakala dia terbangun dari tidurnya kemudian meyakini pantatnya telah bergeser dari tempat duduknya. Tidak membatalkan wudhunya bila ia ragu-ragu, apakah memungkinkan duduknya tidak berubah atau tidak? Atau apakah telah bergeser pantatnya sebelum ia terjaga dari tidurnya atau setelah tertidur? Adapun mempunyai keyakinan telah bermimpi, namun ia tidak mengingat tidurnya maka tidak ada konsekwensi wudhunya menjadi batal. Berbeda bila ia yakin telah bermimpi, namun ia ragu-ragu apakah telah tertidur atau tidak? Maka wudhunya menjadi batal, sebab mimpi termasuk tandanya tidur. Dengan demikian, mimpi lebih menguatkan kepada salah satu dua sisi keraguannya, yaitu telah terjadi tidur.     

و – ثالِثُها (مَسُّ فرْجِ آدَمِيًّ) أو محلِّ قَطْعِهِ ولو لميِّتٍ أو صغيرٍ قُبُلًا كان الفرجُ أو دُبُرًا مُتَّصِلًا أو مقْطُوعًا إلا ما قُطِعَ فى الْخِتانِ والنّاقِضُ من الدبر مُلْتَقَى الْمَنْفَذِ ومِنْ قُبُلِ الْمرْأةِ مُلْتَقَى شُفْرَيْها على الْمَنْفَذِ لا ما وراءَهما كمحلِّ ختانها نعم يُنْدَبُ الوضوءُ مِن مسِّ نحو الْعانَةِ وباطنِ الأَلْيَةِ والْأُنْثَيْنِ وشَعْرٍ نبتَ فوقَ ذّكَرٍ وأصْلِ فخْذٍ ولِسِّ صغيرةٍ وأَمْرَدٍ وأَبْرَصٍ ويَهُودِيٍّ ومن نحو فَصْدٍ ونظْرٍ بشهوةٍ ولو إلى مَحرمٍ وتَلَفُّظٍ بمعصيةٍ وغَضَبٍ وحمْلِ ميِّتٍ ومَسِّهِ وقَصِّ ظُفُرٍ وشارِبٍ وحلْقُ رأْسِهِ وخرج بادميٍّ فرجُ البهيمةِ إذْ لا يُشْتَهَى ومن ثَمَّ جاز النظْرُ إليه.   

Sebab ketiga yang dapat membatalkan wudhu, (yaitu menyentuh kemaluan manusia), atau tempat dipotongnya alat kemaluan manusia, meskipun alat kemaluan itu milik mayit atau anak kecil. Alat kemaluan itu bisa berupa qubul (kemaluan depan) maupun berupa dubur (kemaluan belakang), baik yang masih menyatu maupun yang telah terpisah. Dikecualikan alat kelamin yang dipotong saat khitan (disunat), qulfah (kulup) bagi laki-laki, dan bazhr (kelentit) bagi wanita, maka tidak membatalkan wudhu ketika disentuh. Bagian dubur yang dapat membatalkan wudhu adalah tempat pertemuan lubang, sedangkan bagian qubul wanita adalah tempat pertemuan dua tepi kemaluannya yang berada di atas lubang. Selain dua tepi kemaluan perempuan, seperti tempat khitannya, tidak termasuk yang membatalkan wudhu ketika disentuh. Disunahkan berwudhu ketika menyentuh bagian bawah perut yang tumbuh rambut, bagian dalam pantat, dua buah pelir, rambut yang tumbuh di atas zakar, pangkal paha, juga ketika menyentuh anak perempuan yang masih kecil yang tidak menimbulkan syahwat secara adat, menyentuh amrad (anak muda yang belum tumbuh jenggotnya), menyentuh orang yang terserang penyakit kusta, menyentuh orang Yahudi, setelah berbekam, melihat dengan syahwat, meskipun kepada mahramnya, mengucapkan kata maksiat, ketika marah, setelah membawa mayit, menyentuh mayit, setelah memotong kuku, mencukur kumis, dan memotong rambut kepala. Dikecualikan dari kemaluan manusia, yaitu kemaluan binatang, sebab tidak menimbulkan syahwat. Oleh karena itu diperbolehkan melihat kepada kemaluan binatang.

بِبطْنِ كَفٍّ –  لقوله صلى الله عليه وسلم مَنْ مسَّ فرجَهُ وفى روايةٍ من مسَّ ذَكرًا فلْيتوضَّأْ وبطْنُ الكفِّ هو بطنُ الرَّحَتَيْنِ وبطنُ الأصابِعِ والمُنْحرِفُ إليها عند انْطِباقِهِما مع يَسِيْر تَحامُلٍ دون رُؤُسِ الأصابعِ وما بينهما وحرْفِ الْكفِّ Sentuhan yang menyebabkan batalnya wudhu tersebut, (yaitu dengan menggunakan bagian dalam telapak tangan). Sebab sabda Nabi Shallahu ‘Alaihi Wasallam, مَنْ مَسَّ فَرْجَهُ (Barang siapa yang menyentuh

kemaluannya), dalam riwayat lain, مَنْ مَسَّ ذَكَرًا فَلْيَتَوَضَّأْ (Barang siapa yang menyentuh zakarnya, hendaknya dia berwudhu). Yang dimaksud dengan bagian dalam telapak tangan adalah dua bagian dalam telapak tangan, bagian dalam jari tangan, dan bagian yang keluar dari bagian dalam telapak tangan dan bagian dalam jari tangan ketika digabungkan kedua bagian dalam telapak tangan dengan sedikit ditekan. Tidak membatalkan wudhu bila yang menyentuh adalah bagian ujung jari tangan, bagian yang ada di antara jari tangan, dan bagian pinggir telapak tangan.    

 Wa Allahu A’lam bi Shawab .. 

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *