Pengajian kitab Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratul ‘Ain (ke- 28)

Syekh Zainuddin Abdul Aziz Al-Malibari

Ranting NU Bogasari dan HMR

Sabtu, 27 Maret 2021

Oleh. Ahmad Lahmudin

ثالثها ستر رجل – ولو صبيا (وأمة) ولو مكاتبة وأم ولد (ما بين سرة وركبة) لهما ولو خاليا في ظلمة للخبر الصحيح لا يقبل الله صلاة حائض أى بالغ إلا بخمار ويجب ستر جزء منهما ليتحقق به ستر العورة

Syarat shalat yang ketiga, yaitu menutup aurat bagi laki-laki meskipun anak-anak, dan budak perempuan meskipun budak mukatabah (budak perempuan yang mengadakan perjanjian dengan tuannya bila lunas maka akan merdeka) dan budak ummu walad (budak perempuan yang digauli pemiliknya lalu melahirkan anak. Bila pemiliknya mati maka ia akan bebas). Kewajiban menutup aurat bagi keduanya (laki-laki dan budak perempuan) yaitu pada anggota tubuh yang ada di antara pusat perut dan lutut, meskipun di tempat yang sunyi, atau di tempat gelap. Berdasarkan hadis shohih;

لا يقبل الله صلاة حائض أى بالغ إلا بخمار

‘Allah tidak menerima shalatnya wanita yang telah baligh terkecuali ia menutup auratnya dengan khimar (kerudung wanita yang menjulur hingga menutup bagian dadanya ketika membungkuk)’

Wajib pula menutup bagian dari pusat perut dan lutut. Sebab dengan menutup keduanya dipastikan aurat dapat tertutup.

و – ستر (حرة) ولو صغيرة (غير وجه وكفين) ظهرهما وبطنهما إلى الكوعين (بما لا يصف لونا) أى لون البشرة فى مجلس التخاطب كذا ضبطه أحمد بن موسى بن عجيل ويكفى ما يحكى لحجم الأعضاء لكنه خلاف الأولى ويجب الستر من الأعلى والجوانب لا من الأسفل Bagi perempuan merdeka, meskipun kecil, ketika shalat wajib menutup selain bagian muka dan kedua telapak tangan bagian luar maupun bagian dalamnya hingga pergelangan tangan, dengan sesuatu yang tidak menampakkan warna kulit luar saat di tempat perbincangan. Tidak terlihat warna kulit luar ketika berada di tempat perbincangan, merupakan standar yang dipatok oleh Syekh Ahmad bin Musa bin ‘Ajiil. Dianggap mencukupi menutup aurat, yaitu dengan sesuatu yang dapat menirukan kepada kadar bentuk anggota tubuh, seperti celana panjang, namun itu termasuk ke dalam masalah khilaful aula (menyalahi yang lebih utama) bagi laki-laki, sedangkan bagi perempuan dihukumi makruh. Wajib pula (bagi

selain perempuan merdeka) menutup bagian atas dan sisi samping aurat. Sedangkan bagian paling bawah tidak wajib untuk ditutup.

إن قدر – أى كل من الرجل والحرة والأمة (عليه) أى الستر أما العاجز عما يستر العورة فيصلى وجوبا عاريا بلا إعادة ولو مع وجود ساتر متنجس تعذر غسله لا من أمكنه تطهيره وإن خرج الوقت ولو قدر على سائر بعض العورة لزمه الستر بما وجد وقدم السوأتين فالقبل فالدبر

Kewajiban menutup aurat saat shalat bagi laki-laki, perempuan merdeka, dan budak perempuan, itu ketika mereka mampu melakukannya. Di saat tidak mampu untuk menutup aurat maka diperbolehkan untuk shalat tanpa mengenakan busana dengan tanpa wajib diulangi shalatnya, meskipun ada sesuatu yang dapat dijadikan penutup, namun dalam kondisi terkena najis yang sulit untuk dibersihkan karena ketiadaan air. Tidak diperbolehkan shalat dalam kondisi tanpa busana di saat terdapat penutup yang terkena najis yang mungkin untuk dibersihkan, meskipun waktu shalat telah keluar dengan sebab membersihkan. Seandainya seseorang hanya mampu menutupi sebagian auratnya, maka wajib shalat dengan sesuatu yang dia temukan, dengan mendahulukan menutup dua kemaluannya. Jika hanya mampu menutupi salah satu kemaluannya maka wajib untuk mendahulukan menutup kemaluan bagian depan, baru kemudian kemaluan bagian belakang.   

 ولا يصلى عاريا مع وجود حرير بل لابسا له لأنه يباح للحاجة ويلزم التطيين لو عدم الثوب أو نحوه ويجوز لمكتس إقتداء بعار وليس للعارى غصب الثوب ويسن للمصلى أن يلبس أحسن ثيابه ويرتدى ويتعمم ويتقمص ويتطيلس ولو كان عنده ثوبان فقط لبس أحدهما وارتدى باﻟﺂخر إن كان ثم سترة وإلا جعله مصلى كما أفتى به شيخنا

Tidak diperbolehkan seseorang shalat dalam keadaan tanpa busana ketika masih terdapat sutera yang dapat dijadikan sebagai pakaiannya. Ketika dalam kondisi seperti itu diperbolehkan untuk mengenakannya disebabkan ada kebutuhan. Wajib menutup auratnya dengan lumpur atau dengan lainnya ketika tidak ditemukan pakaian. Diperbolehkan bagi seseorang yang mengenakan pakaian bermakmum dengan orang yang tanpa busana. Tidak diperkenankan bagi seseorang yang tanpa busana mengghasab baju milik orang lain (dengan cara mengambilnya secara paksa dari pemiliknya).

ويسن للمصلى أن يلبس أحسن ثيابه ويرتدى ويتعمم ويتقمص ويتطيلس ولو كان عنده ثوبان فقط لبس أحدهما وارتدى باﻟﺂخر إن كان ثم سترة وإلا جعله مصلى كما أفتى به شيخنا Disunnahkan bagi orang yang ingin melakukan shalat untuk memakai pakaian terbaiknya dengan mengenakan selendang, serban, gamis, dan jubah hijau. Jika ia hanya memiliki dua baju maka ia mengenakan pakaian dengan menjadikan selendang pada baju yang kedua. Yang demikian itu bila di sana terdapat tabir (bisa

berupa tembok atau tembok yang ditancapkan). Jika tidak terdapat tabir maka pakaian yang dijadikan sebagai selendang tadi dipergunakan untuk tempat shalat atau sajadah, sebagaimana yang difatwakan oleh Syaikhuna Ibnu Hajar.    

فرع – يجب هذا الستر خارج الصلاة أيضا ولو بثوب نجس أو حرير لم يجد غيره حتى فى الخلوة لكن الواجب فيها ستر سوأتى الرجل وما بين سرة وركبة غيره ويجوز كشفها فى الخلوة ولو من المسجد لأدنى غرض كتبريد وصيانة ثوب من الدنس والغبار عند كنس البيت وكغسل.  

Cabang/Sub bagian. Wajib pula menutup aurat ketika di luar shalat, meskipun dengan menggunakan baju yang terkena najis atau menggunakan sutera ketika tidak ditemukan yang lainnya. Kewajiban menutup aurat ketika di luar shalat tetap dijaga sekalipun di tempat yang sunyi. Namun yang wajib pada tempat yang sunyi yaitu menutup kedua kemaluannya bagi laki-laki, sedangkan bagi selain laki-laki yaitu menutup anggota tubuh yang berada di antara pusat perut dan lutut. Diperbolehkan membuka aurat ketika berada di tempat yang sunyi, sekalipun di dalam masjid, untuk tujuan yang paling ringan, seperti untuk mendinginkan, memelihara baju dari kotorann dan debu saat menyapu rumah, juga ketika membasuh anggota wudhu.  

Wa Allahu A’lam bi Shawab ..       

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *