Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah

Pertemuan ke – 47

Syekh Abi Abdullah Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abbad An Nafazi Ar Randi

Ranting NU Bogasari dan HMR

Selasa, 23 Maret  2021

Oleh. Ahmad Lahmudin

لا تَرْحَلْ من كونٍ إلى كونٍ فتكون كحمار الرحا يَسيرُ والمكان الذي ارتَحلَ إليه هو الذي ارتحل, ولكن ارحلْ من الأكوان إلى المُكَوِّن, وإنَّ إلى ربك الْمُنْتهَى

‘Jangan engkau berpindah dari sesuatu selain Allah kepada sesuatu selain Allah lainnya. Maka engkau akan seperti khimar penggiling, yang berjalan menuju ke tempat di awal pertama kali melangkah. Namun berjalanlah kamu dari yang tercipta kepada Pencipta. Dan sesungguhnya kepada Tuhanmulah kesudahannya segala sesuatu’

Beramal dengan meminta balasan dan kedudukan atau ingin mendapatkan martabat yang tinggi serta maqam, itu berarti telah mengurangi kondisi batinnya dan keikhlaan amalnya telah bercampur dengan yang lainnya. Inilah makna keberangkatan dari sesuatu selain Allah kepada sesuatu yang lainnya selain Allah. Penyebabnya adalah karena tetap memperhatikan keinginannya dalam menggapai martabat, atau ingin mendapatkan pemberian dengan usahanya sendiri. Semua ini merupakan sesuatu di luar Allah. Semuanya sama yaitu menempatkan sesuatu di hati selain Allah. Meskipun sebagian merupakan cahaya yang akan menghantarkan kepada-Nya.

Perumpamaan hal tersebut adalah seperti khimar penggiling (yaitu hewan yang dipergunakan sebagai alat yang memecahkan bahan padat menjadi potongan kecil dengan cara digiling). Orang-orang yang beramal sebab menempatkan sesuatu di hati selain Allah dalam keadaan sangat buruk kondisi batinnya. Dengan sopan mereka berdoa untuk menggapai kepribadian yang baik di hadapan Yang Maha Esa, Maha Kuasa, hingga akhirnya mereka sampai di hadapan Tuhan, sebagaimana difirmankan Allah dalam surat An-Najm ayat 42;

وإنَّ إلى ربك الْمُنْتهَى

‘Dan sesungguhnya kepada Tuhanmulah kesudahannya segala sesuatu’

Lihatlah kepada sabda Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam;

فمن كان هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله, ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها أو إمرأة يتزوجها فهجرته إلى ما هاجر إليه .

‘Barang siapa yang hijrahnya dengan tujuan untuk Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya karena dunia maka ia akan mendapatkannya. Atau hijrahnya karena seorang wanita maka ia akan mengawininya. Maka hijrahnya tergantung dari yang diniatinya’

Pada hadis Nabi tersebut terdapat makna yang dijadikan perhatian. Sementara tempat perenungan terdapat di bagian kedua dari hadis Nabi tersebut, yaitu فهجرته إلى ما هاجر إليه (maka hijrahnya tergantung dari yang diniatinya). Maksudnya, seseorang tidak akan mendapatkan bagian berupa sampai dan dekat kepada Allah, sebagaimana yang di dapat oleh seseorang yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, yaitu sabda Nabi  فهجرته إلى الله ورسوله (maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya). Ini masuk dalam kaidah ‘min bab hasyr al-Mubtada fil khobar’ (mencukupkan mubtada di dalam khobar). Sebagaimana bila engkau katakan, زَيْدٌ صَدِيْقِي  (Zaid adalah sahabatku), maksudnya dia tidak memiliki teman terkecuali aku. Seakan Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan perhatian pada bagian yang kedua dengan dunia yang dituju maka akan didapatinya, dan wanita yang dia ingini maka akan dinikahinya. Itu merupakan keinginan dan tempat perhentian jiwa. Amal perbuatan tergantung kepada dunia dan wanita, meskipun secara zahir jiwanya meminta bagian di waktu yang akan datang. Maka sabda Nabi فهجرته إلى الله ورسوله , mengandung makna berpindah dari selain Allah menuju hanya kepada Allah. Itu yang diminta dari seorang hamba, yang dijelaskan dengan sangat gamblang. Adapun sabda Nabi  فهجرته إلى ما هاجر إليه , yaitu tetap berada di selain Allah dan pindah ke selain Allah. Ini yang dilarang yang ditunjukkan dengan tanpa dijelaskan secara gamblang. Maka hendaknya seorang murid berada pada keinginan yang tinggi serta niat, sehingga ia tidak berpaling kepada selain-Nya, dan tidak ada sama sekali selain Allah. Seorang penyair memperindah dengan ungkapannya;

وكل ما قد خلق اللهُ ولم يخلُقْ   مُحتقَرٌ في هِمَّتي كشِعْرةٍ في مَفْرَقي

‘Segala sesuatu yang diciptakan Allah dan tidak dapat menciptakan maka dianggap rendah dalam keinginanku, sebagaimana sepotong rambut yang berada di tempat belahan rambut’

Berkata seorang laki-laki kepada Abu Yazid, Radiallahu ‘Anhu; أوْصِني , فقال: إنْ أعطاك من العَرْشِ إلى الفَرْشِ فقل له: لا, أنت أريد

‘Berikan wasiatmu kepadaku. Yazid berkata: Jika seseorang memberikan kepadamu dari singgasana raja hingga alas tidur, maka katakanlah kepadanya: Tidak! Engkau adalah tujuanku’

Berkata Abu Sulaiman ad Darani, Radiallahhu ‘Anhu:

لو خُيِّرْتُ بين ركعتين ودخولِ الفردوس لاخْترْتُ ركعتين, لأني في الفردوس بحظِّي وفي الركعتين بربّي

‘Seandainya aku diberikan pilihan antara dua rakaat shalat dan masuk ke dalam surga Firdaus, niscaya aku akan memilih kepada dua rakaat shalat. Sebab keberadaanku di surga Firdaus itu merupakan keinginanku. Sedangkan dua rakaat shalat karena Tuhanku’

Berkata as Sibli, Radiallahu ‘Anhu;

اِحْذَرْ مَكْرَهُ ولو في قوله كُلُوا واشْرَبُوا ولتكن في كل شيء به لا بنفسك

‘Berhati-hatilah kepada tipu daya-Nya, meskipun di dalam ungkapan “Makan dan minumlah!” Jadilah kamu pada setiap sesuatu dengan sebab-Nya, bukan sebab nafsumu’

Firman Allah Ta’ala dalam surat al-Baqarah ayat 60, كُلُوا وَاشْرَبُوا  (makan dan munumlah olehmu). Meskipun secara zahirnya bersifat memuliakan dan memberikan kenikmatan. Namun secara batin merupakan ujian dan cobaan. Sehingga ia mampu melihat kepada siapa yang bersamanya, dan apakah seseorang yang disertai dengan keinginan?   

Wa Allahu Ta’ala Waliyyu at-Taufik

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *