Latifah (kelembutan) tafsir surat Al-Baqarah ayat 142-145, 1-10

Pertemuan ke- 5

Pengajian IPNU-IPPNU PAC KECAMATAN TARUMAJAYA

Kitab Rawa’i Al Bayan Tafsir Ayat Al Ahkam Min Al-Qur’an

Minggu, 21 Maret 2021

Oleh. Ahmad Lahmudin

اللطيفة الأولى

Latifah yang pertama

Allah Jalla wa ‘Ala menginformasikan tentang sesuatu yang akan dikatakan oleh orang-orang bodoh dari kalangan Yahudi sebelum masa dipindahkannya kiblat. Informasi tersebut merupakan mu’jizat bagi utusan Allah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menunjukkan kepada kebenaran apa yang dibawa olehnya. Sebab merupakan perkara yang tersembunyi. Sebagaimana juga, di dalamnya terdapat sanggahan yang memutus kepada argumentasi lawan yang keras kepala.

Al Zamakhsyari di dalam kitab al- Kashshaf berkata, Jika engkau berkata, Faedah apa yang terdapat dalam informasi yang belum terjadi perihal ucapan orang-orang Yahudi? Aku katakan, Faedahnya adalah bahwa datangnya sesuatu yang tidak disukai secara tiba-tiba itu teramat sangat membenani. Mengetahui hal tersebut sebelum itu terjadi akan lebih lebih menjauhkan diri dari keterkejutan di saat terjadinya. Oleh karena didahului dengan mempersiapkan diri. Dan sesungguhnya jawaban yang tersedia sebelum dibutuhkan lebih dapat mematahkan lawan, juga lebih bermanfaat untuk dapat mengatasi lawan. Kata pepatah, وقبل الرمي يراش السهم (sebelum saat melempar panah maka perbaiki dahulu anak panahnya)

اللطيفة الثانية

Latifah yang kedua

AL-Qur’an menjawab dengan argumentasi yang tidak bisa terbantahkan atas orang-orang yang bodoh (orang-orang Yahudi, musyrik dan munafiq), di dalam firman-Nya Jalla wa ‘Ala;

قلْ لله المشرقُ والمغربُ يَهدى من يشاء إلى صراطٍ مستقيمٍ

“Katakanlah (Muhammad), “Milik Allahlah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus”

Keterangan ayat bahwa seluruh arah merupakan milik Allah Ta’ala. Dengan Dzat-Nya, tidak ada yang lebih utama antara satu arah dengan arah yang lain. Bagi Dzat-Nya, tidak ada satu pun yang berhak dari semua arah untuk menjadi kiblat. Namun, satu arah menjadi kiblat oleh sebab Allah Ta’ala telah mengkhususkannya. Maka tidak ada yang perlu di pertentangkan atas keputusan-Nya untuk mengalihkan arah kiblat kepada arah yang lainnya. Sesungguhnya ungkapan untuk menghadap kepada Allah Subhanahu, yaitu dengan hati dan mengikuti perintah-Nya untuk mengarahkan wajah ke arah kiblat.

Mengapa mereka memprotes engkau wahai Muhammad? Tidak diragukan bahwa sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang memiliki pemahaman dan akal-akal yang bodoh.

اللطيفة الثالثة

Latifah yang ketiga

Ungkapan dari firman Allah Ta’ala tentang أمةً وسطاً  (umat pertengahan). Di dalamnya terdapat makna yang mendalam, yaitu bahwa sebaik-baiknya setiap persoalan yaitu di pertengahan. Melebihkan dari sesuatu yang dituntut di dalam suatu persoalan merupakan pemborosan. Sedangkan menguranginya merupakan sebuah kelengahan. Masing-masing dari pemborosan dan kelengahan berakibat kepada kecenderungan untuk menyimpang dari jalan besar yang lurus. Maka itu menjadi buruk dan tercela. Pilihan yang terbaik adalah berada di pertengahan antara dua ujung dari sebuah persoalan, yaitu pertengahan di antara keduanya.

Muhammad Ibn Jarir al-Tabari mengatakan, sesungguhnya maksud dari umat pertengahan adalah pertengahan di dalam persoalan agama. Orang-orang muslim, mereka tidak melalaikan dalam persoalan agama mereka sebagaimana orang-orang Yahudi yang telah membunuh nabi-nabi mereka, mereka juga telah merubah Kitab Allah. Orang-orang musmin tidaklah membuat kesesatan, sebagaimana orang-orang Nasrani yang telah mengatakan bahwa nabi Isa adalah putranya Allah. Para pendeta mereka telah jauh melampaui batas. Orang-orang muslim adalah kelompok yang berada di pertengahan dalam urusan agama. Maka Allah mensifati mereka sebagai ‘ummatan washatan’. Sebab paling baiknya setiap persoalan di sisi Allah adalah di pertengahan.

Wa Allahu A’lam …

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *