Pengajian kitab Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratul ‘Ain (ke- 27)

Syekh Zainuddin Abdul Aziz Al-Malibari

Ranting NU Bogasari dan HMR

Sabtu, 20 Maret 2021

Oleh. Ahmad Lahmudin

و – يعفى عن (محل استجماره و) عن (ونيم ذباب) وبول (وروث خفاش) فى المكان وكذا الثوب والبدن وإن كثرت لعسر الاحتراز عنها ويعفى عما جف من ذرق سائر الطيور فى المكان إذا عمت البلوى به وقضية كلام المجموع العفو عنه فى الثوب والبدن ايضا ولا يعفى عن بعر الفأرة ولو يابسا على الأوجه لكن أفتى شيخنا ابن زياد كبعض المتأخرين بالعفو عنه إذا عمت البلوى به كعمومها فى ذرق الطيور ولا تصح صلاة من حمل مستجمرا أو حيوانا بمنفذه نجس أو مذكى غسل مذبحه دون جوفه أو ميتا طاهرا كادمى وسمك لم يغسل باطنه أو بيضة مذرة فى باطنها دم ولا صلاة قابض طرف متصل بنجس وإن لم يتحرك بحركته

Dan ditolerir bekas tempat beristinja (bersuci dari hadas) dengan batu. Ditolerir juga kotoran lalat, kencing dan kotoran kelelawar, baik berada di tempat shalat, di baju maupun di badan, meskipun banyak, sebab sulit untuk dihindari. Ditolerir kotoran semua jenis burung yang telah mengering berada di tempat shalat ketika dianggap sebagai musibah yang merata. Keterangan perihal kotoran burung di dalam kitab al-Majmu yaitu ditolerir, baik di tempat shalat, di baju maupun di badan. Tidak ditolerir kotoran tikus, meskipun telah kering, menurut pendapat yang lebih diunggulkan. Namun, Syeikhuna Ibnu Ziyad, sebagaimana juga sebagian ulama mutaakhirin (hidup di masa setelah 300 Hijrah), mentolerir kotoran tikus ketika dianggap sebagai musibah yang merata, sebagaimana di dalam masalah kotoran burung. Tidak sah shalatnya seseorang yang membawa orang lain yang dalam keadaan beristinja dengan batu, atau membawa hewan yang terdapat najis di tempat jalan keluarnya najis, atau membawa binatang yang telah disembelih, di mana bagian tenggorokan sebagai tempat penyembelihannya telah dibersihkan, namun belum dibersihkan bagian dalam perutnya, atau membawa mayit yang suci, seperti mayit manusia dan mayit ikan yang belum dibersihkan bagian dalamnya, atau membawa telur busuk yang di dalamnya terdapat darah. Tidak sah shalatnya seseorang yang menggenggam ujungnya sesuatu yang suci yang bertemu dengan benda najis, meskipun tidak ikut bergerak dengan gerakannya.         

فرع – لو رأى من يريد الصلاة ويبثوبه نجس غير معفو عنه لزمه إعلامه وكذا يلزمه تعليم من رآه يخل بواجب عبادة فو رأى مقلده. Cabang/sub bagian. Apabila seseorang melihat orang lain hendak shalat dengan menggunakan pakaian yang terkena najis yang tidak

ditolerir, maka wajib untuk memberitahukannya. Demikian pula wajib mengajarkan seseorang yang dilihatnya dapat merusak kewajiban ibadah menurut pendapat imam yang diikutinya. 

تتمة – يجب الاستنجاء من كل خارج ملوث بماء ويكفى فيه غلبة ظن زوال النجاسة ولا يسن حينئذ شم يده وينبغى الاسترخاء لئلا يبقى أثرها فى تضاعيف شرج المقعدة أو بثلاث مسحات تعم المحل فى كل مرة مع تنقية بجامد قالع

Penutup. Wajib beristinja (bersuci dari hadas) dari setiap yang keluar dari farji yang mengotori dengan menggunakan air. Dianggap cukup ketika beristinja dengan menggunakan air yaitu dengan kuatnya dugaan bahwa najis telah hilang. Ketika itu tidak disunahkan untuk mencium tangannya. Dituntut wajib untuk mengendorkan agar tidak tersisa najis pada bagian lipatan lingkaran pantat. Atau beristinja bisa dilakukan dengan menggunakan tiga usapan yang dapat mencakup kepada tempat yang diusap di setiap usapannya sehingga benda najis dapat dihilangkan dari tempatnya. Setiap usapan menggunakan benda beku yang dapat melepas benda najis.  

 ويندب لداخل الخلاء أن يقدم يساره ويمينه لانصرافه بعكس المسجد ويُنحّى ما عليه معظم من قرآن واسم نبى أو ملك ولو مشتركا كعزيز وأحمد إن قصد به معظم ويسكت حال خروج خارج ولو عن غير ذكر وفى غير حال الخروج عن ذكر ويبعد ويستتر وأن لا يقضى حاجته فى ماء مباح راكد مالم يستبحر ومتحدث غير مملوك لأحد وطريق وقيل يحرم التغوط فيها وتحت مثمر بملكه أو مملوك علم رضا مالكه وإلا حرم ولا يستقبل عين القبلة ولا يستدبرها ويحرمان فى غير المعد وحيث لا ساتر فلو استقبلها بصدره وحول فرجه عنها ثم بال لم يضر بخلاف عكسه ولا يستاك ولا يبزق فى بوله وأن يقول عند دخوله اللهم إنى أعوذ بك من الخبث والخبائث والخروج غفرانك الحمد لله الذى أذهب عنى الأذى وعافانى وبعد الاستنجاء Disunnahkan bagi orang yang hendak masuk WC untuk mendahulukan kaki kirinya. Ketika kembali dari WC maka sunnah mendahulukan kaki kanannya. Keadaan sebaliknya bila hendak masuk masjid. Disunnahkan pula ketika masuk WC untuk menyingkirkan benda yang terdapat tulisan yang diagungkan, berupa tulisan al-Qur’an, nama Nabi, atau nama malaikat, meskipun digabungkan bersama dengan nama yang lain dengan tujuan mengagungkan, seperti tulisan ‘Aziz (untuk nama Allah dan penguasa suatu daerah), tulisan Ahmad (nama Nabi dan nama seseorang yang bukan nabi). Disunnahkan pula untuk tidak berbicara saat keluar dari WC, meskipun selain zikir. Di selain keadaan saat keluar dari WC, disunahkan untuk tidak berzikir dan membaca al-Qur’an. Sunah juga untuk menjauh dan menutupi dari pandangan manusia. Disunnahkan ketika melaksanakan buang air besar tidak di air yang diperbolehkan yang dalam keadaan tenang, dalam kondisi air tidak berlimpah ruah. Disunnahkan pula tidak di tempat yang diperuntukkan sebagai tempat percakapan yang tidak

ada pemiliknya. Disunnahkan juga tidak di jalan yang dilalui manusia, sebagian mengatakan haram. Disunnahkan pula tidak di bawah pohon yang memiliki buah, baik pohon tersebut dimiliki sendiri maupun milik orang lain yang diyakini diberikan izin dari pemiliknya, jika tidak diyakini mendapatkan izin maka hukumnya haram. Sunah untuk tidak menghadap ke arah kiblat dan membelakanginya. Haram menghadap atau membelakangi arah kiblat pada tempat yang tidak diperuntukkan untuk buang air besar, juga tidak ada penutupnya. Seandainya dada seorang menghadap kiblat, sedangkan farjinya dipalingkan dari arah kiblat, lalu ia kencing, maka hal tersebut tidak menjadi persoalan. Menjadi persoalan bila keadaan sebaliknya. Disunnahkan untuk tidak bersiwak, tidak juga meludah saat seseorang kencing. Hendaknya ketika masuk WC seseorang mengucapkan;

اللهم إنى أعوذ بك من الخبث والخبائث

‘Ya Allah, sesungguhnya Aku berlindung kepada-Mu dari gangguan keburukan para setan laki-laki dan setan-setan perempuan’

Saat keluar dari WC mengucapkan;

غفرانك الحمد لله الذى أذهب عنى الأذى وعافانى

‘Aku memohon ampunan dari-Mu. Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan sesuatu yang menyakitkan dariku, dan yang telah memberikan kesehatan kepadaku’

Setelah usai dari istinja mengucapkan;

اللهم طهر قلبى من النفاق وحصن فرجى من الفواحش

‘Ya Allah, sucikanlah hatiku dari sifat munafik. Lindungilah kemaluanku dari perbuatan-perbuatan yang amat keji.

Imam al-Baghawi berkata, Seandainya seseorang ragu-ragu setelah istinja, apakah ia telah membasuh kemaluannya. Maka tidak wajib untuk mengulanginya.

Wa Allahu A’lam bi Shawab .. 

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *