Pertemuan ke – 53 Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah

Pertemuan ke – 53
Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah
Syekh Abi Abdullah Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abbad An Nafazi Ar Randi

Ranting NU Bogasari dan HMR
Selasa, 4 Mei 2021

Oleh. Ahmad Lahmudin

لا تترك الذكر لعدم حضورك مع الله فيه, لأن غفلتك عن وجود ذكره أشد من غفلتك في وجود ذكره, فعسى أن يرفعك من ذكر مع وجود غفلة إلى ذكر مع وجود يقظة, ومن ذكر مع وجود يقظة إلى ذكر مع وجود حضور, ومن ذكر مع وجود حضور إلى ذكر مع وجود غيبة عما سوى المذكور

‘Jangan engkau tinggalkan zikir oleh karena hatimu tidak hadir bersama-Nya saat berzikir. Sebab lupanya kamu dengan ketiadaan berzikir itu lebih berbahaya dibandingkan dengan lupanya kamu dengan adanya zikir. Barang kali, Allah akan mengangkatmu dari adanya zikir yang dibarengi dengan lupa menuju kepada zikir yang disertai dengan mengingat, dari adanya zikir yang disertai dengan mengingat menuju kepada zikir yang disertai dengan masuknya hati ke hadapan Tuhan, dan dari adanya zikir yang disertai dengan masuknya hati ke hadapan Tuhan menuju kepada zikir yang disertai dengan ketidak hadiran sesuatu selain Allah. Dan yang demikian itu tidak sulit bagi Allah’

Zikir merupakan jalan yang terdekat menuju kepada Allah Ta’ala. Zikir sebagai tanda untuk memaklumatkan atas adanya kekuasaan Allah. Sebagai mana dikatakan;

الذكر منشور الولاية فمن وفق للذكر أعطي المنشور, ومن سلب الذكر فقد عزل

‘Zikir merupakan tanda pengumuman atas kekuasaan Allah. Barang siapa yang diberikan taufik untuk berzikir maka ia telah diberikan maklumat kepadanya. Dan barang siapa yang meniadakan zikir maka ia telah disingkirkan’

Imam Abu al-Qusyairi Radhiallahu Ta’ala ‘Anhu berkata;

الذكر عنوان الولاية, ومنار الوصلة, وتحقيق الإرادة, وعلامة صحة البداية, ودلالة صفاء النهاية

‘Zikir merupakan tanda atas kekuasaan Allah, sebagai tanda pertalian dengan-Nya, merupakan realisasi atas kehendak-Nya, sebagai tanda keabsahan untuk memulai , dan sebaga petunjuk bahwa diakhiri dengan keikhlasan’

Tidak ada sesuatu apapun di belakang zikir. Seluruh persoalan yang terpuji akan berakhir di zikir. Semuanya terlahir dari zikir. Keutamaan zikir tidak terhingga banyaknya. Seandainya Allah tidak mendatangkan ayat di dalam al-Qur’an tentang zikir terkecuali satu ayat di dalam surat al-Baqarah ayat 152;

فاذْكرُوني أذْكُرْكم

‘Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan akan ingat kepadamu’

Dan firman Allah Ta’ala yang diriwayatkan dari Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam;

أنا عند ظن عبدي بي, وأنا معه حين يذكروني, إن ذكرني في نفسه ذكرته في نفسي وإن ذكرني في ملأ ذكرته في ملأ خير منه, وإن تقرب إلي شبرا تقربت منه ذراعا, وإن تقرب إلي ذراعا تقربت منه باعا, وإن أتاني يمشي أتيته هرولة

‘Aku sesuai dengan apa yang diduga oleh hamba-Ku terhadap-Ku. Jika ia mengingat-Ku di dalam dirinya maka Aku pun akan mengingatnya di dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di dalam satu perkumpulan maka Aku pun akan mengingatnya di dalam satu perkumpulan yang lebih baik. Jika ia mendekati-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekatinya sejauh satu zira. Jika ia mendekati-Ku satu zira maka Aku akan mendekatinya satu depa. Jika ia mendatangi-Ku dengan cara berjalan maka Aku akan datang kepadanya dengan cara berjalan cepat’

Niscaya satu ayat tersebut sudah dianggap cukup untuk mengatakan bahwa betapa besar keutamaan berzikir. Dan hadits tersebut pun disepakati oleh para ahli hadis atas kesahihannya.

Mereka para ahli sufi berkata, termasuk kekhususan dari zikir itu adalah tidak dibatasi dengan waktu tertentu. Sebab dengan adanya waktu maka seorang hamba diberikan beban, boleh jadi wajib, atau sunah. Berbeda dengan ibadah-ibadah yang tidak dibatasi dengan waktu.

Ibnu Abbas Radhiallahu Ta’ala ‘Anhu berkata;

لم يفرض الله تعالى على عباده فريضة إلا جعل لها حدا معلوما, ثم عذر أهلها في حال العذر, غير الذكر, فإنه لم يجعل له حدا ينتهى إليه, ولم يعذر أحدا في تركه إلا مغلوبا على عقله

‘Allah Ta’ala tidak mewajibkan suatu kewajiban kepada hamba-Nya terkecuali memiliki batas tertentu. Hamba tersebut kemudian diberi dispensasi ketika terdapat alasan. Tidak dengan zikir. Sesungguhnya Allah tidak memberikan batas akhir terhadap zikir. Tidak diberikan dispensasi bagi seseorang yang meninggalkannya, terkecuali orang tersebut telah dikuasai oleh akalnya’

Wa Allahu Ta’ala Waliyyu at-Taufik

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *