Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah

Pertemuan ke – 37

Syekh Abi Abdullah Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abbad An Nafazi Ar Randi

Ranting NU Bogasari dan HMR

Selasa, 12 Januari  2021

Oleh. Ahmad Lahmudin

الحقُّ ليس بمحجوبٍ, وإنما المحجوبُ أنت عن الظر إليه, إذ لوْ حَجَبَهُ شيءٌ لَسَتَرَهُ ما حجبه ولو كان له ساترٌ لكان لوجودِهِ حاصِرٌ, وكلُّ حاصرٍ لشيءٍ فهو له قاهرٌ وهو القاهر فوق عباده.

‘Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah disifati dengan keterhalangan. Sifat terhalang itu ada pada kamu sehingga engkau tidak dapat melihat kepada-Nya. Sebab bila ada sesuatu yang menghalangi-Nya maka pasti akan menutupi-Nya. Seandainya ada penutup bagi-Nya maka keberadaan-Nya ada yang membatasi. Setiap sesuatu yang membatasi kepada selainnya maka ia akan memiliki kekuasaan atasnya. Dan Allahlah yang berkuasa atas hamba-hamba-Nya’

Hijab (penghalang) bagi Allah Ta’ala merupakan sesuatu yang mustahil. Ibnu Atha’illah as-Sakandari berargumentasi atas hal tersebut dengan apa yang dituturkannya di sini. Itu sangat jelas dan tidak ada kemusykilan sama sekali. Hijab bagi seorang hamba adalah wajib secara dzatnya. Sebab ia berasal dari ketiadaan, sebagaimana pembicaraan yang telah lalu. Tidak dapat dikaitkan antara ketiadaan dan yang berwujud. Bila Allah Ta’ala berkehendak untuk menghilangkan hijab ini kepada seseorang yang dikehendaki-Nya, bagaimanapun cara yang dikehendaki-Nya, dan kapan waktu yang dikehendaki-Nya, maka hamba tersebut akan dapat melihat kepada Dzat yang tidak ada semisal bagi-Nya, Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Ini merupakan sesuatu yang wajib untuk diyakini ..    Wa Allahu Ta’ala Waliyyu at-Taufik

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *