Siapakah yang Sedang Bersolek?

Mungkin lebih baik manusia dianugerahi otak Forrest Gump. Otaknya muat kecil, tetapi karenanya dia tidak pernah memuat kecuali kebaikan. Tidak pernah mengolah kecuali hal yang positip saja. Siapa pun yang memperlakukannya buruk, dia hanya cukup mengolahnya menjadi baik kepadanya. Kemalangan yang bertubi menimpanya, tidak pernah dia rasakan kecuali baginya Tuhan selalu baik padanya. Yang termuat hanyalah pesan-pesan ibunya. Wajah dunia yang memperlakukannya buruk, terhalang semua oleh kebaikan dan kasih yang dipesankan ibunya kepadanya. Wajah Tuhan tercitra selalu baik, karena pesan-pesan ibunya. Dan semua itu, beruntung karena otaknya yang kecil, dan prosesornya yang terbatas.

Otak Forest Gum, otak keberuntungan. Tidak cukup muat berita buruk, prasangka negatif,  konspirasi, makar, laten, dan segala kemungkinan kemampuan kejahatan manusia yang bisa menimpanya. Di antara dia dan dunia, ada ibu yang membantu mengolahnya agar semua menjadi baik di pandangan batinnya.

Film Forrest Gump ini jenaka, tetapi sesekali tak kuasa membendung jatuhnya air mata. Apa iya ya dunia seindah ini? Forrest Gump adalah fantasi, yang kita temui realitanya sering kebalikannya.

Manusia makhluq yang complicated. Berliku-liku. Tidak linier. Multi parameter. Gampang dan cepat berubah. Daya jangkau yang meluas-luas. Tidak pernah puas berhenti di satu titik. Dia akan berkelana lebih jauh, semakin jauh. Ngalor-ngidul. Tidak pernah puas. Ngeyel. Gak mau mapan. Di dunia ini yang sering tidak mampu dibendung oleh manusia adalah prasangkanya sendiri. Mengkhayalkan manusia seperti Forrest Gump adalah sia-sia buat manusia. Mustahil.

Tetapi memandang setiap Ramadhan tiba ini, kita seperti di-Forrest Gump-kan. Ramadhan seperti sebuah maket kecil. Orang-orang yang bertaqwa sepanjang masa, kalau mau berlogika, mestinya protes kepada Tuhan. Mengapa Allah menurunkan Ramadhan? Bukankah sebaik manusia adalah para pengabdi sepanjang masa. Tidak bersiap hanya kala-kala tertentu saja. Mengapa Allah perlu menurunkan periode khusus, sehingga manusia sengaja berhenti, bersiap diri, pada titik-titik tertentu, untuk sekedar berhias diri, kemudian setelah itu keblangsak lagi.

Mengapa Allah tidak memberikan hadiah saja kepada golongan manusia yang ibadahnya sepanjang tahun seperti Ramadhan. Mengapa mesti membuat maket-maket kecil. Paket-paketan. Saat-saat diskon. Bulan-bulan keringanan. Titik-titik penentuan penting. Mengapa hadiah itu bukan untuk yang tidak hanya pandai bersolek ketika diingatkan saja. Mengapa Allah seperti memberikan semacam cheating kepada manusia, dimana sepanjang hidup dan umurnya bergelimang keburukan tetapi saat-saat tertentu mampu mencuri kesempatan. Mengapa Tuhan tidak menghukum keluasan prasangka manusia, besarnya dosa manusia, tebaran prasangka dan kedzaliman yang dilakukannya dalam masa-masa yang lebih lama.

Pusaran berpikir saya terhenti seketika saat saya menyaksikan beberapa kotak yang sengaja diletakkan di depan pintu rumah. 2-3 hari ini paket lebaran berdatangan, tidak hanya dari jauh tetapi dari tetangga-tetangga terdekat. Satu per satu saya buka. Mungkin ini membuat mengerti, dan mengapa Ramadhan selalu patut disyukuri. Paket-paket ini tidak hanya nampak makanan dan minuman di pandangan saya, jauh lebih dalam hingga menyentuh hati saya. Sebagian yang mengirim paket ini dalam pandangan saya jauh lebih patut saya bantu dan saya kirimi daripada saya yang harus mendapatkan bingkisan lebarannya. Satu dua orang adalah mantan karyawan yang saya berhentikan. Bahkan satu plastik berisi bawang putih, bawang merah cukup banyak, justru dikirimi oleh Tukang Sayur langganan isti saya. “Ini gratis, Bu buat bingkisan Lebaran”,katanya. Sebagian lagi adalah kawan-kawan yang saya sendiri sudah nyaris saya lupakan. Mereka manusia-manusia mengejutkan bagi saya. Paket-paket ini memiliki Bahasa yang dalam dan menyentuh. Tukang Sayur, tetangga saya yang sangat sederhana, karyawan-karyawa yang pernah saya berhentikan, kawan-kawan yang terlupakan, gamblang tergambar dan menusuk sisi kemanusiaan saya.

Allah mempertemukan dalam titik-titik temu yang mengejutkan. Kadang saya berpikir, siapa yang sedang bersolek dengan momentum Ramadhan ini? Manusiakah atau malah Tuhan sendiri?

Berhentilah manusia pada momentum-momentum seperti ini. Istirahatkan sejenak. Sempitkan otak dan batin kita setelah sekian lama menjelajah luas yang lama tak menepi. Oleh Allah kita ditemukan pada momentum yang mengejutkan. Bilah-bilah kasih sayang dan sisi kemanusiaan yang Indah.

Dengan Allah SWT kita juga melipir dulu. Sejenak menyendiri. Tidak usah kemana-mana dulu. Tuhan itu Maha Baik. Bahwa lapar, sempit, pilu,  kesendirian, kesedihan, meraung-meraung kesakitan, segala yang kita alami semata-mata karena Allah itu Maha Sayang sama kita. Kita saja terlalu banyak prasangka. Mencabik-cabik sendiri. Mendlolimi diri sendiri.

Tuhan sendiri mem-branding diri-Nya dengan Kasih Sayang. Atas segala sifat-Nya yang absolut, tidak terkalahkan, semau-maunya, Allah SWT menyelimuti diri-Nya di depan makhluq-Nya dengan Sifat yang Dia tonjolkan yaitu kasih sayang.

كَتَبَ عَلٰى نَفۡسِهِ الرَّحۡمَةَ

“Dia mencitrakan atas diri-Nya Kasih Sayang” (Al An’am :12)

Menurut para sufi, sekian ribu amal kita mungkin hanya satu yang menjadikan Allah ridlo kepada kita. Karena banyak belum tentu bermakna. Luas belum tentu bernilai. Kecil pada momentum yang tepat justru sering menyelamatkan kita. Karena itu para sahabat Nabi SAW, tidak pernah melewatkan Ramadhan walaupun mereka setiap harinya tekun beribadah. Karena selalu ingin mencari ruang sempit, waktu-waktu khusus, bilangan-bilangan tertentu, yang disediakan Allah SWT untuk para hamba-Nya.

Kita kurang mempersempit ruang berpikir kita. Terhadap manusia lain kita gemar menimbang-nimbang dan menghitung-hitung, sementara diri kita semakin terlena. Allah SWT seperti berhias untuk manusia agar jatuh cinta pada momentum-momentum yang Dia sediakan, agar sering kembali.

Post Author: Saptadi Nurfarid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *