Hukum-hukum Syar’i yang terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 142-145.

Pertemuan ke- 59

الْأحْكامُ الشَّرْعِيَّةُ
Hukum-hukum Syar’i yang terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 142-145.

Pengajian IPNU-IPPNU PAC KECAMATAN TARUMAJAYA
Kitab Rawa’i Al Bayan Tafsir Ayat Al Ahkam Min Al-Qur’an
Minggu, 25 April 2021

Oleh. Ahmad Lahmudin

ادلة المالكية والحنفية
Argumentasi kalangan Malikiyah dan Hanafiyah

Kalangan Malikiyah dan Hanabilah, mereka berargumentasi dengan al-Qur’an, Sunah, amal (perbuatan) sahabat, dan aql (rasional).

  1. Al-Qur’an. Zohir (teks) firman Allah Ta’ala, فَوَلِّ وجهَكَ شَطْرَ المسجدِ الحرامِ (Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam). Sesungguhnya seseorang yang menghadap ke sisi yang mengarah ke Masjidilharam maka ia telah melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya, baik mengena persis ke arah Ka’bah maupun tidak.
  2. Sunnah. Pertama, sabda Nabi ‘Alaihissalam;

ما بين المشرق والمغرب قبلةٌ

‘Arah yang berada di antara Timur dan Barat adalah kiblat!”

Kedua, hadis Nabi;

البيتُ قبلةٌ لأهل المسجد, والمسجد قبلةٌ لأهل الحرم, والحرام قبلةٌ لأهل الأرض في مشارقها ومغاربها من أمتي

‘Baitullah merupakan kiblat bagi orang-orang yang berada di Masjidilharam, Masjidilharam merupakan kiblat bagi orang-orang yang berada di Tanah Haram, dan Tanah Haram merupakan kiblat bagi penduduk bumi, baik yang berada di Timur maupun yang di Barat, dari umatku’

  1. Perbuatan para sahabat. Sesungguhnya orang-orang yang berada di dalam Masjid Quba, saat melaksanakan shalat subuh di Madinah, mereka menghadap ke arah Baitulmaqdis, dengan membelakangi Ka’bah. Kemudian dikatakan kepada mereka, sesungguhnya kiblat telah pindah ke Ka’bah. Di pertengahan shalat mereka mengubah arah ke Ka’bah tanpa diarahkan, juga tanpa petunjuk. Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak mengingkari apa yang diperbuat oleh mereka tersebut. Dinamai masjid mereka dengan nama Dzilqiblatain (yang memiliki dua arah kiblat). Mengetahui persis arah Ka’bah tidak mungkin bisa didapatkan kecuali oleh petunjuk dari para arsitek dengan membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Bagaimana mungkin mereka dapat menemukan kepastian arah Ka’bah tanpa berfikir panjang di pertengahan shalat dan di kegelapan malam?
  2. Secara rasional. Secara akal untuk meneliti arah pasti Ka’bah dalam jarak dekat dari Mekah itu sendiri tidaklah mudah. Terlebih, bagaimana dengan daerah yang keberadaannya jauh di ujung dunia, baik di ujung Timur maupun di ujung Barat? Seandainya menghadap perisis ke arah Ka’bah merupakan kewajiban, niscaya tidak ada seorang pun dari mereka yang dinyatakan sah shalatnya. Sebab penduduk yang jauh di Timur dan Barat mustahil berdiri melurusi badan Ka’bah yang memiliki ukuran hanya 20 hasta lebih. Dapat dipastikan menghadap ke arah Ka’bah, namun tidak persis ke Ka’bahnya. Ketika umat sepakat kepada sahnya shalat secara keseluruhan maka kita meyakini bahwa mengenai persis arah Kiblat tidaklah wajib. Allah berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 286;

لا يُكلِّفُ اللهُ نفسا اِلّا وُسْعَها

‘Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya’

Dari sisi yang lainnya. Sesungguhnya manusia di masa Nabi ‘Alaihissalam, mereka mendirikan masjid-masjid. Mereka tidak mendatangkan seorang arsitek untuk meluruskan mihrab. Sulit bila hanya dilakukan dengan menggunakan mata telanjang, terkecuali melalui perhitungan yang detail dari seorang arsitek. Tidak ada seorang pun dari ulama yang mengatakan bahwa mempelajari landasan cara berargumen dari para arsitek itu wajib. Maka dapat kita ketahui bahwa menghadap persis ke Ka’bah tidaklah wajib.

الترجيح
Pendapat yang diunggulkan.

Ini merupakan kesimpulan dari argumentasi dua kelompok yang kami ajukan kepada kalian! Apabila engkau mempertimbangkan dengan sedalam-dalamnya maka engkau akan melihat sesungguhnya argumentasi kelompok yang kedua (Kalangan Malikiyah dan Hanafiyah) itu lebih kuat argumentasinya, lebih jelas penjelasannya, terlebih bagi seseorang yang keberadaannya jauh di ujung dunia, dan dasar syariat yang bersifat toleran terasa enggan untuk membebani sesuatu yang tidak dimampui. Kelompok pertama di saat mereka merasakan kesukaran dari pendapat mereka, khususnya bagi orang yang tidak melihat langsung Ka’bah, mereka berkata, “Sesungguhnya kewajiban bagi orang yang melihat Ka’bah, yaitu mengenai persis arah Ka’bah. Sedangkan bagi yang tidak melihat Ka’bah, yaitu dengan berniat untuk mengena persis arah Ka’bah” Dari sini hampir tidak menjadi jelas perbedaan antara dua kelompok. Sebab mereka secara jelas mengatakan bahwa orang yang tidak melihat Ka’bah mencukupkan diri dengan meyakini menghadap persis ke arah Ka’bah, di mana ketika rintangan-rintangan itu dihilangkan niscaya dia akan melihat dirinya melihat persis arah Ka’bah. Maka pendapat ini cenderung kepada pendapat yang sama. Wa Allahu Al Hadi ila Sawaissabil (Hanya Allah yang dapat menunjukkan kepada jalan yang lurus)

Imam al-Qurtubi di dalam tafsirnya, al-Jami li Ahkamil Qur’an berkata, “Mereka berselisih pendapat, apakah kewajiban bagi orang yang tidak melihat Ka’bah adalah menghadap persis Ka’bah, atau hanya sebatas ke arah Ka’bah? Sebagian dari mereka berpendapat dengan pendapat yang pertama. Berkata Ibnu al-Arabi, yang berpendapat demikian itu lemah, sebab membebani dengan sesuatu yang tidak mungkin bisa terealisasi. Sedangkan sebagian berpendapat dengan hanya menghadap ke arah Ka’bah. Ini pendapat yang benar, dengan berpegang kepada tiga alasan;

Pertama, hal tersebut sangat mungkin bila dikaitkan dengan kesanggupan manusia.

Kedua, perintah di dalam al-Qur’an hanya sebatas menghadap ke arah Ka’bah, فَوَلِّ وجهَكَ شَطْرَ المسجدِ الحرامِ (Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam).

Ketiga, bahwa para ulama berargumentasi dengan cara berbaris memanjang untuk meyakini dengan pasti agar dapat mengetahui berada di tengah-tengah lebar Ka’bah”

Wa Allahu Al Hadi ila Sawaissabil …

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *