Pengajian kitab Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratul ‘Ain (ke- 21)
Syekh Zainuddin Abdul Aziz Al-Malibari

Ranting NU Bogasari dan HMR
Sabtu, 6 Februari 2021

Oleh. Ahmad Lahmudin

وثانيها – أى ثانى شروط الصلاة (طهارة بدن) ومنه داخل الفم والأنف والعينين (وملبوس) وغيره من كل محمول له وإن لم يتحرك بحركته (ومكان) يصلى فيه (عن نجس) غير معفو عنه فلا تصح الصلاة معه ولو ناسيا أو جاهلا بوجوده أو بكونه مبطلا لقوله تعالى وثيابك فطهر ولخبر الشيخين ولا يضر محاذاة نجس لبدنه لكن تكره مع محاذاته كاستقبال نجس أو متنجس والسقف كذلك إن قرب منه بحيث يعد محاذيا له عرفا

Syarat shalat yang kedua, yaitu bersihnya tubuh, termasuk ke dalam tubuh yang wajib dibersihkan adalah bagian dalam mulut, hidung, dan mata, pakaian yang dikenakan, segala sesuatu yang dibawa, meskipun tidak bergerak saat melakukan aktivitas shalat, tempat yang dijadikan shalat, seluruhnya bersih dari najis yang tidak dapat ditolerir. Tidak sah shalat bila terdapat najis pada tubuh, pakaian dan tempat shalat, meskipun dalam keadaan lupa, atau tidak mengetahui adanya najis, lupa atau tidak tahu bahwa adanya najis dapat membatalkan shalat. Sebab firman Allah dalam surat Al-Muddassir, ayat 4;

وثِيابَكَ فَطَهِّرْ

‘Dan bersihkanlah pakaianmu’
Juga sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhor dan Imam Muslim.

Tidak membatalkan kepada kebsahan shalat ketika badan berhadapan dengan najis. Namun, shalat menjadi makruh ketika di hadapannya terdapat najis atau benda mutanajjis. Demikian pula, ketika najis atau benda mutanajjis berada di atap rumah yang berdekatan dari tempatnya shalat, sekiranya secara urf (kebiasaan) antara atap dan orang yang shalat dianggap dekat.

ولا يجب اجتناب النجس- فى غير الصلاة ومحله فى غير التضمخ به فى بدن أو ثوب فهو حرام بلا حاجة وهو شرعا مستقذر يمنع صحة الصلاة حيث لا مرخص فهو (كروث وبول ولو) كانا من طائر وسمك وجراد وما لا نفس له سائل

Tidak wajib di luar shalat untuk menjauhi najis. Tempat tidak wajib menjauhi najis yaitu pada selain melumuri badan atau baju dengan najis. Dengan alasan bahwa melumuri dengan najis adalah haram bila tidak ada hajat. Najis secara syar’i adalah sesuatu yang dianggap kotor, yang dapat menghalangi kepada sahnya shalat, di mana ketika tidak ada sesuatu yang meringankan. Contoh najis adalah kotoran (tahi) dan air kencing, meskipun keduanya berasal dari binatang burung, ikan, belalang, dan hewan yang tidak memiliki darah yang mengalir.

أو (من مأكول) لحمه على الأصح قال الأًصطخرى والرويانى من أئمتنا كمالك وأحمد أنهما طاهران من المأكول ولو راثت أو قائت بهيمة حبا فإن كان صلبا بحيث لو زرع نبت فمتنجس يغسل ويؤكل وإلا فنجس ولم يبينوا حكم غير الحب قال شيخنا والذى يظهر أنه إن تغير عن حاله قبل البلع ولو يسيرا فنجس وإلا فمتنجس وفى المجموع عن الشيخ نصر العفو عن بول بقر الدياسة على الحب وعن الجوينى تشديد النكير على البحث عنه وتطهيره وبحث الفزارى العفو عن بعر الفأرة إذا وقع فى مائع وعمت البلوى به وأما ما يوجد على ورق بعض الشجر كالرغوة فنجس لأنه يخرج من باطن بعض الديدان كما شوهد ذلك وليس العنبر روثا خلافا لمن زعمه بل هو نبات فى البحر

Atau kotoran atau air kencing itu berasal dari binatang yang dagingnya dapat dikonsumsi. Imam al-Astakhari dan Imam ar-Rauyani berkata, “Sesungguhnya Imam kita, seperti Imam Malik dan Imam Ahmad, mengatakan bahwa kotoran dan air kencing dari hewan yang halal dikonsumsi dagingnya adalah suci. Seandainya seekor binatang membuang kotoran atau muntah berupa biji. Jika biji tersebut keras, ketika ditanam akan tumbuh, maka biji tersebut termasuk mutanajjis, dapat dibersihkan dan dapat pula dimakan. Jika biji tersebut tidak keras maka termasuk benda najis. Para ulama fiqih tidak menjelaskan bagaimana hukum selain biji”. Berkata Syaikhuna, Ibnu Hajar, “Yang terlihat, yaitu apabila keadaannya berubah dari keadaan sebelum ditelan, meskipun perubahannya sedikit, maka termasuk benda najis. Jika keadaannya tidak berubah, maka termasuk benda mutanajjis, seperti halnya biji. Dalam kitab al-Majmu, dari Syekh Nashr, bahwa kencingnya sapi di atas biji saat menggiling biji ditolerir sebab darurat. Dari Imam al-Juwaini, bahwa ia mengingkari dengan keras tentang pembahasan dan sucinya biji yang terkena kencing sapi penggiling. Imam al-Fazari mentolerir kotoran tikus ketika terjatuh pada benda cair dan dianggap ammul balwa (sulit untuk dihindari). Adapun sesuatu yang dijumpai di atas sebagian daun pohon, seperti buih busa, itu termasuk najis, sebab keluar dari bagian dalam ulat-ulat, sebagaimana yang terlihat. Tidak termasuk ke dalam kotoran binatang laut, yaitu Anbar. Berbeda bagi yang berpendapat tidak demikian, bahkan dikatakan bahwa anbar sebagai tumbuh-tumbuhan di dalam laut.

ومذى- بمعجمة للأمر بغسل الذكر منه وهو ماء أبيض أو أصفر رقيق يخرج غالبا عند ثوران الثهوة بغير شهوة قوية (وودى) بمهملة وهو ماء أبيض كدر ثخين يخرج غالبا عقب البول أو عند حمل شيء ثقيل (ودم) حتى ما بقى على نحو عظم لكنه معفو عنه واستثنوا منه الكبد والطحال والمسك أى ولو من ميت إن انعقد والعلقةَ والمضغة ولبنا خرج بلون دم ودم بيضة لم تفسد

Termasuk najis adalah mazi, dengan titik pada huruf ‘dza’. Sebab ada perintah untuk membasuh mazi dari zakar. Mazi adalah cairan yang berwarna putih atau kuning, yang halus, biasanya keluar saat meluapnya syahwat, tanpa syahwat yang kuat. Termasuk najis pula, yaitu wadi, dengan tanpa titik pada huruf ‘dal’, yaitu cairan yang berwarna putih, keruh, dan tebal, biasanya keluar setelah kencing atau saat membawa beban berat. Termasuk najis, yaitu darah, meliputi juga sisa darah yang berada di tulang. Namun, sisa darah yang berada di tulang dapat ditolerir, semisal dimakan. Ulama fiqih tidak memasukkan kepada hati dan limpa sebagai bagian dari darah. Demikian pula minyak kasturi, meskipun berasal dari hewan kijang yang telah mayit, ketika telah mengental. Tidak termasuk darah, yaitu ‘alaqah (segumpal darah), mudghah (segumpal daging), susu yang keluar dengan warna darah, dan darah telur yang tidak rusak.

وقيح- لأنه دم مستحيل وصديد وهو ماء رقيق يخالطه دم وكذا ماء جرح وجدارى ونفط إن تغير وإلا فماؤها طاهر.

Termasuk najis adalah nanah, berupa darah yang menuju kepada kerusakan, juga nanah yang berupa air yang tidak kental yang bercampur dengan darah. Termasuk jenis nanah, yaitu air sebab luka, air penyakit cacar, dan air bisul. Air tersebut termasuk najis jika berubah. Jika tidak berubah maka air tersebut termasuk suci.

Wa Allahu A’lam bi Shawab ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *