Pengajian kitab Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratul ‘Ain (ke- 23)

Syekh Zainuddin Abdul Aziz Al-Malibari

Ranting NU Bogasari dan HMR

Sabtu,  20 Februari 2021

Oleh. Ahmad Lahmudin

وكميتة – ولو نحو ذباب مما لا نفس له سائلة خلافا للقفال ومن تبعه فى قوله بطهارته لعدم الدم المتعفن كمالك وأبى حنيفة فالميتة نجسة وإن لم يسل دمها وكذا شعرها وعظمها وقرنها خلافا لأبى حنيفة إذا لم يكن عليها دسم وأفتى الحافظ ابن حجر العسقلانى بصحة الصلاة إذا حمل المصلى ميتة ذباب إن كان فى محل يشق الاحتراز عنه

Termasuk kategori najis, yaitu bangkai, meskipun seumpama lalat, yang merupakan bagian dari binatang yang tidak mengalir darahnya ketika anggota tubuhnya terbelah. Berbeda dengan pendapatnya al-Qaffal yang mengatakan suci bagi binatang yang tidak mengalir darahnya ketika anggota tubuhnya terbelah, sebab darahnya yang tidak membusuk. Seide dengan pendapatnya al-Qoffal, yaitu Imam Malik dan Imam Abu Hanifah. Dengan demikian, bangkai adalah najis meskipun tidak mengalir darahnya, demikian juga rambutnya, tulangnya, dan tanduknya. Berbeda dengan Imam Abu Hanifah yang berpendapat bahwa bangkai dihukumi suci ketika tidak memiliki lemak. Imam al-Hafidz, Ibnu Hajar al-‘Asqalani berfatwa, shalatnya seseorang yang membawa bangkai lalat yang sulit untuk menghindarinya dihukumi sah.

غير بشر وسمك وجراد –  لحل تناول الأخيرين وأما الأدمى فلقوله تعالى ولقد كرمنا بنى آدم وقضية التكريم أن لا يحكم بنجاستهم بالموت وغير صيد لم تدرك ذكاته وجنين مذكاة مات بذكاتها ويحل أكل دود مأكول معه ولا يجب غسل نحو الفم منه ونقل فى الجواهر عن الأصحاب لا يجوز أكل سمك ملح ولم ينزع ما فى جوفه أى من المستقذرات وظاهره لا فرق بين كبيره وصغيره لكن ذكر الشيخان جواز أكل الصغير مع ما فى جوفه لعسر تنقية ما فيه Dikecualikan bangkai manusia, ikan dan belalang. Dengan alasan, bahwa ikan dan belalang halal dikonsumsi. Adapun mayit manusia, dianggap suci oleh sebab firman Allah dalam surat al-Isra ayat 70, ولقد كرمنا بنى آدم (Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak-cucu Adam). Cara memuliakan manusia yaitu dengan tidak dihukumi najis terhadap mayit manusia. Dikecualikan juga, yaitu binatang yang mati oleh binatang buruan, juga janin hewan yang mati sebab disembelih induknya. Halal memakan ulat yang berada dalam buah yang ikut termakan. Tidak wajib membasuh mulut usai memakan buah yang ada ulat di dalamnya. Syekh Najmuddin Abu al-‘Abbas di dalam kitab al-Jawahir, meriwayatkan dari al-Ashhab as-Syafi’i, tidak diperbolehkan memakan ikan yang digarami dengan tidak membuang isi perutnya, yaitu bagian yang dianggap kotor. Dilihat

dari dzohir apa yang diriwayatkan dari kitab al-Jawahir, tidak ada perbedaan antara ikan yang besar maupun yang kecil. Namun, Imam Rafi’i dan Imam Nawawi memperbolehkan memakan ikan yang kecil beserta isi perutnya, oleh sebab sulit untuk membersihkannya.      

وكمسكر- أى صالح للاسكار فدخلت القطرة من المسكر (مائع) كخمر وهى المتخذة من العنب ونبيذ وهو المتخذ من غيره وخرج بالمائع نحو البنج والحشيش وتطهر خمر تخللت بنفسها من غير مصاحبة عين أجنبية لها وإن لم تؤثر فى التخليل كحصاة ويتبعها فى الطهارة الدن وإن تشرب منها أو غلت فيه وارتفعت بسبب الغليان ثم نزلت أما إذا ارتفعت بلا غليان بل بفعل فاعل فلا تطهر وإن غمر المرتفع قبل جفافه أو بعده بخمر أخرى على الأوجه كما جزم به شيخنا والذى اعتمده شيخنا المحقق عبد الرحمن بن زياد أنها تطهر إن غمر المرتفع قبل الجفاف لا بعده ثم قال لو صب خمر فى إناء ثم أخرجت منه وصب فيه خمر أخرى بعد جفاف الإناء وقبل غسله لم تطهر وإن تخللت بعد نقلها منه فى إناء آخر انتهى والدليل على كون الخمر خلا الحموضة فى طعمها وإن لم توجد نهاية الحموضة وإن قذفت بالزبد. ويطهر جلد نجس بالموت باندباغ نقاه بحيث لا يعود إليه نتن ولا فساد لو نقع فى الماء.      Termasuk najis, yaitu sesuatu yang layak untuk membuat mabuk, meskipun satu tetes. Sesuatu yang memabukkan tersebut dalam kondisi cair, seperti khomer yang terbuat dari perasan anggur, dan arak yang terbuat dari selain perasan anggur. Dikecualikan dari benda cair, yaitu benda padat, seperti ganja, dan sejenis ganja, maka suci namun haram untuk dikonsumsi. Khomer dianggap suci ketika telah berubah menjadi cuka dengan sendirinya tanpa bercampur dengan benda lain, meskipun benda yang lain tersebut tidak punya andil di dalam perubahan khomer menjadi cuka, seperti semisal kerikil. Wadah khomer ikut suci sebab mengikuti khomer yang telah menjadi cuka, meskipun telah menyerap khomer. Suci pula wadah khomer, meskipun khomer mendidih di dalamnya hingga naik ke atas kemudian turun kembali. Adapun khomer yang naik ke atas tanpa mendidih, tapi dengan perbuatan seseorang maka khomer tidak menjadi suci, meskipun khomer yang naik ke atas tersebut ditambahkan dengan khomer lainnya sebelum mengering atau setelah mengering, menurut pendapat yang diunggulkan. Sebagaimana yang dipertegas oleh Syaekhuna, Ibnu Hajar al-Asqalani. Adapun pendapat yang dipegang oleh Syaikhuna, al-Muhaqqiq, Abdurrahman bin Ziyad, sesungguhnya khomer dihukumi suci apabila khomer yang naik ditambahkan sebelum kering, tidak setelah kering. Kemudian ia berkata, seandainya dituang khomer ke dalam suatu wadah, kemudian dikeluarkan dari wadah tersebut dan dituangkan khomer yang lain setelah mengeringnya wadah dan sebelum dibasuh, maka khomer tersebut tidak suci, meskipun telah menjadi cuka setelah dipindah dari wadah tersebut ke wadah yang lainnya. Dalil atau argumentasi bahwa khomer telah menjadi cuka yaitu dari rasanya yang telah menjadi masam, meskipun belum mencapai puncak kemasaman, meskipun pula telah mengeluarkan buih. Kulit mayit dapat menjadi suci dengan dibersihkan dengan cara disamak, dengan tidak lagi berbau busuk serta tidak rusak ketika direndam dalam air.

Wa Allahu A’lam bi Shawab ..       

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *