Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah

Pertemuan ke – 43

Syekh Abi Abdullah Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abbad An Nafazi Ar Randi

Ranting NU Bogasari dan HMR

Selasa, 2 Maret  2021

Oleh. Ahmad Lahmudin

شِعاعُ البصيرةِ يشهدك قُرْبه منك, وعينُ البصيرةِ يشهدك عدمك لوجوده, وحَقُّ البصيرة يشهدك وجوده لا عدمك ولا وجودك.

‘Cahaya akal dapat melihat betapa dekatnya Tuhan darimu. Cahaya ilmu dapat melihat ketiadaanmu sebab adanya Tuhan. Cahaya al-Haq dapat melihat keberadaan-Nya, tidak ketiadaanmu, tidak pula keberadaanmu’

Cahaya bashirah adalah cahaya akal. Ainul bashiroh adalah cahaya ilmu. Dan haqqul bashiroh adalah cahaya al-Haq.

Orang-orang yang berakal, dengan akal mereka dapat menyaksikan kepada diri-diri mereka dan dapat menyaksikan dengan mata kepala mereka bahwa Tuhan mereka teramat dekat dari mereka. Itu bisa dilakukan dengan ilmu dan pengetahuan.

Para ulama, dengan cahaya ilmu mereka dapat menyaksikan bahwa diri mereka tidak ada, menyatu dalam wujud Tuhan mereka. Sedangkan orang-orang yang telah mencapai haqqul yakin, dengan cahaya al-Haq mereka dapat meyaksikan Allah, mereka tidak melihat sesuatu apapun kecuali Allah.

كان الله ولا شيء معه, وهو اﻟﺂن على ما عليه كان

‘Allah telah ada sebelumnya. Tidak ada sesuatu apapun bersama-Nya. Dan Dia sekarang tetap sebagaimana keadaan sebelumnya (tanpa ada sesuatu apapun bersama-Nya).

Waktu atau masa di sini merupakan persoalan yang bersifat praduga, pada hakekatnya tidak berwujud. Maksudnya adalah, sesungguhnya tidak ada sesuatu apapun bersama Allah, sebab Dia Yang Maha Esa.

فلـمْ يبـقَ إلا الحقُّ لم يبـقَ كائنٌ   فما ثَـمَّ مـوْصـُوْلٌ وما ثَمَّ بائنٌ بِذَا جاء بُرْهان العِيانِ فما أرى   بِعَينــى إلا عيْنَــه إذْ أُعــايِـــنُ

‘Maka tidak tersisa kecuali Allah, tidak tersisa sesuatu yang berwujud. Tidak ada di sana penghubung, tidak pula sesuatu yang memisahkan.

Dengan ini, datang bukti yang nyata. Maka tidak aku lihat dengan mataku terkecuali Dzat-Nya, ketika aku melihat dengan mata kepalaku’

Akan datang ungkapan dari Ibnu Atha’illah Rahimahullah Ta’ala;

الأكوانُ ثابتةٌ بإثباته مَمْحُوَّةٌ بِأحَدِيَةِ ذاته

‘Alam semesta itu ada dengan adanya Allah. Menjadi terhapus dengan ke-Esaan Dzat-Nya’

Imam Ibnu Atha’illah berkata, mudah-mudahan Allah mensucikan batinnya;

لا تَتَعَدَّ نِيةَ هِمّتِكَ إلى غيرهِ, فالكريمُ لا تَتَخَطّاه اﻟﺂمالُ

‘Jangan engkau melampaui niat keinginanmu kepada selain-Nya. Adapun al-Karim (Yang Maha Mulia) tidak dapat dilampaui oleh keinginan-keinginan’

Keinginan yang luhur tidak akan menyukai hilangnya kebutuhan kepada selain al-Karim. Pada hakikatnya, tidak ada al-Karim terkecuali Allah Ta’ala. Berkata al-Junaid Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu:

 الكريم الذي لا يحوجك إلى مسألةٍ

‘Al-Karim tidak membutuhkanmu kepada suatu persoalan’

Berkata al-Harits al-Muhasibi Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu:

 الكريم الذي لا يبالى مَن أُعطِىَ

‘Al-Karim adalah yang tidak mempedulikan siapa yang akan diberi’

Dikatakan;

الكريم الذي لا يخيّب رجاءَ المُؤَمِّلين

‘Al-Karim tidak akan mengecewakan kepada pengharapan orang-orang yang berharap’ Sebuah ungkapan yang berhimpun ke dalam makna sifat al-Karim;

الكريم الذي إذا قدر عفا, وإذا وعد وفى, وإذا أعطى زاد على منتهى الرجاء, ولا يبالى كم أعطى, ولا لمن أُعطى, وإن رفعتْ حاجة إلى غيره لا يرضى, وإذا جُفي عاتبَ وما استقصى, ولا يضيع من لاذ به والتجأَ, ويُغنيه عن الوسائل والشفعا, فإذا كانت هذه الصفاتُ لا يستحقها أحدٌ سوى الله تعالى فينبغي إذن أن لا تتخطاه آمالُ المُؤمِّلين إلى غيره,

‘Al-Karim yaitu ketika Dia berkehendak maka memaafkan, ketika berjanji Dia memenuhi, apabila memberi Dia akan menambahkan di puncak pengharapan, Dia tidak peduli berapa yang diberikan, tidak peduli pula kepada siapa yang Ia berikan, ketika keinginan dibawa kepada selain-Nya maka Dia tidak akan ridho, apabila dikasari Dia akan mencela dan luar biasa penyelidikan-Nya, Dia tidak akan menyia-nyiakan orang yang berlindung kepada-Nya, Dia tidak membutuhkan kepada perantara dan penolong. Oleh karena itu ketika sifat-sifat ini tidak dimiliki kecuali Allah Ta’ala maka sepatutnya untuk tidak melampaui harapan bagi orang-orang yang berharap kepada selain-Nya’

Sebagaimana diungkapkan oleh sebagian ulama sufi:

حــرامٌ علــى مــنْ وحَّــد اللهَ ربَّـــه    وأفــرده أن يجتــدى أحدًا رِفْـدًا

ويا صاحبي قِفْ بي مع الحقِّ وَفْقَةً    أموتُ بها وَجْدًا وأحيابها وُجْـدًا

وقــلْ لملوك الأرض تجْحَدْ جَهْدَها    فذا المُلْكُ مُلْكٌ لا يُباعُ ولا يُهْدَى

‘Haram atas seseorang yang meng-esakan dan menyendirikan Allah sebagai Tuhannya meminta pemberian kepada seseorang.

Wahai sahabatku, berhentilah bersamaku di satu pemberhentian bersama dengan al-Haq. Aku mati dan hidup di situ dengan suka cita.

Katakan kepada para raja di muka bumi untuk berusaha keras. Maka kerajaan ini adalah kerajaan yang tidak dapat dijual, tidak dapat pula di hadiahkan’

Wa Allahu Ta’ala Waliyyu at-Taufik

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *