Pengajian kitab Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratul ‘Ain (ke- 30)

Syekh Zainuddin Abdul Aziz Al-Malibari

Ranting NU Bogasari dan HMR

Sabtu, 10 April 2021

Oleh. Ahmad Lahmudin

فرع – يندب تعجيل صلاة ولو عشاء لأول وقتها لخبر أفضل الأعمال الصلاة لأول وقتها وتأخيرها عن أوله لتيقن جماعة أثناءه وإن فحش التأخير مالم يضق الوقت ولظنها إذا لم يفحش عرفا لا لشك فيها مطلقا والجماعة القليلة أول الوقت أفضل من الكثيرة آخره ويؤخر المحرم صلاة العشاء وجوبا لأجل خوف فوات حج بفوت الوقوف بعرفة لو صلاها متمكنا لأن قضاءه صعب والصلاة تؤخر لأنها أسهل من مشقته ولا يصليها صلاة شدة الخوف ويؤخر أيضا وجوبا من رأى نحو غريق أو أسير لو أنقذه خرج الوقت.

Cabang/Sub bahasan. Disunahkan untuk mensegerakan shalat di awal waktu, meskipun shalat isya, sebab hadis Nabi;

أفضل الأعمال الصلاة لأول وقتها

‘Paling baiknya amal, yaitu shalat di awal waktunya’ Disunahkan untuk mengakhirkan shalat dari awal waktunya jika diyakini dapat berjamaah ketika berada di pertengahan waktu, meskipun akan melampaui batas dengan sebab mengakhirkan waktu tersebut, dengan catatan waktu shalat tidak menjadi sempit. Juga sunah untuk mengakhirkan waktu dengan menduga akan dapat berjamaah, apabila secara adat/kebiasaan hal tersebut tidak melampaui batas dengan sebab diakhirkannya waktu. Tidak disunahkan secara mutlak untuk mengakhirkan waktu karena ragu-ragu akan dapat berjamaah. Shalat dengan jamaah yang sedikit di awal waktu lebih baik dibandingkan shalat dengan jamaah yang banyak di akhir waktu. Seseorang yang melakukan ihram haji wajib mengakhirkan shalat isya, karena dikhawatirkan tertinggalnya rukun haji dengan sebab tidak dapat melaksanakan wuquf di Arafah. Dia melaksanakan shalat isya sebisa mungkin dengan hanya menyempurnakan rukun dan syaratnya shalat. Dengan argumentasi bahwa mengqhodo haji itu sulit dilakukan, sedangkan mengqhodo shalat itu mudah. Shalat dianggap lebih mudah ketimbang ibadah haji yang lebih sukar pelaksanaannya. Dia juga tidak boleh melakukan shalat seperti halnya shalat dalam kondisi berkecamuknya perang. Wajib pula untuk mengakhirkan waktu bagi seseorang yang melihat orang lain semisal dalam keadaan tenggelam atau ditawan, meskipun waktu shalat akan keluar ketika dia tolong.

فرع – يكره النوم بعد دخول وقت الصلاة وقبل فعلها حيث ظن الاستيقاظ قبل ضيقه لعادة أو لإيقاظ غيره له وإلا حرم النوم الذى لم يغلب فى الوقت.

Cabang/Sub pembahasan. Makruh tidur setelah masuknya waktu shalat, sementara shalat belum dilaksanakan, dengan menduga ia akan terbangun sebelum sempitnya waktu shalat atau dia akan dibangunkan oleh orang lain. Jika keadaannya tidak demikian, maka menjadi haram tidur di dalam waktu yang tidak bisa teratasi.

فرع – يكره تحريما صلاة لا سبب لها كالنفل المطلق ومنه صلاة التسابيح أو لها سبب متأخر كركعتى استخارة وإحرام بعد أداء صبح حتى ترتفع الشمش كرمح وعصر حتى تغرب وعند استواء غير يوم الجمعة لا ما له سبب متقدم كركعتى وضوء وطواف وتحية وكسوف وصلاة جنازة ولو على غائب وإعادة مع جماعة ولو اماما وكفائتة فرض أو نفل لم يقصد تأخيرها للوقت المكروه ليقضيها فيه أو يداوم عليه فلو تحرى إيقاع صلاة غير صاحبة الوقت فى الوقت المكروه من حيث كونه مكروها فتحرم مطلقا ولا تنعقد ولو فائتة يجب قضاؤها فورا لأنه معاند للشرع.

Cabang/Sub bahasan. Dihukumi makruh tahrim (makruh yang berakibat kepada dosa) melakukan shalat yang tidak memiliki sebab, seperti shalat sunah mutlak, juga melakukan shalat tasbih, atau shalat yang memiliki sebab di belakang, seperti dua rakaat shalat istikharah, shalat untuk ihram, yaitu dilakukan setelah shalat subuh hingga matahari naik seukuran satu tombak, dan setelah shalat ashar hingga terbenamnya matahari, dan ketika waktu istiwa (posisi matahari tepat di atas kepala) di luar hari jumat. Tidak dihukumi makruh bila shalat yang dilakukan adalah shalat yang memiliki sebab yang mendahului, seperti dua rakaat untuk wudhu, dua rakaat untuk tawaf, dua rakaat tahiyat masjid, dua rakaat untuk gerhana, dua rakaat shalat jenazah, meskipun untuk mayit yang ghaib, mengulangi shalat untuk dapat berjamaah, meskipun berposisi sebagai imam shalat, seperti halnya juga shalat fardhu dan shalat sunah yang tertinggal yang tidak diinginkan diakhirkannya shalat untuk diqhodo di waktu yang dimakruhkan atau selalu ingin melaksanakan di waktu yang dimakruhkan. Seandainya seseorang memilih untuk melakukan shalat yang memang bukan shalat yang memiliki waktu tersebut di waktu yang memang dimakruhkan (seperti shalat jenazah dipilih setelah shalat asar), maka shalatnya dihukumi haram secara mutlak (baik shalat dengan sebab maupun tanpa sebab), dan shalatnya dianggap tidak sah, meskipun shalatnya tersebut adalah shalat yang tertinggal, maka wajib untuk segera mengqhodo, disebabkan ia telah dianggap membangkang terhadap agama.     

Wa Allahu A’lam bi Shawab ..       

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *