Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah

Pertemuan ke – 42

Syekh Abi Abdullah Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abbad An Nafazi Ar Randi

Ranting NU Bogasari dan HMR

Selasa, 23 Februari  2021

Oleh. Ahmad Lahmudin

وَلَأنْ تَصْحَبَ جاهلاً لا يَرْضَى عن نَفسهِ خَيْرٌ لك مِنْ أنْ تصحَبَ عالمًا يرضى عن نفسهِ , فَأَيُّ عِلمٍ لِعالِمٍ يرضى عن نفسه؟ ,أيُّ جَهْلٍ لجاهِلٍ لا يرْضَى عن نفسه

‘Demi Allah, pertemananmu dengan orang bodoh yang tidak rela kepada nafsunya itu lebih baik bagimu, daripada engkau berteman kepada orang yang ‘alim yang rela dengan nafsunya. Bagaimana mungkin bagi ‘alim memiliki ilmu yang bermanfaat, sementara ia rela dengan nafsunya? Bagaimana mungkin pula bagi orang yang bodoh, kebodohannya bisa membahayakan orang lain, sementara ia tidak rela dengan nafsuya?

Berteman kepada orang yang rela kepada nafsunya, meskipun ia ‘alim, adalah murni buruk, tidak punya nilai. Sebab ilmunya tidak lagi bermanfaat baginya. Kebodohannya yang menyebabkan rela kepada nafsunya, menjadikan dia berada di puncak bahaya. Seakan, ketika hilang pengetahuannya untuk mencari aibnya sendiri sehingga dirinya tidak rela dengan nafsunya, maka tidak ada lagi ilmu di sisinya.

Berteman kepada orang yang tidak rela kepada nafsunya, meskipun ia bodoh, itu adalah murni sangat baik, penuh dengan nilai. Sebab kebodohannya tidaklah membahayakan orang lain. Pengetahuannya yang menyebabkan dirinya tidak rela kepada nafsunya, menjadikannya berada di puncak manfaat. Seakan, ketika tercapai ilmu ini maka tidak ada kebodohan di sisinya.    Wa Allahu Ta’ala Waliyyu at-Taufik

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *