Hukum-hukum Syar’i yang terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 106-108.

Pertemuan ke- 45

Pengajian IPNU-IPPNU PAC KECAMATAN TARUMAJAYA

Kitab Rawa’i Al Bayan Tafsir Ayat Al Ahkam Min Al-Qur’an

Minggu, 17 Januari 2021

Oleh. Ahmad Lahmudin

الْحُكْمُ الرابعُ

Hukum yang keempat.

Apakah boleh menasakh sesuatu kepada yang lebih sulit dan lebih berat?

Berkata Imam al-Fakhrurrazi: Sekelompok orang berkata, tidak boleh menasakh sesuatu kepada sesuatu yang lain yang keadaannya lebih berat. Mereka berargumentasi bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman,   نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أَوْمِثْلِهَا (maka Kami mendatangkan dengan yang lebih baik atau yang semisalnya). Firman Allah Ta’ala tersebut meniadakan keadaan yang menasakh lebih berat dari yang dinasakh. Sebab bila yang menggantikan  lebih berat dari yang digantikan itu berarti tidak lebih baik atau tidak sepadan.

Jawabnya adalah, mengapa tidak boleh bahwa yang dimaksud lebih baik adalah sesuatu yang dari sisi pahalanya lebih besar kelak di akhirat? Kemudian, sesuatu yang menunjukkan kepada arti tersebut, yaitu bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala telah menasakh hukum para pezina, dari hukuman ditawan di rumah kepada hukuman jilid (dicambuk) dan dirajam (dilempar batu hingga meninggal). Allah telah menasakh kewajiban puasa satu hari tanggal 10 Muharram, diganti dengan puasa di bulan Ramadhan. Allah juga telah menasakh kewajiban shalat dua rakaat menjadi empat rakaat ketika kondisi tidak dalam perjalanan.

Ketika engkau mengetahui ini maka kamipun mengatakan: Adapun menasakh sesuatu kepada yang lebih berat maka telah terjadi pada contoh-contoh yang telah disebutkan di atas. Adapun menasakh sesuatu kepada yang lebih ringan, maka seperti menasakh hitungan iddah selama satu tahun bagi seorang wanita yang ditinggal mati suaminya menjadi empat bulan ditambah sepuluh hari, seperti juga menasakh kewajiban shalat malam kepada pilihan boleh dilakukan boleh pula ditinggalkan. Adapun manasakh sesuatu kepada sesuatu yang secara kwalitas seimbang, seperti perpindahan kiblat dari Baitul Maqdis kepada menghadap Ka’bah.

الْحُكْمُ الْخامِسُ

Hukum yang kelima.       

Apakah nasakh bisa terjadi pada kalam khobar (perkataan yang mungkin benar dan mungkin salah)? Jumhur (mayoritas ulama) berpendapat bahwa nasakh hanya terjadi pada amar (menuntut untuk diperbuat) dan nahi (menuntut untuk dicegah dari berbuat). Sedangkan khobar tidak masuk kedalam nasakh. Sebab mustahil Allah Ta’ala melakukan kesalahan.

Ada yang berpendapat, sesungguhnya pada kalam khobar ketika mengandung hukum syar’i maka boleh menasakh, seperti firman Allah Ta’ala dalam surat An-Nahl ayat 67;

وَمِنْ ثَمَرَاتِ النَّخِيْلِ وَالْاَعْنَابِ تَتَّخِذُوْنَ مِنْهُ سَكَرًا

‘Dan dari buah kurma dan anggur, kamu membuat minuman yang memabukkan’

Berkata Imam Ibnu Jarir ath-Thabari: Maksud dari firman Allah,  مَا نَنْسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْنُنْسِهَا , yaitu “Apabila Kami pindahkan hukumnya satu ayat kepada yang lainnya, maka ayat tersebut Kami ganti dan Kami rubah” Hal tersebut Allah mengganti halal kepada haram, mengganti haram kepada halal, mengganti yang boleh menjadi tidak boleh, mengganti tidak boleh menjadi boleh. Itu tidak bisa terjadi terkecuali di dalam amar, nahi, larangan, kebebasan, mencegah, dan kebolehan. Adapun di dalam khobar maka tidak bisa terjadi nasikh (yang membatalkan) dan mansukh (yang dibatalkan).

Imam al-Qurthubi berkata: Seluruh nasakh hanya terjadi pada masa hidupnya Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam. Adapun setelah wafatnya Nabi dan syariat telah baku, maka umat ijma’ (sepakat) bahwasanya sudah tidak ada nasakh lagi. Oleh karena itu ijma (kesepakatan) umat tidak dapat menasakh, tidak pula bisa dinasakh. Sebab terjadinya ijma’ setelah terputusnya wahyu. Maka renungkanlah ini! Ini terasa sangat indah!

ما تُرْشَدُ إليه اﻟﺂياتُ الكريمةُ

Hal-hal yang ditunjukkan oleh ayat-ayat yang mulia

  1. Menasakh hukum-hukum hukumnya boleh secara ijma’ (konsensus ulama), sebagaimana ditunjukkan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah.
  2. Syariat yang indah ini memperhatikan kepada kemaslahatan manusia. Oleh karena itu terjadilah nasakh di sebagian hukum-hukum.
  3. Nasakh tidak bisa terjadi di dalam khobar dan kisah-kisah. Nasakh hanya bisa terjadi di dalam hukum-hukum tentang halal dan haram.
  4. Tempat kembali semua hukum yaitu Allah Ta’ala. Dia yang telah membuat syariat (aturan) yang terbaik dan kebahagiaan teruntuk hamba-hambanya.
  5. Allah Jalla Jalaluh, Maha Perkasa, Malikul Mulk, Maha Raja. Wajib tunduk kepada hukum-Nya dan perintah-Nya, teriring kedamaian di hati.
  6. Tidak ada bagi pribadi muslim untuk meminta kepada nabinya dengan permintaan yang menyusahkan, sebagaimana perbuatan kaum Yahudi kepada nabi mereka.

Berpaling dari jalan istiqomah dan berjalan di jalannya orang-orang yang tersesat menjadi sebab dari kesengsaraan.

Wa Allahu A’lam ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *