Pengajian kitab Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratul ‘Ain (ke- 32) Syekh Zainuddin Abdul Aziz Al-Malibari

Ranting NU Bogasari dan HMR
Sabtu, 24 April 2021

Oleh. Ahmad Lahmudin

فصل – فى الصفة الصلاة (أركان الصلاة) أى فروضها أربعة عشر بجعل الطمأنينة فى محالها ركنا واحدا أحدها (نية) وهي القصد بالقلب لخبر إنما الأعمال بالنيات

Pasal tentang cara untuk mendapatkan shalat. Rukun-rukunnya shalat, maksudnya adalah fardhu-fardhunya shalat yaitu empat belas, dengan menjadikan beberapa thama’ninah dijadikan satu rukun. Rukun shalat yang pertama, yaitu niat. Niat secara bahasa, yaitu bermaksud di hati. Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabad;

إنما الأعمال بالنيات

‘Setiap amal ibadah harus disertai dengan niat’

فيجب فيها – أى النية (قصد فعلها) أى الصلاة لتتميز عن بقية الأفعال (وتعيينها) من ظهر أو غيرها لتتميز عن غيرها فلا يكفى نية فرض الوقت (ولو) كانت الصلاة المفعولة (نفلا) غير مطلق كالراتب والسنن المؤقتة أو ذات السبب فيجب فيها التعيين بالإضافة إلى ما يعينها كسنة الظهر القبلية أو البعدية وإن لم يؤخر القبلية ومثلها كل صلاة لها سنة قبلها وسنة بعدها وكعيد الأضحى أو الأكبر أو الفطر أو الأصغر فلا يكفى صلاة العيد والوتر سواء الواحدة والزائدة عليها ويكفى نية الوتر من غير عدد ويحمل على ما يريده على الأوجه ولا يكفى فيه نية سنة العشاء أو راتبتها والتروايح والضحى وكاستسقاء وكسوف شمش أو قمر

Syarat di dalam niat, yaitu bermaksud untuk melakukan shalat, dengan tujuan untuk membedakan dengan perbuatan selain shalat. Syarat niat berikutnya adalah dengan menentukan shalat, baik zuhur maupun selainnya, agar dapat dibedakan antara zuhur dan shalat-shalat yang lainnya, maka tidak dianggap mencukupi berniat fardhu waktu secara umum, meskipun shalat yang dilaksanakan adalah shalat sunah yang tidak mutlak (yang tidak terkait dengan waktu atau sebab), seperti shalat-shalat rawatib dan shalat-shalat sunah yang dikaitkan dengan waktu atau yang memiliki sebab, maka wajib ditentukan dengan disandarkan dengan sesuatu yang dapat membedakan shalat, seperti shalat sunah zuhur qabliyah atau ba’diyah, meskipun qabliyah dilaksanakan tanpa diiringi dengan shalat fardhu. Demikian juga semisal zuhur, yaitu semua shalat fardhu yang sebelum dan sesudahnya terdapat shalat sunah. Sama seperti shalat sunah zuhur, yaitu idhul adha atau idul akbar, juga idul fitri atau idul ashghar, maka tidak dianggap cukup hanya dengan niat shalat ied. Disamakan dengan niat idul adha, yaitu niat shalat witir, baik untuk satu rakaat maupun lebih. Dianggap cukup niat witir tanpa menyebut bilangan rakaat, dan dibawa kepada jumlah rakaat yang diinginkannya, menurut pendapat yang lebih diunggulkan. Tidak dianggap mencukupi pada shalat witir dengan niat sunah isya atau sunah ratib isya. Sama seperti niat idul adha, yaitu tarawih dan dhuha. Sama seperti niat sunah zuhur, yaitu niat shalat istisqa dan gerhana matahari atau bulan.

أما النفل المطلق فلا يجب فيه تعيين بل يكفى فيه نية فعل الصلاة كما فى ركعتى التحية والوضوء والاستخارة وكذا صلاة الأوابين على ما قاله شيخنا ابن زياد والعلامة السيوطى رحمهما الله تعالى والذى جزم به شيخنا فى فتاويه أنه لا بد فيها من التعيين كالضحى

Adapun shalat sunah mutlak, maka tidak wajib untuk ditentukan, cukup dengan hanya niat melaksanakan shalat, sebagimana pada dua rakaat tahiyat masjid, wudhu, dan istikharah. Demikian pula shalat awwabin (shalat yang dilaksanakan antara maghrib dan isya), menurut pendapat Syaekhuna Ibnu Ziyad dan al-‘Allamah as-Suyuti Rahimahumallah Ta’ala. Sedangkan pendapat yang diputuskan oleh Syaekhuna Ibnu Hajar al-Haitami di dalam kitab Fatawinya, bahwa harus ditentukan di dalam niat shalat awwabin, sebagaimana dalam niat shalat dhuha.

و – تجب (نية فرض فيه) أى فى الفرض ولو كفاية أو نذرا وإن كان الناوى صبيا ليتميز عن النفل (كأصلى فرض الظهر) مثلا أو فرض الجمعة وإن أدرك الإمام فى تشهدها

Wajib di dalam shalat fardhu untuk niat fardhu, meskipun di dalam shalat fardhu kifayah atau shalat nazar, meskipun juga yang melakukan niat adalah anak kecil, untuk membedakan dari shalat sunah, seperti أصلى فرض الظهر (Aku niat shalat fardhu zuhur), atau فرض الجمعة (Aku niat shalat fardhu jum’at), meskipun seseorang mendapati imam ketika dalam posisi tasyahhud jum’at.

وسن – فى النية (إضافة إلى الله) تعالى خروجا من خلاف من أوجبها وليتحقق معنى الإخلاص (وتعرض لأداء أو قضاء) ولا يجب وإن كان عليه فائتة مماثلة للمؤداة خلافا لما اعتمده الأزرعى والأصح صحة الأداء بنية القضاء وعكسه إن عذر بنحو غيم وإلا بطلت قطعا لتلاعبه

Disunahkan di dalam niat untuk menyandarkan kepada Allah Ta’ala, sebagai jalan keluar dari perbedaan pendapat ulama yang mewajibkan niat dengan menyandarkan kepada Allah Ta’ala, juga untuk dapat merealisaskan makna ikhlas. Sunah pula menghadirkan kata ‘ada’ atau ‘qadha’. Tidak wajib menghadirkan kata ‘ada’ atau ‘qadha’, meskipun di satu waktu ia memiliki dua kewajiban, yaitu shalat yang tertinggal bersamaan dengan shalat ‘ada’. Berbeda dengan pendapat yang dipegang oleh Imam al-Azra’i yang mengatakan bahwa yang demikian itu wajib menghadirkan kata ‘ada’ atau ‘qadha’. Menurut pendapat yang dianggap lebih benar, shalat ‘ada’ dianggap sah dengan niat ‘qadha’, begitupun sebaliknya, jika dianggap ada uzur seperti terdapat awan. Jika tidak terdapat uzur, maka shalatnya dianggap tidak sah, sebab dianggap bermain-main.

و – تعرض (لاستقبال وعدد ركعات) للخروج من خلاف من أوجب ولو شك هل أتى بكمال النية أو لا أو هل نوى ظهرا أو عصرا فإن ذكر بعد طول زمان أو بعد إتيانه بركن ولو قوليا كالقراءة بطلت صلاته أو قبلهما فلا

Disunahkan menyebut kata mustaqbilan lillahi Ta’ala dan menyebut bilangan rakaat, sebagai jalan keluar dari perbedaan pendapat ulama yang mewajibkan hal tersebut. Seandainya seseorang ragu-ragu, apakah niatnya telah sempurna atau tidak? Atau apakah ia berniat untuk zuhur atau asar? Jika ia mengingatnya setelah waktu yang lama atau setelah mengerjakan satu rukun shalat, meskipun rukun yang bersifat ucapan, seperti membaca surat al-Fatihah, maka dianggap tidak sah shalatnya. Jika mengingatnya sebelum waktu yang lama atau sebelum mengerjakan satu rukun shalat, maka dianggap sah shalatnya.

Wa Allahu A’lam bi Shawab ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *