Pengajian kitab Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratul ‘Ain (ke- 22) Syekh Zainuddin Abdul Aziz Al-Malibari

Ranting NU Bogasari dan HMR
Sabtu, 12 Februari 2021

Oleh. Ahmad Lahmudin

وقىء معدة – وإن لم يتغير وهو الراجع بعد الوصول للمعدة ولو ماء أما الراجع قبل الوصول إليها يقينا أو احتمالا فلا يكون نجسا ولا متنجسا خلافا للقفال وأفتى شيخنا أن الصبى إذا ابتلى بتتابع القىء عفى عن ثدى أمه الداخل فى فيه لا عن مقبله أو مماسه وكمرة ولبن غير مأكول إلا اﻟﺂدمى وجرة نحو بعير أما المنى فطاهر خلافا لمالك

Termasuk najis, yaitu muntah yang berasal dari perut, meskipun kondisi muntah yang keluar tersebut tidak berubah. Dia kembali setelah sampai ke dalam perut, meskipun berbentuk air. Bila kembali sebelum sampai ke dalam perut, dengan keyakinan maupun ragu-ragu, maka tidak termasuk najis, tidak pula termasuk benda mutanajjis. Berbeda dengan Imam al-Qaffal yang mengatakan mutanajjis. Syaikhuna, Ibnu Hajar, berfatwa, sesungguhnya anak kecil ketika mendapatkan musibah dengan terus-menerus muntah, maka ditolerir bagi payudara ibu yang dimasuki mulut anak tersebut. Tidak ditolerir bagi orang yang mencium dan menyentuh mulut anak tersebut. Termasuk najis, yaitu empedu dan susu hewan yang tidak dapat dimakan dagingnya, kecuali susu anak adam dan kunyahan semisal unta. Adapun air mani hukumnya adalah suci. Berbeda dengan Imam Malik yang menghukumi kepada najisnya air mani.

وكذا بلغم غير معدة من رأس أو صدر وماء سائل من فم نائم ولو نتنا أو أصفر ما لم يتحقق أنه من معدة إلا ممن ابتلى به فيعفى عنه وإن كثر

Demikian pula dihukumi suci, yaitu lendir yang bukan dari dalam perut, baik dari kepala, maupun dari dada. Dihukumi suci pula, yaitu air yang mengalir dari mulut orang yang tidur, meskipun bau busuk, maupun berwarna kuning, selama tidak terbukti berasal dari dalam perut. Ditolerir lender yang berasal dari dalam perut bila itu merupakan bagian dari musibah, meskipun banyak.

ورطوبة فرج أى قبل على الأصح وهى ماء أبيض متردد بين المذى والعرق يخرج من باطن الفرج الذى لا يجب غسله بخلاف ما يخرج مما يجب غسله فإنه طاهر قطعا وما يخرج من وراء باطن الفرج فإنه نجس قطعا ككل خارج من الباطن وكالماء الخارج مع الولد أو قبله ولا فرق بين انفصالها وعدمه على المعتمد

lembab yang berasal dari farji bagian depan seorang wanita dihukumi suci, menurut pendapat yang diunggulkan. Yaitu air yang berwarna putih, ada di antara air madzi dan keringat, yang keluar dari bagian dalam farji yang tidak wajib dibasuh ketika bersuci. Berbeda dengan sesuatu yang keluar dari bagian dalam farji yang wajib dibasuh ketika bersuci, maka diyakini hukumnya adalah suci. Begitu pula dengan sesuatu yang keluar dari bagian belakang dalam farji, maka diyakini hukumnya adalah najis. Demikian pula najis, yaitu setiap sesuatu yang keluar dari bagian dalam, juga air yang keluar bersama dengan kelahiran anak, atau air yang keluar sebelum melahirkan. Tidak ada perbedaan pendapat dalam persoalan lembab yang berasal dari farji, baik terpisah maupun tidak terpisah, menurut pendapat yang lebih utama.

قال بعضهم القرق بين الرطوبة الطاهرة والنجسة الاتصال والانفصال فلو انفصلت ففى الكفاية عن الإمام أنها نجسة ولا يجب غسل ذكر المجامع والبيض والولد وأفتى شيخنا بالعفو عن رطوبة الباسور لمبتلى بها وكذا بيض غير مأكول ويحل أكله على الأصح وشعر ما مأكول وريشه إذا أبين فى حياته ولو شك فى شعر أو نحوه أهو من مأكول أو غيره أو هل انفصل من حي أوميت فهو طاهر وقياسه أن العظم كذلك وبه صرح فى الجواهر وبيض الميتة إن تصلب طاهر وإلا فنجس

Sebagian ulama berpendapat, sesungguhya perbedaan di antara lembab yang suci dan yang najis, yaitu tidak terpisah dan yang terpisah. Apabila lembab itu telah terpisah, maka di dalam kitab al-Kifayah dari Imam al-Haramain, hukumnya adalah najis. Tidak wajib membasuh zakar orang yang berjima’, telur, dan anak yang baru lahir. Syaikhuna, Ibnu Hajar, berfatwa tentang lembab dari ambeien yang ditolerir bagi orang yang terkena musibah penyakit tersebut. Demikian dihukumi suci, yaitu telur hewan yang tidak dimakan dagingnya. Menurut pendapat yang lebih diunggulkan, halal pula untuk di makan. Suci pula rambut dan bulu hewan yang dimakan dagingnya, apabila telah terpisah ketika hewan tersebut dalam keadaan hidup. Apabila ragu-ragu tentang rambut dan yang lainnya, apakah berasal dari hewan yang dimakan dagingnya atau bukan? Atau apakah telah terpisah dalam kondisi masih hidup atau telah mati? Maka dihukumi suci. Diqiyaskan kepada itu, yaitu tulang. Demikian dijelaskan di dalam kitab al-Jawahir. Hukum telur hewan yang telah mati, bila keras dihukumi suci, bila tidak maka najis.

وسؤر كل حيوان طاهر طاهر فلو تنجس فمه ثم ولغ فى ماء قليل أو مائع فإن كان بعد غيبة يمكن فيها طهارته بولوغه فى ماء كثير أو جار لم ينجسه ولو هرا وإلا نجسه قال شيخنا كالسيوطى تبعا لبعض المتأخرين إنه يعفى عن يسير عرفا من شعر نجس من غير مغلظ ومن دخان نجاسة وعما على رجل ذباب وإن رؤى وما على منفذ غير آدمى مما خرج منه وذرق طير وما على فمه وروث ما نشؤه من الماء أو بين أوراق شجر النارجيل التى تستر بها البيوت عن المطر حيث يعسر صون الماء عنه. قال جمع وكذا ما تلقيه الفيران من الروث فى خياض الأخلية إذا عم الابتلاء به ويؤيده بحث الفزارى وشرط ذلك كله إذا كان فى الماء أن لا يغير انتهى

Hukum sisa air minum hewan yang suci adalah suci. Seandainya mulut hewan tersebut mutanajjis, kemudian menjilat pada air yang sedikit atau pada yang cair, apabila dimungkinkan suci di masa perginya dengan menjilat air yang banyak atau air yang mengalir, maka mulutnya tidak menjadikan mutanajjis, meskipun hewan tersebut adalah kucing. Jika tidak, maka menjadikan mutanajjis. Berkata Syeikhuna, seperti halnya Imam as-Suyuti, ikut kepada sebagian ulama kontemporer, sesungguhnya ditolerir rambut najis yang sedikit yang tidak berasal dari najis mughallazah, begitupun asap benda najis, juga sesuatu yang ada di kaki lalat, meskipun dilihat, begitu juga sesuatu yang keluar dari lubang najis selain manusia, begitupun kotoran burung, begitu juga najis yang berada di mulut burung, dan kotoran hewan yang tinggal di dalam air, atau kotoran yang berada di antara daun-daun pohon kelapa yang dipergunakan sebagai pelindung rumah dari guyuran hujan, di mana sulit air terhindar dari kotoran. Sekelompok ulama berpendapat, demikian pula kotoran yang dijatuhkan oleh tikus-tikus di kolam WC, ketika musibah kotoran tidak dapat dihindari. Pendapat sekelompok ulama tersebut dikuatkan oleh pembahasan dari Imam al-Fazari. Syarat dari semua yang ditolerir tersebut, apabila menimpa air maka tidak merubah kondisi air tersebut.

والزباد طاهر ويعفى عن قليل شعره كالثلاث كذا أطلقوه ولم يبينوا أن المراد القليل فى المأخوذ للاستعمال أو فى الإناء المأخوذ منه قال شيخنا والذى يتجه الأول إن كان جامدا لأن العبرة فيه بمحل النجاسة فقط فإن كثرت فى محل واحد لم يعف عنه وإلا عفى بخلاف المائع فإن جميعه كالشيء الواحد فإن قل الشعر فيه عفى وإلا فلا ولا نظر للمأخوذ حينئذ

Zubad hukumnya adalah suci. Zubad adalah susu hewan laut yang dagingnya dapat dimakan, baunya seperti misik, warnanya putih susu, atau Zubad diartikan juga sebagai keringat musang darat. Yang dibahas di sini terkait dengan keringat musang darat. Ditolerir rambut Zubad yang sedikit, seperti tiga helai. Demikian, fuqoha megeneralisir kepada persoalan ditolerirnya rambut Zubad yang sedikit. Mereka tidak menjelaskan bahwa yang dimaksud ditolerir apakah rambut sedikit yang diambil untuk dipergunakan, atau yang dimaksud adalah rambut sedikit di dalam wadah di mana Zubad itu diambil? Syeikhuna, Ibnu Hajar berkata, yang diunggulkan adalah yang pertama, yaitu rambut sedikit yang diambil untuk dipergunakan, jika Zubad berupa benda padat. Sebab yang diperhatikan di dalam benda padat yaitu tempat najisnya saja. Jika di satu tempat najisnya banyak maka tempatnya tidak dapat ditolerir. Jika tidak banyak najisnya maka ditolerir. Persoalan berbeda bila Zubad berupa benda cair, maka keseluruhan benda cair seperti satu kesatuan. Bila rambut sedikit berada dalam benda yang cair maka benda cair tersebut dapat ditolerir. Jika banyak maka tidak dapat ditolerir. Maka tidak diperhatikan hanya kepada yang diambil saja, namun kepada seluruh yang ada di dalam wadah, yang demikian ketika Zubad dalam bentuk cair.

ونقل المحب الطبرى عن ابن الصباغ واعتمده أنه يعفى عن جرة البعير ونحوه فلا ينجس ما شرب منه وألحق به فم ما يجتر من ولد البقرة والضأن إذا التقم أخلاف أمه وقال ابن الصلاح يعفى عما اتصل به شيء من أفواه الصبيان مع تحقق نجاستها وألحق غيره بهم أفواه المجانين وجزم به الزركشى.
Syeikh Muhibb at-Thabari meriwayatkan dari Ibn al-Shabbagh, dengan berpegang teguh kepadanya, sesungguhnya ditolerir makanan yang dikeluarkan kembali dari perut unta dan bianatang lainnya. Maka tidak menjadi najis bekas minumnya. Disamakan dengan itu, yaitu mulutnya hewan yang mengunyah makanan, baik anak sapi maupun anak domba, ketika menelan payudara induknya. Berkata Ibnu Sholah, ditolerir sesuatu yang bertemu dengan mulut-mulut anak kecil yang jelas terkena najis, seperti muntah. Selain Ibnu Sholah, menyamakan mulut anak kecil kepada mulut orang gila. Kesamaan itu dipertegas oleh Syeikh az-Zarkasi.

Wa Allahu A’lam bi Shawab ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *