Pengajian kitab Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratul ‘Ain (ke- 19)

Syekh Zainuddin Abdul Aziz Al-Malibari

Ranting NU Bogasari dan HMR

Sabtu,  23 Januari 2021

Oleh. Ahmad Lahmudin

– و- الطهارة (الثانية الغسل) هو لغة سيلان الماء على الشيء وشرعا سيلانه على جميع البدن بالنية ولا يجب فورا وإن عصى بسببه بخلاف نجس عصى بسببه والأشهر فى كلام الفقهاء ضم غينه لكن الفتح أفصح وبضمها مشترك بين الفعل وماء الغسل

Suci dari yang kedua (junub), yaitu dengan mandi. Mandi secara bahasa, yaitu mengalirkan air kepada sesuatu. Sedangkan secara syar’i, yaitu mengalirkan air ke seluruh badan dengan niat. Tidak wajib untuk mensegerakan mandi, meskipun seseorang berbuat maksiat yang menjadi sebab adanya mandi(seperti orang yang berzina). Berbeda dengan najis, seseorang berbuat maksiat yang menjadi sebab adanya najis (seperti orang yang melumuri dirinya dengan najis). Yang lebih masyhur dalam ungkapan para fuqoha, yaitu dibaca dhommah huruf ghainnya. Namun, dibaca fathah lebih fasih dari sisi bacaannya. Dibaca dhommah menunjukkan kepada lafaz musytarak, antara bermakna perbuatan atau bermakna air yang dibuat untuk mandi.    

– وموجبه-  أربعة أحدها (خروج منيه أولا) ويعرف بأحد خواصه الثلاث من تلذذٍ بخروجه أو تدفق أو ريح عجين رطبا وبياض بيض جافا فإن فقدت هذه الخواص فلا غسل نعم لو شك فى شيء أمنيٌ هو او مذي تخير ولو بالتشهى فإن شاء جعله منيا واغتسل أو مذيا وغسله وتوضأ ولو رأى منيا مخففا فى نحو ثوبه لزمه الغسل وإعادة كل صلاة تيقنها بعده ما لم يحتمل عادة كونه من غيره Sebab-sebab mandi yaitu empat. Pertama, disebabkan keluarnya air mani yang pertama (berbeda bila seseorang memasukkan kembali air mani yang telah keluar lalu keluar untuk kali kedua maka tidak wajib mandi). Air mani dapat diketahui dengan salah satu dari tiga tanda, yaitu dengan merasakan lezat saat keluarnya air mani, atau dengan jalan memancar, atau baunya seperti adonan roti ketika kondisi air mani dalam keadaan lembab dan seperti putih telur dalam keadaan kering. Apabila tidak terdapat tiga kondisi tersebut maka tidak wajib mandi. Iya demikian, namun apabila ragu-ragu, apakah air mani atau air mazi maka boleh untuk memilih. Seandainya dibarengi dengan syahwat, maka jika dijadikan mani dia harus mandi, bila dijadikan mazi dia cukup membasuhnya kemudian berwudhu. Seandainya ia melihat air mani yang telah kering maka wajib baginya mandi dan mengulang tiap-tiap shalat

yang diyakini keberadaannya setelah adanya air mani. Dengan catatan, selama tidak ada kemungkinan tidak berasal dari orang lain.  

– و- ثانيها (دخول حشفة) أو قدرها من فاقدها ولو كانت من ذكر مقطوع أو من بهيمة أو ميت (فرجا) قبلا أو دبرا (ولو لبهيمة) كسمكة أو ميت ولا يعاد غسله لانقطاع تكليفه

Kedua, masuknya hasyafah (pucuk zakar) atau kadarnya dari seseorang yang terpotong hasyafahnya, meskipun berasal dari zakar (kemaluan orang laki-laki) yang terpotong, atau zakar dari binatang, atau dari mayit, ke dalam farji (lubang kemaluan perempuan), baik lubang depan maupun belakang, meskipun farji binatang, seperti ikan, atau mayit. Tidak diulang mandi bagi mayit sebab telah terputus taklifnya.

– و- ثالثها (حيض) أى انقطاعه وهو دم يخرج من أقصى رحم المرأة فى أوقات مخصوصة (واقل سنه تسع سنين قمرية) لأى استكمالها نعم إن رأته قبل تمامها بدون ستة عشر يوما فهو حيض وأقله يوم وليلة وأكثره خمسة عشر يوما كأقل طهر بين الحيضتين ويحرم به ما يحرم بالجنابة ومباشرة ما بين سرتها وركبتها وقيل لا يحرم غير الوطء واختاره النووى فى التحقيق لخبر مسلم اصنعوا كل شيء الا النكاح وإذا انقطع دمها حل لها قبل الغسل صوم لا وطء خلافا لما بحثه العلامة الجلال الشيوطى رحمه الله

Ketiga, haid. Maksudnya terputusnya haid. Yaitu darah yang keluar dari pangkal rahimnya seorang wanita di waktu-waktu tertentu. Batas minimal usia haid yaitu telah sempurna sembilan tahun penanggalan komariah. Bila seorang wanita melihat haid sebelum sempurna sembilan tahun, kurang dari enam belas hari, maka termasuk haid. Paling sedikitnya haid adalah sehari semalam. Paling banyaknya haid yaitu lima belas hari, sama seperti paling sedikitnya masa suci yang ada di antara dua masa haid. Keharaman di dalam haid seperti keharaman yang terdapat dalam junub. Haram pula menggauli anggota tubuh istri yang berada di antara pusat perut dan lutut. Ada yang berpendapat tidak diharamkan terkecuali bersetubuh. Pendapat ini dipilih oleh Imam Nawawi di dalam kitab at-Tahqiq, dengan alasan hadis Imam Muslim;

اصنعوا كل شيء الا النكاح

‘Gaulilah istri-istri kalian terkecuali bersetubuh’

Apabila telah terputus darah haidnya seorang wanita, maka diperbolehkan untuk berpuasa, tidak diperbolehkan untuk digauli. Berbeda dengan al-‘Allamah al-Jalal as-Suyuthi Rahimahullah, yang mengatakan diperbolehkan untuk digali.  – و- رابعها (نفاس) أى انقطاعه وهو دم حيض مجتمع يخرج بعد فراغ جميع الرحم وأقله لحظة وغالبه أربعون يوما وأكثره ستون يوما ويحرم به ما يحرم بالحيض ويجب الغسل أيضا بولادة ولو بلا بلل وإلقاء علقة ومضغة وبموت مسلم غير شهيد

Keempat, nifas. Maksudnya terputusnya nifas. Yaitu sekumpulan darah haid yang keluar setelah kosongnya seluruh rahim. Paling sedikitnya masa nifas yaitu sekejap mata. Pada biasanya adalah empat puluh hari. Paling lamanya yaitu enam puluh hari. Keharaman pada nifas seperti keharaman yang ada pada haid. Wajib pula mandi disebabkan oleh melahirkan, meskipun tanpa basah, meskipun juga yang terlahir adalah segumpal darah, segumpal daging, dan sebab matinya seorang muslim yang bukan mati syahid.

– وفرضه – أى الغسل شيئان أحدهما (نية رفع الجنابة) للجنب أو الحيض للحائض أى رفع حكمه (أو) نية (أداء فرض الغسل) أو رفع حدث أو الطهارة عنه أو أداء الغسل وكذا الغسل للصلاة لا الغسل فقط ويجب أن تكون النية (مقرونة بأوله) أى الغسل يعنى بأول مغسول من البدن ولو من أسفله فلو نوى بعد غسل جزء وجب إعادة غسله ولو نوى رفع الجنابة وغسل بعض البدن ثم نام فاستيقظ وأراد غسل الباقى لم يحتج إلى إعادة النية

Fardhunya mandi ada dua. Pertama, niat menghilangkan junub bagi orang yang junub, atau menghlangkan haid bagi wanita yang haid. Maksud menghilangkan di sini adalah menghilangkan hukum ketiadaan diperbolehkan semisal shalat yang disebabkan oleh junub atau haid. Atau niat menghilangkan hadas, atau niat bersuci dari hadas, atau niat melaksanakan mandi, atau niat mandi untuk shalat. Tidak cukup dengan hanya niat mandi. Niat wajib dibersamakan dengan anggota tubuh yang pertama kali dibasuh, meskipun dimulai dari bagian bawah anggota tubuh. Seandainya berniat setelah membasuh anggota bagian tubuh maka wajib mengulangi basuhannya. Seandainya seseorang berniat menghilangkan junub dan membasuh sebagian tubuhnya kemudian tidur. Saat terbangun ia berkeinginan membasuh sisa bagian tubuh yang belum dibasuh, maka tidak perlu baginya untuk mengulangi niat.   

– و- ثانيها (تعميم) ظاهر (بدن حتى) الأظفار وما تحتها و (الشعر) ظاهرا وباطنا وإن كثف وما ظهر من نحو منبت شعرة زالت قبل غسلها وصماخ وفرج امرأة عند جلوسها على قدميها وشقوق (وباطن جُدَرِيٍّ) انفتح رأسه لا باطن قرحة برئت وارتفع قشرها ولم يظهر شيء مما تحته ويحرم فتق الملتحم (وما تحت قلفة) من الأقلف فيجب غسل باطنها لأنها مستحقة الإزالة لا باطن شعر انعقد بنفسه وان كثر ولا يجب مضمضة واستنشاق بل يكره تركهما (بماء طهور) ومر أنه يضر تغير الماء تغيرا ضارا ولو بما على العضو خلافا لجمع Fardhu mandi yang kedua, yaitu meratakan bagian luar tubuh, hingga kuku dan bagian dalamnya, rambut bagian luar dan dalamnya, meskipun tebal, meratakan sesuatu yang terlihat di seumpama tempat tumbuhnya rambut yang hilang sebelum dibasuh, yang terlihat dari lubang telinga, yang terlihat pada farji wanita di saat ia duduk di antara kedua kakinya, yang terlihat pada retak-retak yang ada di tubuh, yang terlihat di bagian dalam penyakit cacar. Tidak wajib meratakan air pada bagian dalam luka yang bernanah yang telah sembuh dan telah terangkat kulitnya, namun tidak terlihat sesuatu yang berada di bagian bawah kulit. Haram membuka

jari-jari tangan dan kaki yang menempel. Wajib pula membasuh sesuatu yang berada di bawah kulup orang yang belum sunat. Kewajiban membasuh bagian dalam kulup disebabkan secara hukum kulup masuk ke dalam bagian luar yang semestinya harus dibersihkan. Tidak wajib meratakan air ke bagian dalam rambut yang menggumpal dengan sendirinya, meskipun banyak. Tidak wajib berkumur-kumur dan menghirup air ke dalam hidung, namun makruh apabila ditinggalkan. Diratakan dengan menggunakan air yang suci. Sebagaimana yang lalu di dalam syarat-syarat wudhu, yaitu air yang tidak berubah dengan perubahan yang tidak bisa ditolerir, meskipun oleh sesuatu yang berada di anggota tubuh yang bisa merubah keadaan air, seperti kunyit. Berbeda dengan sebagian ulama yang mentolerir perubahan air yang disebabkan oleh keberadaan sesuatu pada anggota tubuh.     

(ويكفى ظن عمومه) أى الماء على البشرة والشعر وإن لم يتيقنه فلا يجب تيقن عمومه بل يكفى غلبة الظن به فيه كالوضوء.    

Basuhan dianggap cukup dengan menduga telah maratanya air pada kulit dan rambut, meskipun tidak meyakini dengan tidak meratanya air. Maka tidak wajib meyakini bahwa air telah merata. Cukup dengan kuatnya dugaan bahwa air telah merata, sebagaimana di dalam maslah wudhu.

Wa Allahu A’lam bi Shawab ..                                                                       

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *