Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah

Pertemuan ke – 39

Syekh Abi Abdullah Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abbad An Nafazi Ar Randi

Ranting NU Bogasari dan HMR

Selasa, 26 Januari  2021

Oleh. Ahmad Lahmudin

اُخْرُجْ مِنْ أَوصافِ بَشَرِيَّتِهِ عن كُلِّ وصْفٍ مُناقِضٍ لِعبودِيَّتِكَ لتكونَ لِنداء الحق مُجيبا , ومِنْ حضْرته قَريبًا

‘Keluarlah kamu dari semua sifat-sifat kemanusiaanmu yang tercela yang bertentangan dengan sifat ketaatanmu. Agar kamu dapat memenuhi panggilan Allah serta dekat di hadapan-Nya’

Berkata Syekh Abu Thalib, “Jalan menuju kepada ini (mengganti sifat-sifat tercela dengan sifat-sifat yang terpuji), yaitu dengan menguasai nafsunya. Dengan sebab memilikinya maka nafsunya akan ditundukkan dan dikuasai. Jika engkau berkeinginan untuk menguasai nafsumu maka jangan engkau memilikinya. Persempit dan jangan engkau beri keluasan kepada nafsumu. Jika engkau memilikinya maka ia akan memilikimu. Jika engkau tidak persempit maka ia akan memiliki keluasan. Jika engkau ingin mengalahkannya maka jangan engkau bentangkan kepada keinginannya. Tawanlah ia, agar tidak menjadi kebiasaan bermain dengannya. Jika engkau tidak menangkapnya maka ia akan pergi sambil membawamu. Jika engkau berkeinginan untuk mengatasinya maka lemahkanlah dengan cara memotong setiap sesuatu yang menjadi perantaranya, menahan setiap sesuatu yang disenanginya. Jika tidak demikian, maka ia akan mengalahkanmu, ia akan melemparkanmu” Apabila murid telah melakukan itu, menurut cara yang telah ditulis oleh para ulama. Kemudian ia mewajibkan dirinya kepada tugas-tugas yang telah diperintahkan. Maka menjadi suci hatinya dan bersih jiwanya. Jiwanya disifati dengan sifat-sifat yang terpuji. Kepribadiannya dihiasi dengan sifat terpuji ketika bersama dengan manusia. Didapati tujuan utamanya, yaitu dekat kepada Tuhannya. Maka tampak ketika itu jejak-jejak sifat terpuji, berupa sifat tawadhu karena Allah, khusu di hadapan-Nya, mengagungkan perintah-Nya, menjaga setiap ketentian-Nya, takut kepada-Nya, khawatir dari-Nya, merasa hina di hadapan-Nya, ikhlas beribadah kepada-Nya, ridho dengan ketentuan-Nya, melihat kebaikan baginya terhadap larangan dan pemberian-Nya. Ketika bersama dengan makhluk ciptaan-Nya, dihiasi dirinya dengan kasih sayang, lemah lembut, ramah, lapang dada, sabar, menahan dengan sabar,

menjaga, bersih, amanah, terpercaya, belas kasihan, tidak tergesa-gesa, tenang, dermawan, murah hati, rasa malu, wajah yang berseri, menasihati, damai, dan lainya, berupa akhlak iman. Dengan itu semua, seorang hamba akan mendapatkan puncak kebahagiaan, kebaikan dan tambahan.

Aku katakan: Dua makna ini, yang diungkapkan oleh para ulama sufi dengan ungkapan at-Takhalli (mengosongkan) dan at-Tahalli (berhias). Maksudnya, mengosongkan diri dari sifat-sifat tercela dan menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji. Mereka juga memberi ungkapan lain, yaitu at-Tazkiah (membersihkan) dan at-Tahliah (menjadi manis). Keduanya merupakan hakikat dari suluk (perjalanan menuju kepada Tuhan) yang juga menjadi ungkapan mereka. Akan datang isyarat kepada cara tersebut dalam perkataan Imam Ibnu Atha’illah;

لو لا ميادينُ النفوس ما تَحَقَّقَ سيرُ السائرين

‘Seandainya tidak ada medan bagi nafsu-nafsu maka niscaya tidak terwujud perjalanan bagi para salik (orang-orang yang menuju kepada Tuhan)’

Apabila telah benar perjalanan ini bagi seorang murid. Dia telah kembali kepada tempat menetap yang terbaik. Maka telah terwujud ibadahnya hanya kepada Tuhannya Azza wa Jalla. Tidak ada yang menguasainya terkecuali Dia. Tidak ada yang memilikinya kecuali Dia. Telah naik kedekatannya kepada Tuhannya, menuju kepada tempat termulia. Maka di sanalah tempat tinggalnya dan tempat kembalinya. Ketika itulah, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ibnu Atha’ilah Rahimahullahu Ta’ala, ia menjawab kepada panggilan Tuhannya. Maka berkata Tuhan kepadanya, “Wahai hamba-Ku!” Ketika itu, ia menjawab panggilan Tuhannya dengan sebutan ‘Tuhan’. Diapun menjawab panggilan Tuhannya, “Aku penuhi panggilanmu wahai Tuhanku!” Maka Allah membenarkan atas jawaban hamba tersebut, dan menjadi nyata dinisbatkan kepada-Nya. Juga menjadi dekat berada di hadapan-Nya. Jauhnya Tuhan meninggalkannya lebih disebabkan oleh karena dirinya takut dan lari dari hadapan-Nya.

Apabila Allah telah menempatkannya di tempat taat. Diapun telah mendapatkan tempat yang dekat di hadapan-Nya. Maka ia akan dijaga dari terjerumus ke dalam dosa-dosa. Dipermudah teruntuknya kepada amal-amal yang terbaik. Dihiasi, zohir dan batinnya dengan perhiasan yang termulia. Dia memperoleh keutamaan diserupakan dengan kelompok para malaikat. Allah Azza wa Jalla berfirman dalam surat al-Anbiya ayat 19-20; وَمَنْ عِنْدَهُ لا يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبادَتِهِ ولا يَسْتَحْسِرُوْنَ . يُسَبِّحُوْنَ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ لَا يَفْتُرُوْنَ.

‘Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, tidak mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan pula merasa letih. Mereka (malaikat-malaikat) bertasbih tidak henti-hentinya malam dan siang’

Allah Ta’ala berfirman dalam surat al-A’raf ayat 206;

اِنَّ الذين عنْد رَبِّكَ لا يَسْتَكْبِرُوْنَ عن عِبادَتِهِ ويُسَبِّحُوْنَهُ وله يَسْجُدُوْنَ

‘Sesungguhnya orang-orang yang ada di sisi Tuhanmu tidak merasa enggan untuk menyembah Allah dan mereka menyucikan-Nya dan hanya kepada-Nya mereka bersujud’

Allah Ta’ala juga berfirman dalam surat at-Tahrim ayat 6;

لَا يَعْصُوْنَ اللهَ مَا اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

‘mereka para malaikat tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan’

Termasuk golongan taat, mereka mendapatkannya sebagai sebuah kekhususan. Demikian juga mereka disamakan dengan malail a’la (para malaikat) sebab sifat-sifat baik mereka sebagai sebuah pilihan menjadi pribadi sufi. Namun mereka adalah orang-orang yang terjaga, bukan orang-orang yang terpelihara, sesuai dengan perbedaan yang mereka definisikan tentang al-Hifdzu (terjaga) dan al-Ishmah (terpelihara). Perbedaan di antara keduanya, sesuai dengan apa yang telah dikatakan oleh Imam Abu al-Qasim al-Qusyairi Radiallahu ‘Anhu, “Al-Ma’sum yaitu yang tidak melakukan dosa sama sekali. Sedangkan al-Mahfudz masih ada keinginan-keinginan. Terkadang orang yang mahfudz melakukan kesalahan-kesalahan, namun dilakukan dengan tidak terus menerus. Mereka adalah orang-orang yang kembali kepada Allah dalam waktu yang dekat”

Allah Ta’ala menyifati hamba-hamba-Nya yang memiliki kekhususan kepada pribadi yang mensucikan dan membersihkan dirinya di dalam  ayat-ayat al-Qur’an dengan sifat-sifat yang agung dan besar. Dipersiapkan teruntuk mereka kebaikan-kebaikan yang banyak. Allah Ta’ala berfirman dalam surat al-Furqon ayat 63-76;

وَعِبَادُ الرَّحْمنِ الذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الأَرْضِ هَوْنًا وَّإِذَا خَاطَبَهُمْ الْجَاهِلُوْنَ  …. خَالِدِيْنَ فِيْهَا حَسُنَتْ مُسْتَقَرًّ وَّمُقَامًا ‘Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan dengan rendah hati dan

apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan “salam” … mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baiknya tempat menetap dan tempat kediaman’

Wajib bagimu untuk berfikir tentang maksud ayat yang dikatakan oleh ahli tafsir, dan sesuatu yang didapati dari hasil istinbat oleh para ahli isyarat dan zikir. Adapun orang-orang yang selain mereka adalah para hamba nafsu-nafsu mereka yang diliputi oleh syahwat, mereka menjadi budak kehidupan dunia. Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-Jasiyah ayat 23;

اَفَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلهَهُ هَوهُ

‘Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya?’

Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda;

تَعِسَ عبدُ الدينار … تَعِسَ عبد الدرهم .. الحديث

‘Celaka budaknya dinar … Celaka budaknya dirham’

Mereka merupakan hamba-hamba yang akan disebutkan satu persatu yang telah ditentukan, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surat Maryam ayat 93-95;

اِنْ كُلُّ مَنْ فِى السَّموَاتِ والْأَرْضِ اِلَّا آتِى الرَّحْمنِ عَبْدًا . لَقَدْ أَحْصَاهُمْ وَعَدَّهُمْ عَدًّا . وَكُلُّهُمْ آتِيْهِ يَوْمَ القِيَامَةِ فَرْدًا .

‘Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, melainkan akan datang kepada Allah Yang Maha Pengasih sebagai seorang hamba. Dia (Allah) benar-benar telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan setiap orang dari mereka akan datang kepada Allah sendiri-sendiri pada hari Kiamat’ Ketahuilah olehmu, sesungguhnya tidak dipersiapkan jalan ini untuk menuju kepada Yang Maha Raja terkecuali teruntuk seseorang yang telah diberi taufiq oleh Allah Ta’ala untuk mengenali dirinya dan mengenali sifat-sifat tercela yang dirinya perbuat. Barang siapa yang mengetahui hal tersebut dari dirinya maka ia akan terus menerus waspada dengan menduga dirinya melakukan kesalahan. Seraya mengambil kehati-hatian dari dirinya. Jika tidak maka tanpa terasa ia akan terjerumus ke dalam maksiat-maksiat dan dosa-dosa.

Sungguh, Imam Ibnu Atha’illah Rahimahullahu Ta’ala akan mengingatkan hal tersebut dengan perkataannya di lain kesempatan!  

Wa Allahu Ta’ala Waliyyu at-Taufik

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *