Pertemuan ke – 51
Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah
Syekh Abi Abdullah Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abbad An Nafazi Ar Randi

Ranting NU Bogasari dan HMR
Selasa, 20 April 2021

Oleh. Ahmad Lahmudin

رُبما كنتَ مَسيئا فأراك الإحسانَ صحبتك من هو أسوأ حالا منك

‘Terkadang engkau melakukan dosa, kemudian diperlihatkan kebaikanmu oleh sahabatmu, seseorang yang kondisi batinnya lebih buruk darimu’

Ini merupakan penyakit terbesar yang menimpa pada seseorang, yang berlawanan dari apa yang telah disampaikan oleh Ibnu Atha’illah sebelumnya. Orang tersebut berteman kepada seseorang yang kondisi batinnya berada di bawahnya. Temannya itu menganggap baik terhadap keburukan yang diperbuatnya. Kemudian ia rela dengan dirinya. Temannya tersebut memperlihatkan kebaikan dirinya. Ini merupakan asal dari segala keburukan, sebagaimana penjelasan yang lalu.

ما قلَّ عملٌ برزَ من قلب زاهدٍ, ولا كثُر عملٌ برزَ من قلب راغبٍ

‘Tidaklah sedikit amal yang terlahir dari hati orang yang zuhud. Dan tidaklah banyak amal yang terlahir dari hati orang yang cinta dunia’

Ukuran amal seseorang yaitu dapat dilihat dari hati orang-orang yang melakukannya. Amal yang terlahir dari orang-orang yang zuhud di dunia, berupa amal baik, meskipun sedikit dilihat dari indra penglihatan, maka amal tersebut pada hakekatnya adalah banyak. Amal yang terlahir dari orang-orang yang cinta dunia, berupa amal baik, meskipun secara kasat mata terlihat banyak, maka amal tersebut pada hakekatnya adalah sedikit. Hal demikian, sebab orang-orang yang zuhud, mereka selamat dari penyakit-penyakit yang merusak keikhlasan amal-amal mereka, berupa ingin dilihat oleh manusia, bersikap pura-pura kepada manusia, serta beramal demi meminta tujuan-tujuan dunia. Mereka tidak menginginkan tujuan dunia. Oleh karena itu, amal-amal mereka diterima, sedikit tapi terjaga dari hal-hal tersebut. Pada akhirnya amal yang sedikit tersebut menjadi banyak. Sementara orang-orang yang cinta dengan dunia ditimpa dengan penyakit-penyakit yang dapat membatalkan amal-amal mereka, yang dapat merusak keikhlasan mereka dengan sebab cintanya mereka kepada dunia, maka tidak diterima amal-amal mereka. Amal mereka yang banyak menjadi sedikit disebabkan ada yang menguranginya.

Amirulmukminin Sayyidina Ali bin Abi Thalib Radhiallahu Ta’ala ‘Anhu berkata;

كونوا لقبول الله أشدَّ اهتماما منكم بالعمل, فإنه لا يقل عمل مع التقوى وكيف يقل عمل يُيَقَبَّل؟

‘Jadikan keinginan kuatmu agar amalmu diterima Allah, itu lebih besar. Sesungguhnya Allah tidak akan menyedikitkan amal seseorang yang dibarengi dengan taqwa. Bagaimana mungkin amal yang sedikit diterima Allah?’

Allah Ta’ala menyipati orang-orang mukmin dengan sebutan ‘banyak’, sebab amal mereka dibarengi dengan keikhlasan dan tidak ingin dilihat oleh manusia (riya). Disebutkan dalam surat Al-Ahzab ayat 41;

يا أيها الذين امنوا اذكُرُوا اللهَ ذِكْرًا كثيرًا

‘Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat-Nya sebanyak-banyaknya’
Maksudnya adalah خالِصًا (yang ikhlas). Maka diberi nama الخالص dengan nama الْكثير (yang banyak). Orang yang ikhlas adalah orang yang beramal yang dibarengi dengan niat ikhlas karena Allah semata.

Allah Ta’ala menyipati orang-orang munafik dengan sebutan ‘sedikit’, sebab amal-amal mereka tidak dibarengi dengan keikhlasan dan ingin dilihat oleh manusia. Allah Ta’ala berfirman dalam surat An-Nisa ayat 142;

يُراءُونَ الناسَ ولا يَذْكُرُون اللهَ إلا قليلاً

‘Mereka bermaksud riya (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali’
Maksudnya adalah tidak ikhlas.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata;

ركعتان من زاهدٍ عالم خيرٌ من عبادة المتعبدين إلى آخرِ الدهر أبدًا سرمداً

‘Dua rakaat shalat dari orang yang zuhud, yang ‘alim, itu lebih baik daripada ibadahnya para hamba yang dilakukan hingga akhir masa, kekal selamanya’

Sebagian sahabat berkata kepada pemimpin tabi’in;

أنتم أكثرُ أعمالاً واجتهادًا من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم, وهم كانوا خيراً منكم. قيل: ولِمَ ذلك؟ قال: كانوا أزهدَ منكم في الدنيا

‘Kamu sekalian (tabi’in) lebih banyak amal dan upaya keras kalian, dibandingkan dengan para sahabat Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam, namun mereka lebih baik daripada kalian. Mereka bertanya, “Mengapa demikian?” Dijawab, “Mereka lebih zuhud di dunia daripada kalian!”

Sebagian sahabat juga berkata;

تابَعْنَا الأعمالَ كلها فلم نرَ في أمر الدنيا واﻟﺂخرةِ أبْلَغَ من الزُّهْدِ في الدنيا

‘Kami mengerjakan seluruh amal-amal. Maka kami tidak melihat kepada persoalan dunia dan akhirat itu lebih tercapai kecuali dengan zuhud di dunia’

Berkata Abu Sulaiman al-Darani Radhiallahu Ta’ala ‘Anhu;

سألتُ معروفاُ الكَرْخِى رضي الله تعالى عنه, عن الطائعين لله بأي شيءٍ قدروا على الطاعة؟ فقال: بإخراج الدنيا من قلوبهم, ولو كان شيءٌ منها في قلوبهم ما صَحَّتْ لهم سجَدَةٌ.

‘Aku bertanya kepada Ma’ruf al-Karkhi Radhiallahu Ta’ala ‘Anhu, tentang orang-orang yang ta’at kepada Allah. Dengan apa mereka mampu untuk bisa ta’at? Ma’ruf al-Karkhi menjawab, “Dengan cara mengeluarkan dunia dari hati-hati mereka. Seandainya ada sedikit dunia di hati mereka maka tidak sah sujud mereka!”

Syekh Abu Abdullah al-Qurashi berkata;

شكا بعضُ الناس لرجلٍ من الصالحين أنه يعمل أعمالَ البرِّ ولا يجد حَلاوَةً في قلبه, فقال: لأن عندك بنتَ إبليسٍ وهي الدنيا, ولا بد للأب أن يزورَ ابنته في بيتها وهو قلبك, ولا يؤثّر دخولُه إلا فسادا

‘Mengadu sebagian manusia kepada laki-laki yang sholeh, bahwa mereka melakukan amal-amal baik tapi tidak merasakan manis di hati mereka. Lelaki sholeh itu menjawab, “Sebab di dekatmu ada anak perempuan dari Iblis, yaitu dunia. Mesti, bagi seorang ayah untuk berkunjung kepada anak perempuannya di rumahnya, yaitu hatimu. Iblis tidak akan masuk ke hatimu terkecuali membawa kerusakan!”

Abu Muhammad bin Sahl Radhiallahu Ta’ala ‘Anhu berkata;

يُعَطِّى الزاهدُ ثوابَ العلماء والعُبّاد, ثم يَقْسِمُ على المؤمنين ثوابَ أعماله.

‘Orang zuhud akan melayani pahalanya para ulama dan ahli ibadah, kemudian orang zuhud membagikan pahalanya kepada orang-orang mukmin’

Abu Muhammad bin Sahl kembali berkata;

ولا يُرَى في القيامة أحدٌ أفضلَ من ذي زُهْدٍ عالمٍ ورعٍ

‘Tidak dilihat pada hari kiamat seseorang yang lebih utama dibandingkan dengan orang yang zuhud, yang berilmu, juga wara’

Wa Allahu Ta’ala Waliyyu at-Taufik

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *