Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah

Pertemuan ke – 48

Syekh Abi Abdullah Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abbad An Nafazi Ar Randi

Ranting NU Bogasari dan HMR

Selasa, 30 Maret  2021

Oleh. Ahmad Lahmudin

لا تصحبْ من لا يُنهضك حاله, ولا يدلك على الله مقاله

‘Jangan engkau berkawan dengan seseorang yang kondisi batinnya tidak dapat membantumu untuk bangkit, dan perkataannya tidak dapat memberikan jalan kepadamu menuju kepada Allah’ 

Imam Ibnu Atha’illah di sini berbicara tentang ‘ashuhbah’ (persahabatan). Persahabatan merupakan dasar yang penting dalam suatu komunitas. Di dalamnya terdapat manfaat serta faedah. Oleh karenanya terus berlangsung sebuah persahabatan di antara mereka, baik di masa lalu maupun masa kini. Ibnu Atha’illah Rahimahullah membicarakan faedah atau guna dari persahabatan di dalam ungkapannya;      

لا تصحبْ من لا يُنهضك حاله, ولا يدلك على الله مقاله

‘Jangan engkau berkawan dengan seseorang yang kondisi batinnya tidak dapat membantumu untuk bangkit, dan perkataannya tidak dapat memberikan jalan kepadamu menuju kepada Allah’

Kondisi kebatinan seseorang yang dapat membangitkan serta ucapannya yang dapat menghantarkan orang lain menuju kepada Allah Ta’ala, merupakan faedah atau guna dari sebuah persahabatan. Makna kondisi jiwa yang dapat membangkitkan di sini, yaitu cita-cita, keinginannya terhubung kepada Allah Ta’ala serta terlepas dari para makhluk. Hilang perhatian manusia dari pandangannya. Manusia dalam pandangannya tidak dapat mendatangkan mudharat juga tidak dapat memberikan manfaat. Jiwanya pun terlepas dari pandangannya. Dia tidak dapat melihat dirinya mampu berbuat. Dirinya tidak mampu memberikan keberuntungan. Seluruh amal perbuatannya diwakilkan kepada ketentuan Allah, tanpa melebihkan, tidak pula mengurangi. Inilah sifat orang-orang yang telah mencapa ma’rifat kepada Allah, yang telah mengesakan-Nya. Berteman dengan pribadi yang telah mencapai maqam ini, meskipun

sedikit ibadah serta sedikit amal sunahnya, maka aman dari kerusakan, akan terpuji akibatnya, dan akan mendatangkan nilai di dalam persoalan agama dan dunianya. Sebab watak seseorang pada biasanya dihasilkan dari mencuri watak orang lain. Jiwa seseorang cenderung senang mengikuti seseorang yang dianggap baik keadaan batinnya.

Tidak dipersyaratkan untuk memiliki secara sempurna sifat-sifat terpuji dari seseorang yang dijadikan sahabatnya. Sebab itu sulit untuk direalisasikan. Hanya dipersyaratkan untuk memiliki sedikit lebih dari sifat terpuji sahabatnya tersebut. Di mana sekiranya ia mampu berada lebih tinggi dari kondisi batin serta lebih tepat ucapannya dari sahabatnya tersebut.

Barang siapa yang tidak memiliki sifat seperti ini. Keadaannya hanya sebatas mengurusi persoalan zohirnya saja. Maka tidak ada guna untuk dijadikannya sebagai sahabat. Bahkan terkadang menjadi bertambah keburukannya. Sebab persabatan dengannya hanya mendorong kepada sikap keterpura-puran, sekedar lipstik, pemanis di bibir darinya. Sehingga dapat menghantarkan kepada maksiat yang besar di hati. Itu lebih besar konsekwensi baginya dibandingkan dengan kerusakan sebab maksiatnya anggota badan.

Yusuf bin Husein ar-Razi Radhiallahu Ta’ala ‘Anhu berkata;

“لأن ألقى الله بجميع المعاصي أحبُّ إلي من أن ألقاه بذرةٍ من التصنع” فيدخل بذلك عليه النقص في حاله من حيث رجاء الزيادة فيها.

‘Sungguh, aku bertemu kepada Allah dengan membawa semua dosa lebih aku cintai ketimbang aku bertemu dengannya sebab sikap kepura-puraannya”

Dengan sebab sikap kepura-puraan ia akan mengurangi kondisi batinnya untuk lebih dekat kepada Tuhan. Sebab dalam pershabatannya ia akan mengharapkan adanya kelebihan.

Sebagian ahli sufi berkata;

 لا تعاشر من الناس إلا من لا تزيد عنده ببر, ولا تنقص عنده بإثم يكون ذلك لك وعليك وأنت عنده سواء

‘Jangan kamu bergaul kepada manusia terkecuali dengan seseorang yang tidak akan menambah kebaikan pada dirimu, tidak juga mengurangi dosa yang dapat menguntungkan maupun merugikan teruntukmu. Di sisinya engkau dalam kondisi stabil’

Sebagian ulama sufi yang lainnya berkata;  كن مع أبناء الدنيا بالأدب, ومع أبناء الأخرة بالعلم, ومع العارفين كن كيف شئت

‘Bergaullah kamu kepada para pecinta dunia dengan adab, kepada para pecinta akhirat dengan ilmu, dan kepada orang-orang yang telah ma’rifat dengan sekehendak kamu’

Dipertanyakan kepada sebagian orang-orang yang sholih:

إن فلانا يحبك ويكثر ذكرك, فقال: إنه لحبيب إليّ, وأجلّه, وأعرف قدره, ولكن يهون علي أن ألقى الشيطان ألف مرة ولا ألقاه مرة واحجة !! فقيل له : وكيف ذلك ؟! قال: أخشى أن أتزين له أو يتزين لي.

‘Sesungguhnya si Fulan mencintaimu serta memperbanyak menyebut namamu!” Sebagian mereka berkata, “Sesungguhnya Fulan adalah kekasih bagiku, aku menghormatinya, dan aku lebih mengetahui kemampuannya. Namun, sebab dia, aku dapat dengan mudah bertemu dengan syetan sebanyak seribu kali. Padahal sekalipun aku tidak pernah bertemu dengannya!” Kemudian ditanyakan kepadanya, “Mengapa itu bisa terjadi?” Dia pun menjawab, “Aku khawatir dapat mendatangkan sikap keterpura-puran teruntuknya, juga sikap keterpura-puraan darinya teruntukku!”

Syekh Abu Thalib al-Makki Radhiallahu Ta’ala ‘Anhu berkata;

وكانت هذه الطائفة من الصوفية لا يصطحبون إلا على استواء أربعة معان, لا يترجح بعضها على بعض, ولا يكون فيها اعتراض من بعض على بعض, إن أكل صاحبه الدهر كله لم يقل له صاحيه «صم», وإن كان صام الدهر كله لم يقل له صاحبه «أفطر» وإن نام الليل كله لم يقل له صاحبه «قم فصل» وإن صلى الليل كله لم يقل له صاحبه «نم بعضه», وتستوي أحواله عنده, فلا مزيد لأجل صيامه وقيامه, ولا نقصان لأجل إفطاره ونومه ‘Sebagian orang-orang sufi tidak bersahabat terkecuali adanya kesepadanan dalam empat hal, yang tidak dapat diunggulkan sebagian dari sebagian yang lainnya, tidak pula ada pertentangan antara sebagian dengan sebagian yang lainnya. Pertama, jika sahabatnya di seluruh tahunnya tidak berpuasa, maka dia tidak mengatakan kepadanya, “Berpuasalah!” Kedua, jika sahabatnya di seluruh tahunnya berpuasa, maka dia tidak mengatakan kepadanya, “Tinggalkanlah puasa!” Ketiga, jika sahabatnya di seluruh malamnya tertidur, maka dia tidak mengatakan kepadanya, “Bangunlah dan dirikanlah shalat!” Keempat, jika sahabatnya di seluruh malam-malamnya terjaga untuk shalat, maka dia tidak mengatakan kepadanya, “Bangunlah di sebagian malammu!” Dalam pandangannya, kondisi batin sahabatnya sama dengannya. Di sisinya, tidak ada keistimewaan sebab puasa dan shalat malam yang sahabatnya lakukan. Tidak pula mengurangi keistimewaan bagi sahabatnya sebab tidak berpuasa dan tidak terbangun utuk shalat di seluruh malam-malamnya’

Mereka berkata, “Apabila seseorang bertambah ilmunya sebab bersahabat dengan orang lain, dan berkurang ilmunya ketika sahabatnya meninggalkan amal, maka satu kelompok akan merasa lebih terjaga agamanya, dan lebih menjauhi dari hal-hal yang menyebabkan riya. Sebab jiwa ada kecenderungan untuk mencintai kepada apa yang ia suka dan membenci kepada apa yang ia tidak sukai. Jiwanya diuji dengan cara sahabat yang dikenalnya melihat kepada kondisi batinnya. Dirinya memperlihatkan sesuatu yang dianggap bagus oleh manusia. Dia mendatangkan sesuatu yang menyebabkan datangnya pujian dari manusia. Dirinya juga menjauhi sesuatu yang akan menimbulkan cacian dari manusia. Apabila seseorang bersahabat kepada orang yang memiliki sifat seperti ini, maka ia tidak akan mendapati jalannya orang-orang yang jujur, tidak pula berada di jalan orang-orang yang ikhlas. Maka menjauhinya mereka dari manusia akan dapat lebih memperbaiki hati. Bergaul dengan orang yang semisal mereka akan dapat merusak hati, mengurangi keimanan, dan dapat melemahkan keyakinan. Sebab ini merupakan hal-hal yang menjadi penyebab riya. Dengan riya setiap amal akan sia-sia, modal berdagang dengan Tuhan akan merugi, dan dirinya akan hilang dari pandangan Allah Azza wa Jalla.

Imam Sufyan al-Tsauri Radhiallahu ‘Anhu berkata;

 من عاشر الناس داراهم ومن داراهم راءاهم, ومن راءاهم وقع فيما وقعوا فيه فيهلك كما هلكوا

‘Barang siapa yang bergaul kepada manusia maka ia akan membujuk mereka. Barang siapa yang membujuk manusia maka ia akan bersikap riya kepada mereka. Barang siapa yang bersikap riya kepada mereka maka ia akan terjatuh kepada apa yang telah mereka perbuat. Ketika itulah dia binasa sebagaimana yang telah terjadi pada mereka’

Sebagian ahli hikmah berkata;

لا تؤاخ من الناس من يتغير عليك في أربع: عند غضبه ورضاه, وعند طعمه وهواه, لأن هذه المعاني تتغير لها الطباع لدخول الضرر منها على النفس وفقد الانتفاع.

‘Jangan engkau jadikan teman terhadap seseorang yang akan cemburu dalam empat keadaan; ketika ia marah, ketika ia rela, ketika ia berharap, dan ketika ia mempunyai keinginan’

Wa Allahu Ta’ala Waliyyu at-Taufik

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *