Pengajian kitab Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratul ‘Ain (ke- 24)

Syekh Zainuddin Abdul Aziz Al-Malibari

Ranting NU Bogasari dan HMR

Sabtu,  27 Februari 2021

Oleh. Ahmad Lahmudin

وككلب وخنزير – وفرع كل منهما مع اﻟﺂخر أو مع غيره ودود ميتتهما طاهر وكذا نسج عنكبوت على المشهور كما قاله السبكى والأذرعى وجزم صاحب العدة والحاوى بنجاسته وما يخرج من جلد نحو حية فى حياتها كالعرق على ما أفتى به بعضهم لكن قال شيخنا فيه نظر بل الأقرب أنه نجس لأنه جزء متجسد منفصل من حي فهو كميتته وقال أيضا لو نزا كلب أو خنزير على آدمية فولدت آدميا كان الولد نجسا ومع ذلك هو مكلف بالصلاة وغيرها وظاهر أنه يعفى عما يضطر إلى ملامسته وإنه تجوز إمامته إذ لا إعادة عليه ودخوله المسجد حيث لا رطوبة للجماعة ونحوها اهــ

Termasuk najis, yaitu anjing, babi, dan anak masing-masing dari keduanya, hasil perkawinan silang antara keduanya, atau perkawinan dengan selain keduanya. Adapun ulat yang berasal dari bangkai dari keduanya adalah suci. Demikian pula suci, sarang laba-laba, menurut pendapat yang masyhur. Sebagaimana pendapat Imam as-Subki dan Imam al-Azra’i. Sementara pengarang kitab al-Uddah dan kitab al-Hawi, menegaskan dengan menghukumi najis sarang laba-laba. Termasuk suci, yaitu sesuatu yang keluar dari kulit seumpama ular di masa hidupnya, disamakan dengan keringat. Sebagaimana fatwa dari sebagian ulama. Namun, Syeikhuna, Ibnu Hajar, berpendapat bahwa disamakan dengan keringat butuh pemikiran yang mendalam, yang lebih mendekati hukum sesuatu yang keluar dari kulit adalah najis, sebab bagian dari tubuh yang terpisah dari hewan yang masih hidup, oleh karenanya dihukumi seperti bangkainya. Syeikhuna juga berkata, Sendainya menjantani anjing atau babi terhadap seorang perempuan, kemudian lahir seorang manusia, maka anak tersebut dihukumi najis, di samping itu ia terkena beban untuk shalat dan beban lainnya. Yang pasti dari pendapat tersebut, ditolerir ketika menyentuh anak tersebut manakala dibutuhkan. Diperbolehkan bagi anak tersebut untuk menjadi imam shalat disebabkan tidak diwajibkan untuk mengulangi shalat ketika bermakmum kepadanya. Diperbolehkan baginya masuk ke dalam masjid untuk berjamaah dan kebutuhan lainnya sekiranya tidak dalam kondisi basah. ويطهر متنجس بعينية بغسل مزيل لصفاتها من طعم ولون وريح ولا يضر بقاء لون أو ريح عسر زواله ولو من مغلظ فأن بقيا معا لم يطهر ومتنجس بحكمية كبول جف لم يدرك له صفة بجري الماء عليه مرة وإن كان حيا أو لحما طبخ بنجس أو ثوبا صبغ بنجس فيطهر باطنها بصب الماء على ظاهرها كسيف سقي وهو محمي بنجس ويشترط فى طهر المحل ورود الماء القليل على المحل المتنجس فإن ورد متنجس على ماء قليل لا كثير تنجس وإن لم يتغير فلا يطهر غيره وفارق الوارد غيره يقوته لكونه عاملا فلو تنجس فمه كفى أخذ

الماء بيده إليه وإن لم يعلها عليه كما قال شيخنا ويجب غسل كل ما فى حد الظاهر منه ولو بالإدارة كصب ماء فى إناء متنجس وإدارته بجوانبه ولا يجوز له ابتلاع شيء قبل تطهير فمه حتى بالغرغرة.

Benda yang terkena najis ‘aini (najis yang dapat diketahui bendanya atau sifatnya, baik rasa, warna maupun baunya) dapat menjadi suci dengan cara dibasuh sehingga hilang sifatnya, yaitu rasa, warna dan baunya. Dapat ditolerir jika masih terdapat warna atau bau najis yang sulit untuk dihilangkan, meskipun berasal dari najis mughallazah. Apabila masih tersisa warna dan baunya secara bersamaan maka tempat yang terkena najis tidak dianggap suci. Benda yang terkena najis hukmi (najis yang tidak dapat diketahui, baik bendanya maupun sifatnya), seperti air kencing yang telah mengering yang sudah tidak dapat diketahui lagi sifatnya, yaitu dapat suci dengan cara mengalirkan air di atas benda yang terkena najis sebanyak satu kali. Apabila benda yang terkena najis tersebut adalah biji atau daging yang dimasak dengan benda najis maka bagian dalamnya dapat suci dengan dituangkan air pada bagian luarnya. Seperti halnya pedang yang dipanaskan dengan benda najis maka bisa suci dengan cara disiram. Disyaratkan sucinya sebuah tempat, yaitu dengan cara mendatangkan air yang sedikit kepada tempat yang terkena najis. Apabila benda yang terkena najis di datangkan kepada air yang sedikit yang tidak banyak maka air tersebut menjadi najis meskipun tidak berubah, tidak pula dapat mensucikan kepada selain air. Berbeda antara air yang mendatangkan benda najis yang mengakibatkan tidak menjadi najisnya air dan air yang didatangkan benda najis maka berakibat menjadi najis. Dengan alasan sesuatu yang datang punya potensi untuk tidak menjadi najis karena berposisi sebagai pihak yang mencegah. Apabila mulut seseorang terkena najis maka cukup dapat suci dengan cara mengambil air dengan tangannya untuk kemudian dimasukkan kedalam mulut, meskipun tidak dengan posisi tangan ditinggikan dari mulutnya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Syeikhona, Ibnu Hajar. Wajib membasuh seluruh batas bagian luar dari mulut, meskipun dengan cara diputar. Seperti halnya menuangkan air ke dalam wadah yang terkena najis kemudian air diputar pada sisi-sisinya wadah.Tidak diperbolehkan bagi seseorang menelan sesuatu sebelum mulutnya suci, meskipun dengan cara memutar-mutar air dalam tenggorokannya.                                                                                                                                                           فرع – لو أصاب الأرض نحو بول وجف فصب على موضعه ماء فغمره طهر ولو لم ينصب أى يغور سواء كانت الأرض صلبة أم رخوة وإذا كانت الأرض لم تتشرب ما تنجست به فلا بد من إزالة العين قبل صب الماء القليل عليها كما لو كانت فى إناء ولو كانت النجاسة جامدة فتفتتت واختلطت بالتراب لم يطهر كالمختلط بنحو صديد بإفاضة الماء عليه بل لا بد من إزالة جميع التراب المختلط بها وأفتى بعضهم فى مصحف تنجس بغير معفو عنه بوجوب غسله وإن أدى إلى تلفه وإن كان ليتيم قال شيخنا ويتعين فرضه فيما إذا مست النجاسة شيئا من القرآن بخلاف ما إذا كانت فى نحو الجلد أو الحواشى.

Cabang/sub bagian. Apabila tanah terkena seumpama air kencing kemudian kering, lalu dituangkan air di tempat yang terkena air kencing sehingga tempat tersebut tergenang oleh air, maka tempat yang terkena air kencing tersebut dihukumi suci, meskipun air tidak meresap di tanah yang dalam keadaan keras maupun lunak. Apabila tanah tidak dapat menyerap benda najis maka harus terlebih dahulu menghilangkan benda najis sebelum tempat tersebut dituangkan air yang sedikit. Sebagaimana benda najis yang terdapat di dalam wadah maka terlebih dahulu menghilangkan benda najis tersebut sebelum menuangkan air. Apabila najis terdiri dari benda padat kemudian remuk dan bercampur dengan debu maka tidak suci tempat yang terdapat debu yang telah bercampur dengan najis. Seperti halnya debu yang bercampur dengan nanah bisa suci dengan terlebih dahulu menghilangkan seluruh debu yang bercampur dengan najis sebelum dituangkan air. Sebagian ulama fiqih berfatwa terkait mushaf (al-Qur’an) yang terkena benda najis yang tidak ditolerir, yaitu wajib untuk dibasuh meskipun akan menyebabkan kepada kerusakan, meskipun juga pemiliknya adalah anak yatim. Ketentuan kewajiban untuk membasuh mushaf, yaitu apabila benda najis mengenai al-Qur’an. Berbeda apabila benda najis berada di posisi kulit al-Qur’an atau di bagian pinggirnya.

فرع – غسالة المتنجس ولو معفوا عنه كدم قليل إن انفصلت وقد زالت العين وصفاتها ولم تتغير ولم يزد وزنها بعد اعتبار ما يأخذه الثوب من الماء والماء من الوسخ وقد طهر المحل طاهرة قال شيخنا ويظهر الإكتفاء فيهما بالظن.         

Cabang/sub bagian. Adapun air bekas basuhan sesuatu yang terkena najis, meskipun najis yang ditolerir, seperti darah yang sedikit, jika telah terpisah sementara benda dan sifat najisnya telah hilang, air bekas basuhannya juga tidak berubah, dan ukuran air bekas basuhan tidak bertambah setelah memperhatikan air yang diserap oleh baju dan kotoran baju yang dibasuh oleh air, dan tempat yang terkena najis telah suci, maka air bekas basuhan tersebut dihukumi suci. Berkata Syeikhona, Ibnu Hajar, kepastian dari air yang diserap oleh baju dan kotoran baju yang dibasuh oleh air yaitu dengan berdasaran kepada dugaan.    

Wa Allahu A’lam bi Shawab ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *