Pengajian kitab Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratul ‘Ain (ke- 18)

Pengajian kitab Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratul ‘Ain (ke- 18)

Ranting NU Bogasari dan HMR

Sabtu,  16 Januari 2021

Oleh. Ahmad Lahmudin

 ورابعها (تلاقى بشرتى ذكر وأنثى) ولو بلا شهوة وإن كان أحدهما مكرها أو ميتا لكن لا ينقض وضوء الميت والمراد بالبشرة هنا غير الشعر والسن والظفر قاله شيخنا وغير باطن العين وذلك لقوله تعالى أو لامستم النساء أى لمستم ولو شك هل ما لمسه شعر أو بشرة لم ينتقض كما لو وقعت يده على بشرة لا يعلم أهى بشرة رجل أو امرأة أو شك هل لمس محرما أو اجنبية وقال شيخنا فى شرح العباب ولو أخبره عدل بلمسها له أو بنحو خروج ريح منه فى حال نومه ممكنا وجب عليه الأخذ بقوله (بكبر) فيهما فلا نقض بتلاقيهما مع صغر فيهما أو فى أحدهما لانتفاء مظنة الشهوة والمراد بذى الصغر من لا يشتهى عرفا غالبا (لا) تلاقى بشرتيهما (مع محرمية) بينهما بنسب أو رضاع أو مصاهرة لانتفاء مظنة الشهوة ولو اشتبهت محرمه بأجنبيات محصورات فلمس واحدة منهن لم ينتقض وكذا بغير محصورات على الأوجه. Yang keempat, dari hal-hal yang membatalkan kepada wudhu, yaitu pertemuan kulit luar antara laki-laki dan perempuan, meskipun tanpa diiringi dengan syahwat, meskipun juga bila ada paksaan dari salah satu pihak, atau salah satu dari keduanya adalah mayit, namun tidak membuat batal wudhunya mayit. Yang dimaksud dengan kulit luar di sini, yaitu di luar bagian rambut, gigi dan kuku. Sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhuna, Ibnu Hajar. Dikecualikan pula dari kulit luar yaitu selain bagian dalam mata. Hal tersebut berdasarkan firman Allah dalam surat an-Nisa ayat 43, أَوْلَامَسْتُمُ النِّسَاءَ أى لَمَسْتُمْ (atau kamu telah menyentuh perempuan). Seandainya seseorang ragu-ragu, apakah bagian yang disentuh adalah rambut atau kulit luar? Maka hal tersebut tidak membatalkan wudhunya. Sebagaimana juga tidak membatalkan wudhu, seandainya tangannya terjatuh di atas kulit luar yang ia tidak mengetahui, apakah kulit laki-laki atau perempuan? Atau seseorang ragu-ragu, apakah yang disentuhnya adalah mahramnya atau bukan mahramnya? Berkata Syaikhuna, Imam Syihabuddin Ahmad bin Muhammad bin Hajar al-Haytami, di syarah kitab al-‘Ubad, Seandainya seseorang diinformasikan oleh orang yang adil bahwa dirinya telah menyentuh kulit perempuan, atau telah keluar angin dari kemaluan belakangnya ketika tertidur dalam kondisi duduk yang memungkinkan menetapi tempat duduknya, maka wajib baginya untuk berpegang dari ucapan orang yang adil tersebut. Batalnya wudhu sebab pertemuan kulit luar luar antara laki-laki dan perempuan tersebut dengan syarat keduanya telah besar, yaitu telah mencapai batasan syahwat. Tidak membatalkan kepada wudhu bila keduanya masih kecil, atau salah satunya masih kecil, dengan alasan ketiadaan tempat bagi dugaan adanya syahwat. Yang dimaksud dengan usia kecil di sini, yaitu seseorang yang pada biasanya secara adat belum menimbulkan syahwat. Tidak pula membatalkan wudhu bila pertemuan kulit dilakukan oleh seseorang yang memiliki hubungan mahram, baik sebab nasab, sebab susuan, maupun sebab pernikahan, dengan alasan tidak ada dugaan syahwat. Seandainya berkumpul mahramnya dengan perempuan yang bukan mahram dalam jumlah yang terbatas namun sulit untuk membedakannya, kemudian ia menyentuh kepada salah satunya, maka tidak membatalkan kepada wudhunya. Demikian pula ketika mahramnya berkumpul bersama

dengan perempuan lain yang tidak terbatas jumlahnya, maka menurut pendapat yang lebih kuat tidak batal wudhunya.   

– ولا يرتفع يقين وضوءه أو حدث بظن ضده – ولا بالشك فيه المفهوم بالأولى فيأخذ باليقين استصحابا له

Keyakinan masih adanya wudhu atau masih dalam keadaan hadas, hukumnya tidak bisa dihilangkan dengan adanya dugaan kebalikan dari keduanya. Terlebih lagi bila didasarkan kepada keraguan. Maka yang diambil adalah keyakinannya, sebab berdasarkan atas hukum yang telah ada sebelumnya.

خاتمة – يحرم بالحدث صلاة وطواف وسجود وحمل مصحف وما كتب لدرس قرآن ولو بعض آية كلوح والعبرة فى قصد الدراسة والتبرك بحالة الكتابة دون ما بعدها وبالكتاب لنفسه أو لغيره تبرعا وإلا فآمره لا حمله مع متاع والمصحف غير مقصود بالحمل ومس ورقه ولو لبياض أو نحو ظرف أعد له وهو فيه لا قلب ورقه بعود إذا لم ينفصل عليه ولا مع تفسير زاد ولو احتمالا ولا يمنع صبي مميز محدث ولو جنبا حمل ومس نحو مصحف لحاجة تعلمه ودرسه ووسيلتهما كحمله للمكتب والإتيان به للمعلم ليعلمه منه ويحرم تمكين غير المميز من نحو مصحف ولو بعض آية وكتابته بالعجمية ووضع نحو درهم فى مكتوبه وعلم شرعي وكذا جعله بين أوراقه خلافا لشيخنا وتمريقه عبثا وبلع ما كتب عليه لا شرب محوه ومد الرجل للمصحف مالم يكن على مرتفع ويسن القيام له كالعالم بل أولى ويكره حرق ما كتب عليه إلا لغرض نحو صيانة فغسله أولى منه ويحرم بالجنابة المكث فى المسجد وقراءة قرآن بقصده ولو بعض آية بحيث يسمع نفسه ولو صبيا خلافا لما أفتى به النووي وبنحو حيض لا بخروج طلق صلاة وقراءة وصوم ويجب قضاءه لا الصلاة يل يحرم قضاؤها على الأوجه.     Penutup. Haram dengan sebab adanya hadas, yaitu melakukan shalat, thawaf, sujud tilawah atau syukur, membawa mushaf (al-Qur’an), membawa sesuatu yang dibuat untuk mencatat pelajaran al-Qur’an, meskipun untuk mencatat sebagian ayat, seperti papan. Adapun yang dilihat di dalam tujuan belajar dan menginginkan keberkahan, yaitu di saat mencatatnya, bukan keadaan setelah mencatat. Juga yang dilihat adalah orang yang mencatat, baik untuk dirinya atau untuk orang lain dalam rangka untuk berderma. Jika ia mencatat bukan dalam rangka berderma, maka yang diperhatikan adalah orang yang memerintahkannya. Tidak haram membawa al-Qur’an yang dibawa bersama dengan barang-barang lain, dengan catatan al-Qur’an bukan menjadi tujuan bawaan. Haram menyentuh lembaran mushaf, meskipun bagian lembaran mushaf yang tidak terdapat tulisan ayat al-Qur’an, atau wadah kantung yang dipersiapkan untuk membawa al-Qur’an. Tidak haram membalik lembaran al-Qur’an dengan kayu, apabila lembaran tersebut tidak terlepas dari kayu tersebut. Tidak haram membawa dan menyentuh mushaf yang disertai dengan tafsir yang lebih dominan, meskipun dengan cara menduga. Tidak dilarang anak kecil yang telah tamyiz, dalam keadaan hadas, meskipun juga dalam keadaan junub, membawa dan menyentuh al-Qur’an untuk kebutuhan belajar dan mempelajarinya, juga perantara keduanya, seperti membawa ke tempat belajar, dan membawa kepada guru untuk mendapatkan pengajaran darinya. Haram memberikan kuasa kepada anak yang belum tamyiz untuk membawa atau menyentuh al-Qur’an, meskipun separuh ayat. Haram menulis al-Qur’an dengan bahasa selain bahasa Arab. Haram meletakkan semisal uang di dalam sesuatu yang terdapat tulisan al-Qur’an dan di dalam buku-buku yang berisi ilmu-ilmu syar’i. Demikian juga haram meletakkan uang di antara lembaran-lembaran al-Qur’an. Berbeda dengan pendapat Syaikhuna Ibnu Hajar yang mengatakan tidak

haram meletakkan uang di antara lembaran-lembaran al-Qur’an. Haram merobek-robek al-Qur’an sebagai bahan permainan. Haram menelan sesuatu yang tertulis al-Qur’an. Tidak haram meminum bekas tulisan al-Qur’an yang telah terhapus. Haram pula memanjangkan kaki sejajar dengan al-Qur’an. Berbeda bila al-Qur’an berada pada posisi yang lebih tinggi maka tidak haram. Sunah berdiri untuk menghormati al-Qur’an, sebagaimana di sunahkan untuk berdiri sebab menghormati orang ‘alim. Bahkan berdiri untuk menghormati al-Qur’an lebih diutamakan. Dimakruhkan membakar sesuatu yang ada tulisan al-Qur’annya, terkecuali dengan tujuan untuk memeliharanya. Membasuhnya lebih utama ketimbang membakarnya. Haram bagi orang yang junub diam di masjid, menyengaja membaca al-Qur’an, meskipun separuh ayat. Batasan keharaman membaca al-Qur’an bagi orang junub, yaitu sekiranya dirinya mendengar bacaan yang dibacanya. Keharaman tersebut juga berlaku bagi anak kecil yang junub. Berbeda dengan Imam Nawawi yang berfatwa kepada tidak diharamkan membaca al-Qur’an bagi anak kecil yang junub. Begitpula keharaman berlaku bagi wanita yang haid. Tidak haram bagi wanita yang keluar darah disebabkan melahirkan untuk melakukan shalat, membaca al-Qur’an dan berpuasa. Wajib baginya untuk mengqadha puasa, tidak wajib mengqadha shalat, bahkan haram hukumnya menurut pendapat yang dipilih bila ia mengqadha shalatnya.  Wa Allahu A’lam bi Shawab .. 

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *