Latifah (kelembutan) tafsir surat Al-Baqarah ayat 142-145, 1-10

Pertemuan ke- 55

Pengajian IPNU-IPPNU PAC KECAMATAN TARUMAJAYA

Kitab Rawa’i Al Bayan Tafsir Ayat Al Ahkam Min Al-Qur’an

Minggu, 28 Maret 2021

Oleh. Ahmad Lahmudin

اللطيفة الرابعة

Latifah yang keempat

Petunjuk terbesar tentang keutamaan umat Nabi Muhammad  yaitu menjadi saksi terhadap umat-umat lainnya pada hari kiamat nanti. Sungguh diriwayatkan bahwa setiap umat pada hari kiamat mendustakan perihal penyampaian risalah yang dibawa oleh nabi mereka. Allah pun meminta kepada para nabi untuk mengajukan bukti bahwa mereka telah menyampaikan risalah – padahal Allah lebih mengetahui – Maka di datangkan umat Nabi Muhammad. Mereka kemudian menjadi saksi bahwa para nabi telah menyampaikan risalahnya. Berkata umat di luar umat Nabi Muhammad, “Bagaimana mungkin kalian bisa menjadi saksi atas kami, padahal kalian tidak se zaman dengan kami?” Umat Nabi Muhammad berkata, Kami bersaksi melalui informasi dari Allah Azza wa Jalla yang telah berfirman melalui lisan Nabi-Nya yang jujur bahwa risalah kenabian telah sampai kepada kalian. Kemudian di datangkan Nabi Muhammad untuk menguatkan kesaksian umat Nabi Muhammad serta bersaksi tentang sifat adil mereka.

Al Bukhori meriwayatkan dalam kitab Shohihnya, dari Abu Sa’id al-Khudri bahwa Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda;

يُدْعَى نوحٌ عليه السلام يوم القيامة فيقول: لبيك وسعدَيك يا ربّ, فيقول: هل بلّغْتَ فيقول: نعم, فيقال لأمته: هل بلّغكم؟ فيقولون: ما جاءنا من نذيرٍ, فيقول: من يشهد لك؟ فيقول: محمد وأمته, فيشهدون أنه قد بلّغ, فذلك قوله عز وجل (وكذلك جعلناكم أمة وسطا لتكونوا شهداء على الناس, ويكون الرسول عليكم شهيدا) ‘Allah memanggil Nabi Nuh ‘Alaihissalam pada hari kiamat. Ia pun menjawab, “Labbaik wa Sa’daik – Aku penuhi panggilan-Mu, mudah-mudahan kebahagiaan Engkau berikan padaku – wahai Tuhanku!” Allah berfirman, “Apakah telah engkau sampaikan risalah kenabianmu?” Nuh menjawab, “Sudah, wahai Tuhanku!” Allah kemudian bertanya kepada umat Nabi Nuh, “Apakah Nuh telah menyampaikan risalah kenabiannya?” Mereka berkata, “Dia tidak datang kepada kami sebagai orang yang memberi peringatan!”

Allah berfirman kepada Nabi Nuh, “Siapakah yang akan memberikan kesaksiannya teruntukmu?” Nabi Nuh pun menjawab, “Muhammad dan umatnya!” Umat Nabi Muhammad kemudian bersaksi bahwa Nabi Nuh telah menyampaikan risalah kenabiannya. Oleh karena itulah Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وكذلك جعلناكم أمة وسطا لتكونوا شهداء على الناس, ويكون الرسول عليكم شهيدا

‘Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) “umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan kamu’

اللطيفة الخامسة

Latifah yang kelima

Allah Ta’ala berfirman, إلا لِنَعلمَ مَن يَتَّبِعُ الرسولَ (melainkan agar Kami melihat siapa yang mengikuti Rasul). Ali bin Abi Tahalib Radhiallahu ‘Anhu berkata, “Makna لِنَعْلَمَ   adalah لِنَرَى  (agar Kami melihat)”. Orang-orang Arab terkadang menggunakan kata العلم  (mengetahui) dengan makna الرؤية  (melihat, memperhatikan). Terkadang sebaliknya, menggunakan kata الرؤية  dengan makna العلم , seperti firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Fil ayat 1:

المْ تر كيف فعل ربك باصحاب الفيل

‘Tidakkah engkau (Muhammad) mengetahui bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan gajah?’

Kalimat الم تر bermakna ألمْ تَعْلمْ  .

Berkata Imam At Thabari, “Allah Ta’ala Maha Mengetahui semua persoalan sebelum terjadi. Tafsir ayat إلا لِنَعْلَمَ  , yaitu لِيَعْلَمَ رسولي وأوْليائي  (agar supaya Rasul-Ku dan para kekasih-Ku mengetahuinya). Sebab termasuk kebiasaan orang-orang Arab adalah menyandarkan para pengikut dari seorang pemimpin kepada pemimpinnya. Seperti halnya penaklukan daerah Sawad Irak oleh Sayyidina Umar kemudian ia menarik pajaknya. Padahal itu dilakukan oleh para sahabatnya.

Ibnu Abbas berkata, “Adapun maknanya adalah, لِنُمَيِّزَ أهلَ اليَقِيْنِ من أهل الشك والرِّيْبَةِ  (agar kami bisa membedakan orang-orang yang telah yakin dari orang-orang yang ragu dan yang curiga)”. Beliau menfsiri dengan kata التَّمْيِيْز  (membedakan), sebab dengan ilmulah maka bisa membedakan. Imam Al Zamakhsari di dalam kitab Al Kasyaf berkata, “Yang di maksud dengan العلم  (mengetahui) di sini yaitu علم المعاينة  

(mengetahui dengan mata kepala), yang terkait dengan persoalan pahala dan balasan kelak di akhirat. Seagaimana firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 142;

ولَمَّا يَعْلَمِ اللهُ الذين جَاهَدُوا مِنكم ويَعْلَمَ الصابرين

‘Padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu, dan belum nyata orang-orang yang sabar’

اللطيفة الخامسة

Latifah yang kelima

Firman Allah  مِمَّن يَنْقلبُ على عَقِبَيْهِ (siapa yang berbalik ke belakang), merupakan isti’arah (perumpamaan) yang bersifat kesepadanan, di mana memberikan perumpamaan kepada orang yang murtad (keluar) dari agamanya kepada seseorang yang kembali ke arah sebelumnya. Keterkaitan titik kesamaannya yaitu bahwa orang yang kembali ke arah sebelumnya dipastikan meninggalkan apa yang ada di hadapannya dengan cara membelakanginya. Ketika mereka meninggalkan keimanan mereka beserta dalil-dalil yang telah diajukan kepada mereka maka mereka seakan seperti orang yang membelakangi apa yang ada di hadapan mereka. Mereka pun disifati dengan hal tersebut, yakni membelakangi. Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surat Al Muddassir ayat 23;

ثُمَّ اَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ

‘kemudian berpaling dari kebenaran dan menyombongkan diri’

 Wa Allahu A’lam …

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *