Hukum-hukum Syar’i yang terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 142-145.

Pertemuan ke- 58

Pengajian IPNU-IPPNU PAC KECAMATAN TARUMAJAYA

Kitab Rawa’i Al Bayan Tafsir Ayat Al Ahkam Min Al-Qur’an

Minggu, 18 April 2021

Oleh. Ahmad Lahmudin

الحكم الثاني
Hukum yang kedua
Apakah yang diwajibkan adalah menghadap persis ke Ka’bah atau cukup dengan menghadap ke arah Ka’bah?

Menghadap kiblat merupakan satu kewajiban dari beberapa kewajiban shalat. Shalat dianggap tidak sah tanpa menghadap kiblat. Terkecuali di dalam beberapa keadaan, yaitu ketika dalam keadaan perang berkecamuk, ketika dalam keadaan ketakutan, di dalam shalat sunah saat berada di atas kendaraan atau di atas perahu, maka diperbolehkan menghadap ke arah manapun kendaraannya menghadap. Sebab ada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Muslim, dan at-Tirmidzi;

أَنَّ النبيَّ صلى الله عليه وسلم كان يُصَلِّي على رَاحِلتِهِ حيثما تَوجهتْ به.

‘Sesungguhnya Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah melakukan shalat di atas kendaraannya menghadap kemanapun kendaraannya itu menghadap’

Tentang hal tersebut, turun al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 115;

فَأَيْنَمَا تُوَلُّوْا فَثَمَّ وَجْهُ اللهِ

‘Kemanapun kamu menghadap, di sanalah wajah Allah’

Ini tidak ada perbedaan pandangan di kalangan ulama. Perbedaan terjadi seputar, apakah kewajiban menghadap itu persisi ke Ka’bah atau sebatas menghadap ke arahnya?

Kalangan mazhab Syafi’i dan Hambali berpendapat bahwa yang wajib adalah menghadap persis ke Ka’bah.

Sementara kalangan Hanafi dan Maliki berpendapat bahwa yang wajib adalah menghadap ke arah Ka’bah.

Perbedaan pendapat ini terjadi bukan pada seseorang yang shalat dalam posisi dapat melihat langsung kepada Ka’bah. Adapun seseorang yang shalat dalam posisi dapat melihat langsung kepada Ka’bah maka ulama sepakat bahwa orang tersebut wajib menghadap persis ke Ka’bah. Kelompok ulama yang pertama berpendapat, bagi seseorang yang dapat melihat Ka’bah maka wajib menghadap persis ke Ka’bah. Bagi yang tidak dapat melihat Ka’bah maka wajib bermaksud untuk mengena ke Ka’bah dengan menghadap ke arah Ka’bah. Sedangkan kelompok ulama yang kedua berpendapat, dicukupkan bagi yang tidak dapat melihat Ka’bah dengan hanya menghadap ke arah Ka’bah.

أَدِلَّةُ الشافعية والحنابلة
Argumentasi kalangan Syafi’iyah dan Hanabilah

Kalangan Syafi’iyah dan Hanabilah, mereka berargumentasi dengan al-Qur’an, Sunnah, dan Qiyas.

  1. Al-Qur’an. Ini terlihat pada zohir ayat, فَوَلِّ وجهَكَ شَطْرَ المسجدِ الحرامِ (Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam). Metode pengambilan dalil, yaitu bahwa yang dimaksud dengan الشطر adalah الجهة المحاذية للمصلي والواقعة في سِمَتِه (arah yang lurus, sesuai kenyataan, yang menjadi tanda bagi orang yang shalat). Kemudian disimpulkan bahwa menghadap persis ke Ka’bah adalah wajib.
  2. Sunnah. Hadis riwayat Bukhori-Muslim dari Usamah bin Zaid Radhilallahu ‘Anhu, ia berkata;

لَمّا دخل النبي صلى الله عليه وسلم البيتَ دعا في نواحيه كلِّها, ولم يصلِّ حتى خرج منه, فلما خرج صلى ركعتين في قِبَل الكعبة, وقال: هذه القبلة

‘Ketika Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam masuk ke Baitullah, maka Beliau berdoa di semua sisi sisi Ka’bah. Beliau tidak shalat hingga akhirnya keluar dari Baitullah. Ketika keluar beliau shalat dua rakaat ke arah Ka’bah. Beliau bersabda, “Ini adalah kiblat!”

Mereka berkata, “Kalimat dari ucapan Nabi memiliki fungsi untuk membatasi. Maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada kiblat terkecuali persis mengena kepada Ka’bah.

  1. Qiyas. Sesungguhnya teramat sangatnya Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Salam di dalam mengagungkan Ka’bah merupakan persoalan yang sampai pada tingkatan mutawatir (tidak dapat disangkal). Shalat merupakan persoalan besar bagian dari syiar agama. Shalat dianggap sah dengan menghadap persis ke Ka’bah, menyebabkan bertambahnya kemuliaan Ka’bah. Maka shalat menghadap persis ke Ka’bah menjadi wajib untuk disyariatkan.

Mereka juga berkata, adanya Ka’bah menjadi kiblat merupakan persoalan yang tidak diragukan kebenarannya. Sedangkan selain Ka’bah dijadikan kiblat merupakan persoalan yang diragukan. Menjaga kehati-hatian di dalam shalat merupakan perkara wajib. Maka wajib menunggu keabsahan shalat dengan adanya menghadap persis ke Ka’bah.

Wa Allahu Al Hadi ila Sawaissabil …

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *