Pengajian Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah

Syekh Abi Abdullah Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abbad An Nafazi Ar Randi

Ranting NU Bogasari dan HMR

Selasa, 16 Februari  2021

Oleh. Ahmad Lahmudin

أصْلُ كلِّ معصيةٍ وغَفْلةٍ وشهوةٍ الرضا عن النَّفْسِ , وأصلُ كل طاعةٍ ويَقْظةٍ وعٍفَّةٍ عدمُ الرِّضا منك عنها

‘Asal setiap maksiat, lupa, dan syahwat, yaitu rela kepada nafsu. Sedangkan asal setiap ketaatan, kewaspadaan, dan menjauhkan diri dari yang tidak baik, yaitu kamu tidak rela kepada nafsu’

Imam Junaid al-Baghdadi radiallahu ta’ala ‘anhu berkata, “Jangan engkau senang kepada nafsumu. Meskipun kamu tetap berada di dalam ketaatan kepada Tuhanmu!”

Syaikh Abu Sulaiman al Darani radiallahu Ta’ala ‘anhu berkata, “Aku tidak rela kepada nafsuku, meskipun hanya sekejap mata!”

Diriwayatkan dari Syaikh Sari Mughlis as-Saqati radiallahu ‘anhu berkata, “Aku tidak memandang kepada wajahku meskipun sekali dalam satu hari. Karena aku khawatir wajahku menghitam sebab siksa yang aku khawatirkan!”

Dikatakan juga, “Ada sekelompok manusia, jika separuh dari mereka mati maka tidak akan terhalang kepada separuh lainnya. Akupun bagian dari mereka!”

Dan ungkapan-ungkapan lainnya yang datang dari masyayikh radiallahu ‘anhum, yang senada dengan itu.

Syaikh Abu Abdul Rahman al-Sulami radiallah ta’ala ‘anhu mengarang satu juz kitab kecil yang besar faedahnya, tentang aib-aib diri dan bagaimana cara mengobatinya. Maka lihatlah kitab tersebut wahai murid!. Demikian pula sebelumnya, Imam Abu al-Haris Al Muhasibi mengarang sebuah kitab yang diberi nama ‘an-Nasha’ih’. Terhimpun di dalamnya aib-aib diri, tipu dayanya, kebohongan-kebohongannya, dan keburukan-keburukannya, dengan sejumlah nasihat yang menyembuhkan. Dia memberitahukan metode belajar yang dapat menyembuhkan, dari apa-apa yang dilakukan oleh

salafus sholeh –mudah-mudahan ridho Allah Ta’ala selalu menyertai mereka -, berupa diagnosa, mengoreksi, berfikir terhadap sesuatu yang bagi amal, kondisi jiwa, jiwa-jiwa mereka, menjaga untuk tetap mensucikan rahasia diri dan hati, dan sangat waspada dosa-dosa yang dianggap kecil.

Sungguh, telah meriwayatkan Imam Abu Hamid al-Ghazali – mudah-mudahan Allah sucikan rahasianya – satu fasal di dalam kitabnya. Dia tetap berpegang dengan lafaz yang disebutkan di dalam fasal dan menyebutkannya setelah memuji kepada penulisnya, seraya menjelaskan kepada orang yang tidak mengetahui tentang ilmu dan keutamaannya. Imam al-Ghazali berkata, terkait dengan Syaikh al Muhasibi Rahimahullah Ta’ala, yaitu orang yang alim tentang ilmu mu’amalah, dia yang mendahului semua orang yang membahas tentang aib-aib jiwa, penyakit-penyakit amal, dan tipuan-tipuan dari ibadah. Ungkapan Syaikh Muhasibi layak untuk diceritakan, menurut Imam al-Ghazali. Imam al-Ghazali menuturkan, sesungguhnya tidak ada bagi Syaikh Muhasibi bandingannya di zamannya, ilmu dan ibadahnya, yang terpilih wara’ dan zuhudnya. Sayyidi al-Haj Abu al-Abbas bin ‘Amir –mudah-mudahan rahmat dan ridho Allah Ta’ala tercurahkan teruntuknya – sangat ingin untuk memperbanyak muthala’ah (mempelajari) kitab itu dan mengamalkan kebenaran yang terkandung di dalamnya. Dugaan kuat saya, saya mendengarnya pada suatu hari ia berkata, “Tidak mengamalkan kepada kitab itu terkecuali seorang wali!” Atau ia mengatakan sebuah ungkapan yang maknanya sebagai berikut, “Hendaknya seorang murid mempelajari kitab itu sebagai wiridnya, berkeinginan untuk mengamalkan isinya, seraya memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala, meminta taufik dan petunjuk-Nya, tulus dalam memelihara untuk memperbaiki batinnya semata karena Allah, berdiri di atas kaki kejujuran di setiap tempat tinggalnya, agar membiasakan mempelajari kitab-kitab tasawuf, bersahabat dengan ahli tasawuf, dengan berkumpul dan mengenalnya. Dengan sebab itu, maka menjadi kuat cahaya keimanan dan keyakinannya, hilang kelengahan darinya terhadap tugas-tugas agamanya, tidak mendahulukan terkecuali kepada fardlu ‘ain, mengistirahatkan dirinya dari derita letih dan beban, dirinya tidak sibuk dengan ilmu yang akan memalingkan dari tujuan utamanya, akan merusak dari perjanjian-perjanjiannya, sebagimana yang ditekuni oleh manusia pada hari ini, mereka telah menyimpang dari jalan-jalan kaum, sehingga dengan sebab itu tercipta jalan teruntuknya bagi sifat-sifat buruk dan penyakit-penyakit yang menghantarkan kepadanya kepada kerusakan dan kesengsaraan untuk kemudian berakibat timbulnya sifat munafik di hati-hati mereka hingga hari kiamat, mereka mengabsahkan dusta dengan

mengklaim bahwa mereka, dengan ilmu mereka telah sampai kepada ridho Tuhan mereka. Maka jaga dirimu dan mereka!”        

Seorang penyair menuturkan;

لَقدْ أسْمعْتَ إذْ ناديْتَ حَيًّ  .  ولكن لا حياةَ لمن تُنادِي

‘Sungguh engkau berteriak saat memanggil orang yang hidup. Namun, tidak ada kehidupan terhadap orang yang engkau panggil!’

Wa Allahu Ta’ala Waliyyu at-Taufik

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *