Pertemuan ke – 50 Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah Syekh Abi Abdullah Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abbad An Nafazi Ar Randi

Ranting NU Bogasari dan HMR

Selasa, 13 April 2021

Oleh. Ahmad Lahmudin

Hamdun al Qoshor Radhiallahu Ta’ala ‘Anhu berkata;

أصحب الصوفية, فإن للقبيح عندهم وجوها من المعاذير, وليس للحسن عندهم كبير موقع يعظمونك

‘Bergaullah kepada ahli sufi, sebab sesuatu yang buruk di sisi mereka itu memiliki alasan yang kemudian mereka tolerir. Di sisi mereka tidak ada kebaikan yang besar yang kamu perbuat yang membuat mereka kemudian mengagungkanmu’ Itu sebagai isyarat bahwa di sisi mereka tidak ada amal perbuatan yang mencengangkan ketika bergaul dengan mereka. Imam Junaid Radhiallahu Ta’ala ‘Anhu berkata;

إذا أراد الله بالمريد خيرا أرفقه إلى الصوفية ومنعه صحبة القرّاء

‘Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada murid, maka Dia akan memberikan teman dari kalangan ahli sufi dan mencegah bergaul dengan para ahli qiroat’ Sayyidina Ali Radhiallahu Ta’ala ‘Anhu berkata;

شرّ الأصدقاء من أحوجك إلى المداراة, وألجأك إلى الاعتذار

‘Seburuk-buruknya teman yaitu seseorang yang memaksamu berbuat picik, dan memaksamu untuk membuat alasan’ Sayyidina Ali kemudian melanjutkan perkataannya;

شرّ الأصدقاء من تتكلف له

‘Seburuk-buruknya teman yaitu seseorang yang membuat dirimu terbebani’ Mereka, para ahli sufi membuatkan syair teruntuk Yusuf bin Husein Radhiallahu Ta’ala ‘Anhu;

أحــب مــن الإخوان كلَّ مُـواتـى وكلَّ غضيض الطرف عن عثراتي يـوافقنــي فــي كــل أمــر أحبــه ويحفظنـــي حيــا وبعــــد ممـــاتــي فمــن لـي بهــذا, ليتني قد وجدته فقــاسمتــه مـالــي مـــن الحسنـــات

‘Aku mencintai saudaraku dengan segenap kematianku, dan tanpa melihat dari kesalahan-kesalahanku. Ia sesuai denganku dari semua apa yang aku sukai. Di masa hidup dan matiku, dia tetap menjagaku. Barang siapa yang memiliki kriteria ini, mudah-mudahan aku bisa menemukannya di suatu waktu. Maka aku akan bagi kebaikan teruntuknya berupa hartaku’ Kesimpulan dari ini. Sesungguhnya berteman dengan ahli sufi akan memberikan kesempurnaan manfaat, tidak dengan selain mereka, yaitu orang-orang yang ahli agama dan ahli ilmu. Sebab ahli agama dan ahli ilmu, mereka hanya terpaku kepada hakekat tauhid dan ma’rifat. Mereka tidak bisa berbagi dengan selain mereka. Efektivitas hakekat tauhid dan ma’rifat dari seorang teman kepada pribadi yang digaulinya merupakan tujuan akhir dari keinginan dan permintaan. Ada sebuah ungkapan;

من تحقق بحالة لم يخل حاضروه منها, فمن جلس عند دُكان العطار لم يفقِد الراحئةَ الطيبة.

‘Barang siapa yang berada dalam suatu kondisi tertentu, maka orang-orang yang hadir di dekatnya akan mendapati juga kondisi tersebut. Barang siapa yang duduk di dekat toko penjual minyak wangi maka ia akan mendapati bau yang mewangi’ Hal ini bisa terjadi pada suatu tempat pertemuan, di tempat percakapan. Maka bagaimana dugaanmu terkait dengan persoalan pergaulan dengan sesama? Sungguh sebagian ulama telah memberikan ciri kepada mereka. Mereka berkata;

الصوفيُّ من لا يعرف في الدارين أحدا غيرَ الله, ولا يشهد مع الله سوى الله, قد سُخّر له كل شيء, ولم يسخَّر هو لشيء, وسُلط على كل شيئ ولم يُسلّط عليه شيء, يأخذ النصيب من كل شيء, ولا يأخذ النصيب منه شيء, يصفوا به كدرُ كل شيء ولا يكدَّر صفْوَه شيء, قد شغله واحد عن كل شيء وكفاه واحد عن كل شيء

‘Ahli sufi adalah seseorang yang tidak mengenali seorang pun di dunia dan di akhirat terkecuali Allah. Dia tidak melihat ketika bersama Allah terkecuali Allah. Sungguh segala sesuatu ditundukkan teruntuknya, dia tidak ditundukkan kepada sesuatu apapun. Dia dikuasakan atas segala sesuatu, dan dirinya tidak dikuasai oleh apapun. Dia memiliki andil dari setiap sesuatu, dan dirinya tidak menjadi bagian dari sesuatu. Dengan sebabnya, kotoran segala sesuatu menjadi bersih, dan dia tidak membuat keruh sesuatu yang telah bersih. Sungguh, dirinya telah dibuat sibuk oleh Dzat Yang Esa. Cukup baginya Dia, dengan meninggalkan selain-Nya’ Perhatikanlah olehmu, Rahimakallahu, terhadap sifat-sifat ini. Betapa besar! Betapa teramat mulia! Betapa mulia kondisi jiwa seseorang yang memiliki sifat ini. Betapa mulia keberadaannya! Semoga Allah memberikan manfaat kepada kita dengan sebab mereka. Allah berikan rizki kepada kita dengan sebab keberkahan mereka. Bergaul dengan orang-orang semisal mereka bagi seorang murid akan mendapatkan keistimewaan yang tidak didapati bila bergaul dengan selain mereka, berupa macam-macam mujahadah dan berbagai macam penderitaan, sehingga dari hal tersebut seorang murid dapat menggapai kepada suatu perkara yang tidak dapat dirasionalkan bagi orang yang hanya menggunakan akalnya, dan tidak dapat tercakup di dalam ilmunya orang yang hanya menuqil (memindah) dari orang lain. Berkata Sayyidi Abu al-Abas al Mursi Radhiallahu ‘Anhu;

ماذا أصنع بالكيمياء, والله لقد صبحت أقواما يعبر أحدهم على الشجرة اليابسة فيشير إليها فتثمر رمانا للوقت, فمن صحب مثل هؤلاء الرجال ماذا يصنع بالكيمياء

‘Apa yang dapat aku lakukan dengan ilmu kimia? Demi Allah, sungguh aku telah bersahabat dengan satu komunitas, salah satu dari mereka melewat pohon yang telah kering kemudian pohon tersebut ditunjuk dengan jari-jarinya, beberapa saat kemudian pohon tersebut telah berbuah delima. Seseorang yang bersahabat dengan orang-orang yang semisal mereka, apa yang bisa diperbuat dengan ilmu kimia?’ Sayyid Abu al-Abbas juga berkata;

والله ما سار الأولياء والأبدال من قاف إلى قاف إلا حتى يلقوا واحدا مثلنا فإذا لقوه كان بُغيَتَهم

‘Demi Allah, tidak melakukan perjalanan para wali dan wali Abdal dari gunung Qof ke gunung Qof lainnya terkecuali mereka terhenti ketika mereka bertemu dengan salah satu orang seperti kita. Apabila mereka bertemu orang semisal kita maka orang semisal kita merupakan bentuk kezoliman mereka’ Dalam perkataan yang lainnya;

والله ما بيني وبين الرجل إلا أن انظر إليه نظرة وقد أغنيته

‘Demi Allah, tidak ada di antara diriku dan orang lain terkecuali aku hanya melihat sekali. Itu sudah cukup bagiku’ Berkata guru dari Abu al-Abbas, yaitu Abu al-Hasan Asyadzili Radhiallhu Ta’ala;

أبو العباس هو الرجل الكامل والله, إنه ليأتيه البدويّ يبول على ساقيه فلا يُمسى عليه المساء إلا وقد أوصله إلى الله ‘

Abu al-Abbas adalah pribadi yang sempurna, demi Allah! Suatu ketika datang seorang Badui kepadanya. Tiba-tiba Badui tersebut kencing di kedua betisnya. Maka tidak ada hingga masuk waktu sore terkecuali ia sampaikan hal tersebut hanya kepada Allah’ Akan datang sekilas dari penuturan kondisi batin Imam Ibnu Aho’illah terkait dengan persahabatan beliau. Dan sesuatu yang akan disampaikannya, berupa keberkahan dengan sebab penglihatannya, di dalam ungkapannya;

كل كلام يبرز عليه كِسوةُ القلب الذي منه برز

‘Setiap ucapan akan memperlihatkan bentuk pakaian hati yang diperlihatkan melalui ucapannya’ Wa Allahu Ta’ala Waliyyu at-Taufik

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *