Latifah (kelembutan) tafsir surat Al-Baqarah ayat 142-145, 1-10

Pertemuan ke- 56

Pengajian IPNU-IPPNU PAC KECAMATAN TARUMAJAYA

Kitab Rawa’i Al Bayan Tafsir Ayat Al Ahkam Min Al-Qur’an

Minggu, 4 April 2021

Oleh. Ahmad Lahmudin

اللطيفة السابعة

Latifah yang ketujuh

Allah Ta’ala menamai shalat dengan iman, di dalam firman-Nya, وما كان اللهُ لِيُضِيْعَ إيمانَكم (Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu), maksudnya adalah shalatmu. Sebab iman tidak bisa sempurna terkecuali dengan shalat. Di dalam shalat tercakup niat, ucapan dan perbuatan.

Imam al-Qurthubi berkata, Ulama sepakat bahwasanya ayat ini turun perihal orang-orang yang mati, ketika masa hidupnya mereka melaksanakan shalat dengan menghadap ke arah Baitulmaqdis. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata;

لما وجه النبى صلى الله عليه وسلم إلى الكعبة, قالوا يا رسول الله: فكيف بإخواننا الذين ماتوا وهم يصلون إلى البيت المقدس ؟ فأنزل الله تعالى (وما كان الله ليضيع ايمانكم)

‘Ketika dihadapkan Nabi ke arah Ka’bah, mereka berkata: “Bagaimana dengan saudara-saudara kami yang telah mati, sementara semasa hidupnya mereka shalat menghadap ke Baitulmaqdis?” Kemudian Allah Ta’ala turunkan ayat, وما كان الله ليضيع ايمانكم (Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan shalat kalian).

Kemudian Imam al-Qurthubi berkata, “Allah menamai shalat dengan iman, sebab di dalam shalat terdapat niat, ucapan dan perbuatan.   

Imam Malik berkata, Pada firman Allah Ta’ala tersebut terdapat jawaban bagi orang yang berkata: “Sesungguhnya shalat bukanlah bagian dari iman!”

اللطيفة الثامنة Latifah yang kedelapan

Imam Az-Zamakhsyari berkata, Sesungguhnya lafaz قَدْ  di sini bermakna رُبَّمَا  yang memiliki arti memperbanyak. Maknanya adalah, كَثْرَةُ الرُّؤْيَةِ  (memperbanyak melihat). Sebagaimana perkataan seorang penyair:

 قد أتركُ القِرنَ مُصْفَرّاً أنامِلُهُ    كأنّ أثوابَه مُجّتْ بِفِرْصاد

‘Sering kali aku tinggalkan lawan dalam keadaan kuning jemarinya. Seolah-olah bajunya dibuang di pohon Firshod’

Abu Hayyan berkata, Makna memperbanyak diperoleh dari lafaz التقلب  , sebab telah tercapai makna perubahan. Barang siapa yang melihat dengan sekali pandang, atau dua kali, atau tiga kali pandangan, maka tidak dikatakan bahwa ia telah merubah pandangannya. Tidak bisa dikatakan dengan ungkapan; Dia telah merubah pandangan terkecuali hanya banyak bolak baliknya.

Ungkapan firman Allah Ta’ala قد نرى  , bermakna قد رأينا   (sungguh Kami telah melihat). Karena sesungguhnya lafaz قد   berfungsi merubah makna ‘mudhari’ (saat ini/akan datang) kepada makna ‘madhi’ (lampau), sebagaimana yang dikatakan oleh para ahli nahwu. Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Ahzab ayat 18;

 قَدْ يعلم الله المُوَقِّعِيْن   

‘Sungguh, Allah telah mengetahui orang-orang yang menghalangi’     

Terdapat juga di dalam surat Al-Hijr ayat 97;

وَلقَدْ نعلمُ اَنَّك يَضِيْقُ صدرُك أي قد علمنا

‘Dan sungguh, Kami telah mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit’

اللطيفة التاسعة

Latifah yang kesembilan Para pakar tafsir berkata terkait dengan firman Allah Ta’ala, قد نَرى تَقَلُّبَ وجهِك فى السماءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قبلةً تَرْضاها (Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi). Di dalam ayat ini terdapat makna yang halus tentang kemuliaan budi pekerti Nabi. Beliau hanya menanti datangnya wahyu tanpa meminta kepada Tuhannya. Dengan sebab budi pekerti inilah kemudian Allah memuliakannya dengan kiblat yang ia sukai serta diingininya.

Kemudian Allah berfirman, فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قبلةً تَرْضاها (maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi).

Beberapa alasan mengapa Nabi ‘Alaihissalam lebih mencintai untuk menghadap ke Masjidilharam ketimbang Baitulmaqdis yaitu;

Pertama, agar bisa berbeda dari kiblat kaum Yahudi, di mana mereka mengatakan;

يخالفنا محمد ثم يتّبع قبلتنا ولولا نحن لم يدر أين يستقبل

‘Ajaran Muhammad berbeda dari kita, namun dia mengikuti kiblat kita. Seandainya kita tidak ada, niscaya dia tidak akan mengetahui arah kiblatnya’

Kedua, sesungguhnya kiblat yang dimuliakan adalah kiblat leluhurnya, yaitu Ibrahim, Khalilurrahman.

Ketiga, sesungguhnya Nabi ‘Alaihissalam menginginkan perpindahan arah kiblat agar orang-orang Arab cenderung untuk masuk agama Islam.

Keempat, tempat kelahirannya Nabi adalah di al-Baladil Amin (Mekkah). Di dalamnya terdapat Masjidilharam, yang merupakan kiblat seluruh masjid. Maka beliau lebih senang bila kemuliaan kiblat ini diperuntukkan bagi masjid yang berada di negeri tempat kelahirannya.

اللطيفة العاشرة

Latifah yang kesepuluh  

Ka’bah diungkapkan dengan kata al-Masjidil Haram. Merupakan isyarat yang teramat tersembunyi bahwa yang menjadi kewajiban dalam menghadap kiblat adalah dengan memperhatikan arah kiblat, bukan hakekat benda yang berwujud Ka’bah. Rahasia mengapa terdapat perintah khusus dan umum dalam mengalihkan kiblat, فَوَلِّ وجهَكَ شَطْرَ المسجدِ الحرامِ (Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam), kemudian berfirman, وحيثما كنتم فوَلُّوا وجوهَكم شَطْرَهُ (Dan di mana saja kalian berada, hadapkanlah wajah kalian ke arah itu), padahal khitab (pembicaraan) kepada Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam merupakan khitab terhadap umatnya juga. Rahasianya yaitu sebagai bentuk perhatian yang lebih terhadap persoalan kiblat, juga sebagai bentuk penolakan terhadap dugaan bahwa Ka’bah merupaka kiblat yang dikhususkan hanya teruntuk penduduk Madinah, sebab perintah perubahan arah kiblat terjadi di Madinah kemudian dipahami bahwa arah kiblat ke Baitulmaqdis tetap ada.

Berkata Imam ar Raghib al Isfahani, “Firman Allah yang bersifat khusus tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap Nabi serta jawaban atas keinginannya. Sedangkan firman Allah yang bersifat umum yang datang setelahnya maka seakan diperbolehkan untuk memiliki keyakinan bahwa masalah ini dikhususkan kepada Nabi ‘Alaihissalam, sebagaimana di dalam firman Allah dalam surat Al Muzammil ayat 2, قُمِ الَّيْلَ  (Bangunlah untuk shalat pada malam hari). Dan ketika terjadinya perubahan arah kiblat yang diperuntukan bagi Nabi maka terlintas dibenak mereka bahwa perubahan kiblat juga dikhususkan teruntuk mereka dengan menggunakan khitab (perintah) bentuk tunggal.          

 Wa Allahu A’lam …

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *