Pengajian kitab Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratul ‘Ain (ke- 31)

Syekh Zainuddin Abdul Aziz Al-Malibari

Ranting NU Bogasari dan HMR

Sabtu, 17 April 2021

Oleh. Ahmad Lahmudin

وخامسها استقبال – عين (القبلة) أى الكعبة بالصدر فلا يكفى استقبال جهتها خلافا لأبى حنيفة رحمه الله تعالى (إلا فى) حق العاجز عنه وفى صلاة (شدة خوف) ولو فرضا فيصلى كيف أمكنه ماشيا أو راكبا مستقبلا أو مستدبرا كهارب من حريق وسيل وسبع وحية ومن دائن عند اعسار وخوف حبس (و) إلا فى (نفل سفر مباح) لقاصد محل معين فيجوز النفل راكبا وماشيا فيه ولو قصيرا نعم يشترط أن يكون مقصده على مسافة لا يسمع النداء من بلده بشروطه المقررة فى الجمعة وخرج بالمباح سفر المعصية فلا يجوز ترك القبلة فى النفل ﻟﺂبق ومسافر عليه دين حال قادر عليه من قير إذن دائنه. Syarat shalat yang kelima adalah menghadap zatnya kiblat. Maksudnya adalah menghadap ke Ka’bah dengan dada. Tidak dianggap cukup dengan cara menghadap ke arah Ka’bah. Berbeda dengan Imam Abu Hanifah Rahimahullahu Ta’ala yang menganggap sah shalat dengan menghadap ke arah kiblat. Terkeculai (boleh tidak menghadap ke zatnya kiblat) bagi orang yang tidak mampu menghadap ke arah kiblat, seperti dalam kondisi sakit atau dalam keadaan terikat di sepotong kayu. Diperbolehkan pula tidak menghadap ke arah kiblat ketika terjadi perang yang berkecamuk, meskipun shalat fardhu, maka boleh ketika itu seseorang shalat dengan berbagai macam keadaan, dengan berjalan atau berkendaraan, menghadap kiblat atau membelakanginya. Seperti halnya dalam kondisi perang berkecamuk, yaitu shalat dalam keadaan lari dari kebakaran, sebab banjir, sebab binatang buas, sebab ular, dari orang yang memberi pinjaman ketika tidak mampu membayarnya dan khawatir ditawan. Diperbolehkan pula untuk tidak menghadap kiblat, yaitu pada shalat sunah di dalam perjalanan yang diperbolehkan untuk menuju ke tempat tertentu, maka diperbolehkan shalat sunah dalam keadaan mengendarai dan berjalan, meskipun untuk perjalanan yang pendek. Namun demikian, disyaratkan jarak jauhnya tempat tujuan yaitu ditandai dengan tidak terdengarnya panggilan suara orang, dengan syarat-syarat suara panggilan yang ditetapkan di dalam shalat jumat (yaitu panggilan seseorang yang keras suaranya, bila terdengar maka ada kewajiban jumat baginya). Dikecualikan dari perjalanan yang diperbolehkan, yaitu perjalanan untuk maksiat, maka tidak diperbolehkan meninggalkan arah kiblat saat melakukan shalat sunah bagi orang yang melarikan diri dan bagi orang yang sedang bepergian yang memiliki tanggungan hutang yang telah jatuh tempo dengan tanpa seizin orang yang memberi pinjaman.

و – يجب (على ماش إتمام ركوع وسجود) لسهولة ذلك عليه وعلى راكب إيماء بهما (واستقبال فيهما و فى تحرم) وجلوس بين السجتين فلا يمشى إلا لقيام والاعتدال والتشهد والسلام ويحرم انحرافه عن استقبال صوب مقصده عامدا عالما مختارا إلا إلى القبلة ويشترط ترك فعل كثير كعدو وتحريك رجل بلا حاجة وترك تعمد وطء نجس ولو يابسا وإن عم الطريق ولا يضر وطء يابس خطأ ولا يكلف ماش التحفظ عنه ويجب الإستقبال فى النفل لراكب سفينة غير ملاح

Wajib bagi orang yang melakukan shalat sunah dalam posisi berjalan untuk menyempurnakan ruku dan sujud, sebab hal tersebut mudah untuk dilaksanakan. Bagi yang dalam posisi berkendaraan maka ruku dan sujud dilakukan dengan menggunakan isyarat. Wajib pula bagi orang yang melakukan shalat sunah dalam posisi berjalan ketika ruku, sujud, takbiratul ihram, dan duduk di antara dua sujud untuk menghadap ke arah kiblat. Maka tidak diperbolehkan melakukan perjalanan ketika shalat sunah terkecuali dalam posisi berdiri, i’tidal, tasyahhud, dan salam. Haram berpaling bagi musafir meninggalkan arah tempat tujuan dengan disengaja, mengetahui, dan dalam kondisi normal, terkecuali ia hanya berpaling kepada arah kiblat maka tidak haram.  Disyaratkan untuk meninggalkan perbuatan yang banyak, seperti melompat dan menggerakkan kaki dengan tanpa hajat. Disyaratkan pula untuk meninggalkan menyengaja menginjak benda najis, meskipun dalam kondisi kering dan najis menyebar rata di jalan. Ditolerir menginjak najis yang telah kering dalam keadaan tidak di sengaja. Tidak dibebankan kepada orang yang melakukan shalat dalam keadaan berjalan untuk menjaga diri dari najis, sebab akan merusak kekhusu’annya. Wajib menghadap kearah kiblat dan menyempurnakan semua rukun-rukun pada shalat sunah bagi orang yang sedang mengendarai perahu, dikecualikan bagi sang nahkoda.     

واعلم أيضا أنه يشترط فى صحة الصلاة العلم بفرضية الصلاة فلو جهل فرضية أصل الصلاة أو صلاته التى شرع فيها لم تصح كما فى المجموع والروضة وتمييز فروضها من سننها نعم إن اعتقد العامى أو العالم على الأوجه الكل فرضا صحت أو سنة فلا والعلم بكيفيتها الآتى بيانها قريبا إن شاء الله تعالى                                               Ketahui pula olehmu! Sesungguhnya disyaratkan di dalam sahnya shalat, yaitu mengetahui bahwa shalat diwajibkan kepadanya. Seandainya seseorang secara umum tidak mengetahui bahwa shalat diwajibkan baginya, atau tidak mengetahui kewajiban kepada shalat tertentu, misalnya zuhur, maka tidak sah shalatnya, sebagaimana di dalam kitab al-Majmu dan kitab ar-Raudhoh. Disyaratkan pula di dalam sahnya shalat, yaitu dapat membedakan fardhu-fardhunya shalat dan sunah-sunahnya shalat. Namun menurut pendapat yang diunggulkan, apabila orang yang awam atau orang yang memiliki ilmu memiliki keyakinan bahwa semua shalat adalah fardhu maka dianggap sah shalatnya. Atau memiliki keyakinan bahwa seluruh shalat adalah sunah maka tidak sah shalatnya. Disyaratkan pula di dalam sahnya shalat, yaitu mengetahui tata cara shalat, yang insya

Allah akan dijelaskan nanti dalam waktu dekat. Insya Allah Ta’ala ..

Wa Allahu A’lam bi Shawab ..       

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *