Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah

Pertemuan ke – 38

Syekh Abi Abdullah Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abbad An Nafazi Ar Randi

Ranting NU Bogasari dan HMR

Selasa, 19 Januari  2021

Oleh. Ahmad Lahmudin

اُخْرُجْ مِنْ أَوصافِ بَشَرِيَّتِهِ عن كُلِّ وصْفٍ مُناقِضٍ لِعبودِيَّتِكَ لتكونَ لِنداء الحق مُجيبا , ومِنْ حضْرته قَريبًا

‘Keluarlah kamu dari semua sifat-sifat kemanusiaanmu yang tercela yang bertentangan dengan sifat ketaatanmu. Agar kamu dapat memenuhi panggilan Allah serta dekat di hadapan-Nya’

Sifat-sifat kemanusiaan yang terkait dengan persoalan agama terbagi dua. Pertama, sesuatu yang terkait dengan zohir (apa-apa yang terlihat) dari hamba dan segala aktivitas dari anggota tubuhnya. Inilah yang disebut dengan a’mal (amal-amal). Kedua, sesuatu yang terkait dengan batin (yang tidak terlihat) dari hamba beserta aktivitas hatinya. Ini dinamai dengan ‘uqud (akad-akad).

Sesuatu yang terkait dengan zohir (apa-apa yang terlihat) dari hamba dan segala aktivitas dari anggota tubuhnya, terbagi menjadi dua bagian. Pertama, Sesuatu tersebut sesuai dengan perintah agama, dinamai dengan taat. Kedua, bila bertentangan dengan perintah agama dinamai dengan ma’siat.

Sesuatu yang terkait dengan batin (yang tidak terlihat) dari hamba beserta aktivitas hatinya, terbagi pula menjadi dua bagian. Pertama, sesuai dengan hakikat, maka dinamai dengan iman dan ‘ilm. Kedua, tidak sesuai dengan hakikat, maka dinamai dengan nifaq dan jahl (kebodohan).

Berfikir tentang sesuatu yang terkait dengan perilaku yang terlihat dari seorang hamba, menurut istilah dinamai dengan ‘tafaqquh’. Sedangkan berfikir tentang sesuatu yang terkait dengan hatinya seorang hamba, menurut istilah disebut dengan ‘tashawwuf’.

Dua perkara ini, seluruhnya ada pada setiap hamba. Zohirnya pasti ikut kepada batinnya. Sebab hati merupakan raja. Sedangkan anggota badan lainnya merupakan tentara dan rakyatnya. Rakyat biasanya ikut kepada titah sang raja serta patuh kepada larangannya. Sungguh, Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam telah meberitahukan kepada hal ini dengan sabdanya;

 إِنّ فى الجسدِ مُضْغَةٌ إذا صَلَحَتْ صلح الجسد كله , وإذا فسدتْ فسد الجسد كله ألا وهي القلب . ‘Sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila segumpal daging tersebut baik, maka baik pula kondisi seluruh tubuh. Namun, apabila rusak maka rusak pula kondisi seluruh tubuh. Tahukah engkau? Yaitu hati.

Baiknya hati hanya bisa dilakukan dengan cara membersihkannya seluruh sifat-sifat tercela darinya, baik yang kecil maupun yang besar. Sifat-sifat tercela merupakan sifat-sifat yang berlawanan dari sifat-sifat ketaatan yang menjadi bagian dari sifat manusia. Sebagaimana yang diisyaratkan oleh Imam Ibnu Atha’illah Rahmahullahu Ta’ala. Sifat tercela dapat meracuni pemiliknya, dengan racun kemunafikan dan kefasikan. Sifat tercela banyak macamnya, seperti kesombongan, berbangga diri, riya, sum’ah (menjaga reputasi), dendam, iri hati, mencintai harta dan kedudukan. Dari sifat tercela yang pokok ini kemudian bercabang menjadi permusuhan, kebencian, merendahkan diri kepada orang-orang yang berada, memandang rendah kepada orang-orang fakir, tidak meyakini akan datangnya rizki, khawatir akan kehilangan tempat di hati manusia, kikir, bakhil, panjang angan-angan, bersuka ria hingga kelewat batas, menyalahgunakan kenikmatan, dengki, berbangga diri, berpura-pura, menjilat, keras hati, berkata kasar, kejam, lalai, tidak ramah, gegabah, tergesa-gesa, pemarah, semangat yang menggelora sehingga memandang rendah, tidak lapang dada, sedikit kasih sayang, sedikit rasa malu, meninggalkan sifat qanaah (merasa puas atas apa yang diterimanya), cinta kekuasaan, minta dihormati dan dimenangkan untuk dirinya apabila mendapatkan kehinaan, merasa tidak punya harga diri ketika ucapannya ditentang, dan lainnya yang merupakan  bagian sifat-sifat tercela dan akhlak yang tercela.

Asal dari cabang sifat-sifat tercela tersebut, tidak lain adalah riyanya jiwa, ridhonya jiwa, mengagungkan kemampuan jiwa, dan meninggikan kepada urusan jiwa. Dengan persoalan-persoalan ini, menjadi kafir orang yang kafir, menjadi munafik orang yang munafik, dan menjadi durhaka orang yang berbuat maksiat. Dengan ini pula, seseorang melepaskan dari lehernya, tali ikatan ibadah kepada Tuhannya Azza wa Jalla. Cukuplah dengan apa yang akan dikatakan oleh Imam Ibnu Atho’illah  rahimahullah setelah ini, “Keadaan seorang sufi, yaitu hanya berfikir tentang cara-cara riyadhah (latihan-latihan) dan mujahadah (bersungguh-sungguh) untuk mensucikan dan membersihkan sifat-sifat tercela tersebut. Mereka menjelaskan metodenya tersebut di dalam kitab-kitab mereka”. Syekh Abu Thalib radhiallahu ‘anhu berkata, “Tidak dikatakan bagi seorang murid sebagai pribadi yang mengganti, sehingga ia dapat mengganti sifat-sifat ketaatan menjadi sifat-sifat ketuhanan, mengganti akhlak-akhlak setan menjadi sifatnya orang-orang mu’min, dan mengganti tabiat-tabiat kebinatangan menjadi sifat spiritual, berupa zikir-zikir dan ilmu-ilmu. Maka bagi seorang murid, kini ia memiliki pengganti di samping sifat-sifat tercelanya”            

Wa Allahu Ta’ala Waliyyu at-Taufik

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *