Pengajian kitab Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratul ‘Ain (ke- 25)

Syekh Zainuddin Abdul Aziz Al-Malibari

Ranting NU Bogasari dan HMR

Sabtu,  6 Maret 2021

Oleh. Ahmad Lahmudin

فرع – إذا وقع فى طعام جامد كسمن فأرة مثلا فماتت ألقيت وما حولها مما ماسها فقط والباقى طاهر والجامد هو الذى إذا غرف منه لا يتراد على قرب.

Cabang/sub bagian- Apabila seekor tikus terjatuh pada makanan yang beku, seperti mentega kemudian mati. Maka dibuang bangkai tikus tersebut, juga mentega yang berada di sekitar jatuhnya tikus, sisanya dihukumi suci. Yang dimaksud beku di sini yaitu apabila diciduk tidak saling kembali dalam waktu dekat.

فرع – إذا تنجس ماء البئر القليل بملاقاة نجس لم يطهر بالنزح بل ينبغى أن لا ينزح ليكثر الماء بنبع أو صب ماء فيه أو الكثير بتغير به لم يطهر إلا بزواله فإن بقيت فيه نجاسة كشعر فأرة ولم يتغير فطهور تعذر استعماله إذ لا يخلو منه دلو فلينزح كله فإن اغترف قبل النزح ولم يتيقن فيما اغترفه شعر لم يضر وإن ظنه عملا بتقديم الأصل على الظاهر

Cabang/sub bagian. Apabila air sumur yang sedikit menjadi mutanajjis dengan sebab kejatuhan najis maka tidak dapat suci dengan cara dikuras. Namun, kewajiban untuk tidak dikuras, agar air bisa banyak melalui sumber mata air atau dengan cara menuangkan air lain yang berasal dari luar sumur. Atau air sumur yang banyak menjadi berubah sifatnya dengan sebab kejatuhan najis, maka tidak dapat menjadi suci terkecuali kembali normal dari ketiadaan perubahan. Jika masih tersisa najis pada air yang banyak, seperti bulu tikus, namun tidak merubah sifat air maka air tersebut dianggap suci. Meskipun air dianggap suci, namun air tersebut sulit untuk dipergunakan, sebab ketika diambil melalui ember pasti akan mengikut sertakan bulu tikus yang mengakibatkan air menjadi mutanajjis. Oleh karena itu seluruh air mesti dikuras. Seandainya air diambil sebelum dikuras dan tidak meyakini bulu tikus ikut serta, maka tidak dipersoalkan untuk menggunakan air. Sesungguhnya dugaan adanya bulu tikus ketika mengambil air merupakan realisasi dari mendahulukan asal, yaitu tidak adanya bulu tikus, daripada yang lebih dominan, yaitu adanya bulu tikus. ولا يطهر متنجس بنحو كلب إلا بسبع غسلات بعد زوال العين ولو بمرات فمزيلها مرة واحدة إحداهن بتراب تيمم ممزوج بالماء بأن يكدر الماء حتى يظهر أثره فيه ويصل ويصل بواسط إلى جميع أجزاء المحل المتنجس ويكفى فى الراكد تحريكه سبعا قال شيخنا يظهر أن الذهاب مرة والعود أخرى وفى الجارى مرور سبع جريات ولا تتريب في أرض ترابية.

Tidak bisa suci sesuatu yang terkena najis anjing terkecuali dengan tujuh basuhan, setelah terlebih dahulu dihilangkan benda najisnya. Seandainya benda najis anjing tersebut bisa hilang dengan beberapa kali basuhan maka yang menghilangkannya dianggap satu kali basuhan. Salah satu dari tujuh basuhan yaitu dengan menggunakan debu yang dibuat untuk bertayammum yang dicampur dengan air, sehingga air menjadi keruh dan dapat dilihat bekas debu dalam air tersebut. Dengan perantaraan air maka debu bisa sampai ke seluruh bagian tempat yang terkena najis. Dianggap cukup pada air yang tenang, yaitu dengan menggerak-gerakan sebanyak tujuh kali. Syeikhuna, Ibnu Hajar berkata, sesungguhnya jelas, perginya dianggap sekali, kembalinya dianggap kali yang lain. Sementara pada air yang mengalir, yaitu dengan menjalankan tujuh aliran air. Tidak wajib memberi debu untuk mensucikan tanah yang berdebu yang terkena najis anjing.     

فرع – لو مس كلبا داخل ماء كثير لم تنجس يده ولو رفع كلب رأسه من ماء وفمه مترطب ولم يعلم مماسته له لم ينجس قال مالك وداود الكلب طاهر ولا ينجس الماء القليل بولوغه وإنما يجب غسل الإناء بولوغه تعبدا.

Caang/sub bagian. Seandainya seseorang menyentuh anjing di dalam air yang banyak maka tangannya tidak menjadi mutanajjis. Bila anjing mengangkat kepalanya dari dalam air dengan mulutnya terlihat basah, namun dia tidak yakin bila mulut anjing menyentuh air maka air tersebut tidak menjadi najis. Imam Malik dan Imam Daud berkata, anjing adalah suci. Air yang sedikit yang dijilat oleh anjing dihukumi tidak najis. Kewajiban untuk membasuh wadah yang dijilat oleh anjing bersifat ta’abbudi (irasional).

ويعفى عن دم نحو برغوث – مما لا نفس له سائلة كبعوض وقمل لا عن جلده (و) دم نحو (دمل) كبثرة وجرح وعن قيحه وصديده (وان كثر) الدم فيهما وانتشر بعرق أو فحش الأول بحيث طبق الثوب على النقول المعتمدة.

Dotolerir darah seumpama kutu, yang merupakan bagian dari hewan yang tidak mengalir darahnya ketika terbelah. Seperti halnya juga nyamuk dan kutu rambut. Berbeda dengan kulitnya, maka tidak ditolerir. Ditolerir pula darah seumpama bisul, jerawat, luka, dan nanah dari bisul. Meskipun darah kutu dan bisul tersebut tergolong banyak dan bertebaran sebab keringat. Atau meskipun darah kutu telah melewati batas hingga memenuhi pakaian yang dikenakan dengan perpindahan yang dianggap biasa. بغير فعله – فإن كثر بفعله قصدا كأن قتل نحو برغوث فى ثوبه أو عصر نحو دمل أو حمل ثوبا فيه دم براغيث مثلا وصلى فيه أو فرشه وصلى عليه أو زاد على ملبوسه لا لغرض كتجمل فلا يعفى إلا عن القليل على الأصح كما فى التحقيق والمجموع وإن اقتضى كلام الروضة العفو عن كثير دم نحو الدمل وإن عصر واعتمده ابن النقيب والأذرعى ومحل العفو هنا وفيما يأتى بالنسبة للصلاة لا لنحو ماء قليل فينجس به وإن قل ولا أثر لملاقاة البدن له رطبا ولا يكلف تنشيف البدن لعسره.

Toleransi terhadap darah yang banyak dengan catatan tidak dilakukan dengan sebab perbuatannya sendiri. Jika banyak darah disebabkan dengan kesengajaan, seperti membunuh seumpama kutu yang terdapat dalam pakaian yang dikenakannya, atau memencet seumpama bisul, atau mengenakan baju yang terdapat darah kutu kemudian ia shalat, atau membentangkan pakaian yang terdapat darah kutu kemudian ia shalat di atasnya, atau mengenakan pakaian yang berlebih yang terdapat darah kutu bukan untuk tujuan sebagai aksesoris, maka menurut pendapat yang lebih kuat tidak bisa ditolerir, terkecuali darah yang sedikit. Demikianlah, sebagaimana di dalam kitab at-Tahqiq dan al-Majmu’. Meskipun ungkapan di dalam kitab ar-Raudhoh mentolerir darah yang banyak dari seumpama bisul, sekalipun dipencet. Ibnu Naqib dan al-Azra’i berpegang teguh dengan apa yang terdapat dalam kitab ar-Raudhoh. Tempat yang ditolerir di sini dan pada persoalan darah lainnya yang nanti akan dibahas yaitu dikaitkan untuk masalah shalat, tidak dikaitkan dengan air yang sedikit yang akan menjadi mutanajjis sebab darah yang telah disebutkan di atas. Tidak ada pengaruh dari darah yang ditolerir yang telah disebutkan ketika mengenai badan yang dalam kondisi basah. Tidak dibebani untuk mengeringkan badan agar bersih, sebab sulit menjaga dari darah tersebut.  

 Wa Allahu A’lam bi Shawab ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *