Hikmah disyari’atkannya surat Al-Baqarah ayat 106-108

Pertemuan ke- 46

Pengajian IPNU-IPPNU PAC KECAMATAN TARUMAJAYA

Kitab Rawa’i Al Bayan Tafsir Ayat Al Ahkam Min Al-Qur’an

Minggu, 24 Januari 2021

Oleh. Ahmad Lahmudin

حِكْمةُ التَّشْرِيْعِ

Hikmah disyari’atkannya surat Al-Baqarah ayat 106-108.

Syariat Islam yang indah, datang untuk merealisasikan kemaslahatan bagi manusia, berjalan sesuai dengan perkembangan zaman, layak untuk setiap waktu dan tempat. Termasuk rahmat Allah Tabaraka wa Ta’ala teruntuk hamba-Nya, Dia menetapkan hukum bagi manusia secara berangsur-angsur. Agar setiap manusia siap pada posisi yang paling sempurna untuk menerima beban-beban syariat tersebut. Maka mereka tidak akan merasakan jenuh, cemas, sukar dan berat. Agar senantiasa, syariat yang indah ini –sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah- sebagai syariat yang toleran, mudah, tidak ada kesulitan, tidak ruwet, tidak melampaui batas, juga tidak membebani!

Sebagaimana diketahui, bahwa hukum-hukum tidak disyariatkan terkecuali untuk kemaslahatan manusia. Kemaslahatan ini berbeda-beda disesuaikan dengan perbedaan waktu dan tempat. Apabila disyariatkan satu hukum di suatu waktu, maka timbul kebutuhan kepada hukum tersebut. Manakala kebutuhannya sudah hilang, maka termasuk hikmahnya yaitu dinasakh dan diganti hukum tersebut dengan hukum yang disesuaikan dengan waktu yang lain. Maka pergantian dan perubahan ini lebih dekat kepada kemaslahatan dan lebih bermanfaat bagi manusia. Perumpamaannya itu, seperti dokter yang merubah makanan dan obat-obat bagi orang yang sakit, disesuaikan dengan pembawaan tubuh, kesanggupan dan kesiapan untuk menerimanya. Para Nabi –mudaha-mudahan Allah memberikan rahmat teruntuk mereka semua -, mereka adalah para dokter bagi hati manusia, memperbaiki setiap jiwa. Untuk itu datang syariat mereka secara berbeda, mengikuti perbedaan waktu dan tempat. Hukum datang secara berangsur-angsur. Sebab hukum merupakan tempat pertemuan obat bagi tubuh. Maka boleh jadi, hukum-hukum di satu masa membawa kemaslahatan, di lain waktu menimbulkan kerusakan, layak bagi satu umat, tidak bagi umat yang lain.

Demikianlah, hukum Allah, Yang Maha Mengetahui, Yang Maha Bijaksana.

Dalam tafsir Mahasin al-Ta’wil, milik Imam Muhammad Jamaludin al-Qasim, dikatakan;

“Sesungguhnya Allah, Pencipta Tabaraka wa Ta’ala mengajarkan kepada umat bangsa Arab selama dua puluh tiga tahun secara bertahap. Tidak mungkin bisa sempurna untuk umat selainnya – dengan perantara para aktor dalam lingkungan sosialnya – terkecuali dalam waktu yang lama. Karena itu, hukum-hukum akan melihat kepada kesanggupan mereka untuk menerimanya. Ketika batas kesanggupan sudah mencapai puncaknya maka Allah akan mengganti hukum itu dengan hukum yang lain. Ini merupakan ketetapan Allah, Yang Mencipta, ke setiap individu dan umat dalam ketentuan yang sama.

Sesungguhnya engkau, apabila melihat kepada alam kehidupan ini, maka engkau akan melihat bahwa nasakh merupakan hukum yang normal yang dapat dirasakan dalam persoalan-persoalan yang bersifat keduniawian dan etika secara bersamaan. Perpindahan dari ketiadaan bentuk manusia menuju kepada janin, kemudian ke masa anak-anak, lalu tumbuh dewasa, menjadi pemuda, kemudian menjadi orang tua, beberapa saat kemudian menjadi renta. Sesuatu yang mengikuti seluruh garis edar ini memperlihatkan kepada kamu dengan sangat jelasnya dalil, bahwa pergantian di alam kehidupan merupakan ketetapan yang normal, juga nyata.

Apabila nasakh ini bukanlah sesuatu yang tidak lumrah dalam alam kehidupan, maka bagaimana mungkin tidak dikenal nasakhnya hukum dan menggantikannya hukum kepada hukum yang lain dalam umat yang berada di masa tumbuh kemudian bertahap dari yang paling rendah menuju kepada yang tempat tertinggi?!

Adakah manusia yang telah diberi akal sempurna dapat melihat, sesungguhnya termasuk hikmah, yaitu dibebaninya orang-orang Arab – dalam keadaan masa awal tumbuhnya mereka – dengan kewajiban yang menempel pada mereka di saat berada di usia puncak dan sempurna sebagai manusia ?!

Apabila secara realitas, ini jelas tidak dikatakan bagi orang yang memiliki akal sehat, bagaimana mungkin Allah – Hakim yang paling adil – membebani umat di periode masa kanak-kanak dengan sesuatu yang tidak bisa ditanggungnya terkecuali di periode masa remaja dan tuanya ..? Mana dua perkara yang lebih utama; Apakah syariat kita yang telah ditetapkan sendiri oleh Allah kepada batasan-batasannya, menasakh syariat yang diingini dengan ilmu-Nya, menyempurnakannya,

dengan tanpa kemampuan bagi manusia dan jin untuk menguranginya meskipun satu huruf, kemudian diterapkan di setiap waktu dan tempat, dan tidak menjauh dari apapun kondisi manusia? Atau syariat agama lain, yang telah dirubah oleh para pendetanya, dan hukum-hukumnya telah dinasakh oleh realitas – di mana mustahil dapat menerapkan syariatnya dalam kehidupan nyata – sebab meniadakan kepada apa yang menjadi tuntutan kehidupan manusia dari berbagai segi ..?!”           

  Wa Allahu A’lam ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *