Pengajian kitab Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratul ‘Ain (ke- 26)

Syekh Zainuddin Abdul Aziz Al-Malibari

Ranting NU Bogasari dan HMR

Sabtu, 13 Maret 2021

Oleh. Ahmad Lahmudin

وعن قليل – نحو دم (غيره) أى أجنبي غير مغلظ بخلاف كثيره ومنه كما قال الأزرعى دم انفصل من بدنه ثم أصابه

Dan ditolerir darah yang sedikit yang berasal dari orang lain selain darah dari najis mughallazah. Berbeda jika darahnya banyak maka tidak bisa ditolerir. Termasuk ke dalam darah orang lain, sebagaimana yang diungkapkan oleh Al-Azra’i, yaitu darah yang terpisah dari badannya seseorang kemudian kembali lagi mengenai dirinya.  

و –  عن قليل (نحو دم حيض ورعاف) كما فى المجموع ويقاس بهما دم سائر المنافذ إلا الخارج من معدن النجاسة كمحل الغائط والمرجع فى القلة والكثرة العرف وما شك فى كثرته له الحكم القليل ولو تفرق النجس فى محال ولو جمع كثر كان له الحكم القليل عند الإمام والكثير عند المتولى والغزالى وغيرهما ورجحه بعضهم ويعفى عن دم نحو فصد وحجم بمحلهما وإن كثر

Ditolerir pula darah yang sedikit yang berasal dari darah haid dan darah yang keluar dari hidung. Sebagaimana dijelaskan di dalam kitab Al-Majmu’. Dianalogikan dengan keduanya, yaitu semua darah yang keluar dari tempat-tempat yang berlubang, seperti mata, hidung dan dua telinga, kecuali darah yang keluar dari sumber najis, seperti tempat kotoran manusia. Yang dijadikan sumber rujukan, apakah darah itu sedikit atau banyak adalah ‘urf (kebiasaan). Darah yang diragukan kadar banyaknya maka dihukumi dengan darah yang sedikit. Seandainya najis yang tercerai berai di banyak tempat bila dikumpulkan menjadi banyak maka dihukumi dengan sedikit, menurut Imam al-Haramain, Al- Juwaini. Namun menurut Al- Mutawalli dan Al- Ghazali, serta yang lainnya, dihukumi dengan kategori darah yang banyak. Pendapat mereka itu oleh sebagian ulama dianggap lebih unggul. Ditolerir dari darah yang berasal dari berbekam dengan cara mengeluarkan darah dari otot, maupun berbekam dengan cara mengeluarkan darah dari kulit, meskipun darah banyak serta berada di area bekam.    وتصح صلاة من أدمى لثته قبل غسل الفم إذا لم يبتلع ريقه فيها لأن الدم اللثة معفو عنه بالنسبة إلى الريق ولو رعف قبل الصلاة ودام فإن رجا انقطاعه والوقت متسع انتظره وإلا تحفظ كالسلس خلافا لمن زعم انتظاره وإن خرج الوقت كما تؤخر لغسل ثوبه المتنجس وإن خرج ويفرق بقدرة هذا على إزالة النجس من أصله فلزمته بخلافه فى مسئلتنا

Sah shalatnya seseorang yang gusinya berdarah sebelum dibasuh mulutnya, apabila ludahnya tidak tertelan ketika shalat. Sebab darah yang keluar dari gusi termasuk ditolerir ketika bercampur dengan ludah dengan alasan dharurat. Seandainya darah keluar dari hidung sebelum melaksanakan shalat dalam kondisi yang lama, jika seseorang berharap darah yang keluar dari hidung itu akan terhenti di mana shalat dapat dilaksanakan secara sempurna pada waktu yang tersisa, maka ia harus menunggu untuk terhentinya darah. Bila tidak, maka ia harus memelihara shalatnya, sebagaimana dalam masalah salisul baul (orang tidak dapat menahan kencingnya). Hal tersebut berbeda bagi orang yang mengklaim untuk menunggu darah dari hidungnya yang akan terhenti, meskipun waktu shalat akan keluar. Sebagaimana shalat diakhirkan dari waktunya sebab membasuh bajunya yang terkena najis. Dari sini, dibedakan antara masalah darah yang keluar dari hidung dengan masalah najis, di mana pada dasarnya, sesuatu yang terkena najis mampu untuk dihilangkan maka wajib untuk dihilangkan najis tersebut. Berbeda dengan masalah kita di sini, di mana seseorang yang hidungnya mengeluarkan darah tidak mampu untuk dihilangkan oleh dirinya, oleh karenanya wajib baginya shalat dengan memelihara darah yang keluar dari hidungnya.

وعن قليل طين محل مرور متيقن نجاسته ولو بمغلظ للمشقة ما لم تبق عينها متميزة ويختلف ذلك بالوقت ومحله من الثوب والبدن وإذا تعين عين النجاسة فى الطريق ولو مواطئ كلب فلا يعفى عنها وإن عمت الطريق على الأوجه وأفتى شيخنا فى طريق لا طين بها بل فيها قذر اﻟﺂدمي وروث الكلاب والبهائم وقد أصابها المطر بالعفو عند مشقة الاحتراز.

Ditolerir lumpur yang berada di jalan yang diyakini terkena najis, meskipun berasal dari najis mughallazah, dengan alasan sulit untuk bisa dihindari, selama benda najisnya tidak tersisa dalam kondisi jelas terlihat. Perbedaan waktu dapat menyebabkan kepada perbedaan dapat ditolerirnya sesuatu yang terkena najis. Boleh jadi pada musim hujan dapat ditolerir, namun tidak pada musim panas. Begitupun perbedaan tempat, boleh jadi najis ditolerir di bagian bawah dan kaki, namun tidak pada lengan baju dan tangan. Apabila benda najis terlihat nyata di jalan, meskipun berada di jalan-jalan yang dilewati oleh anjing, maka najis tersebut tidak dapat ditolerir, meskipun pula keberadaan benda najis tersebut telah merata di jalan sehingga sulit untuk dihindari, itu menurut pendapat yang lebih diunggulkan. Syaikhuna, Ibnu Hajar berfatwa tentang jalan yang tidak berlumpur yang dipenuhi dengan kotoran manusia, kotoran anjing, dan kotoran binatang-binatang, kemudian terkena air hujan, maka ditolerir sebab sulit untuk bisa dihindari.       قاعدة مهمة – وهي أن ما أصله الطهارة وغلب على الظن تنجسه لغلبة النجاسة فى مثله فيه قولان معروفان بقولى الأصل والظاهر أو الغالب أرجحهما أنه طاهر عملا بالأصل المتيقن لأنه أضبط من الغالب المختلف بالأحوال والأزمان وذلك كثياب خمار وحائض وصبيان وأوانى متديين بالنجاسة وورق يغلب نثره على نجس ولعاب صبي وجوخ اشتهر عمله

بشحم الخنزير وجبن شامي اشتهر عمله بإنفحة الخنزير وقد جاءه صلى الله عليه وسلم جبنة من عندهم فأكل منها ولم يسأل عن ذلك ذكره شيخنا فى شرح المنهاج.    

Kaidah yang penting. Sesungguhnya sesuatu yang asalnya adalah suci, namun diduga kuat terkena najis yang merata, seperti lumpur yang berada di jalan yang dilewati. Terdapat dua pendapat yang masyhur, pertama pendapat yang didasarkan pada asal, kedua didasarkan pada zohir (realitas) atau yang dominan. Pendapat yang lebih diunggulkan adalah dihukumi suci, didasarkan kepada asal yang diyakininya. Sebab asal lebih terstandari ketimbang berdasarkan kepada dominan dugaan yang bisa berbeda dari sisi keadaan dan waktu. Yang demikian itu (dilihat dari asal adalah suci, dari dominan dugaan adalah najis), seperti pakaian para pembuat khomer, pakaian wanita yang haid, pakaian anak-anak, wadah-wadah orang musyrik yang melakukan ritual keagamaannya dengan menggunakan benda najis, dedaunan yang dominan tersebar dalam kondisi terkena najis, air liurnya anak kecil, tenunan yang masyhur dibuat dengan menggunakan lemak anjing, dan keju penduduk Syam yang masyhur dibuat dari enzim babi. Sungguh, datang kepada Nabi Shlallahu ‘Alaihi wa Sallam keju dari penduduk Syam. Beliau kemudian memakannya dan tidak bertanya tentang hal tersebut. Menuturkan kepada itu, Syeikhuna, Zakaria al-Anshari di dalam kitab Syarah al-Minhaj.     

Wa Allahu A’lam bi Shawab ..       

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *