Pertemuan ke – 54 Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah

Pertemuan ke – 54
Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah
Syekh Abi Abdullah Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abbad An Nafazi Ar Randi
Ranting NU Bogasari dan HMR
Selasa,1 Juni 2021
Oleh. Ahmad Lahmudin

Allah perintahkan kepada hamba-Nya untuk berzikir, mengingat kepada-Nya di setiap keadaan. Allah berfirman dalam al-Qur’an surat an-Nisa ayat 103;
فاذْكُرُوا اللهَ قيامًا وقُعودًا وعلى جُنُوبِكُمْ

‘Ingatlah Allah ketika kalian berdiri, pada waktu duduk dan ketika berbaring’
Di dalam surat al-Ahzab ayat 41, Allah berfirman;

يا أيها الذين امنوا اذكروا اللهَ ذكرا كثيرا

‘Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat-Nya sebanyak-banyaknya’
Maksudnya, yaitu berzikir di malam hari, siang hari, di darat, di laut, ketika bepergian, ketika tidak bepergian, di waktu kecukupan, di waktu susah, di kala sehat, ketika sakit, di tempat sepi, di tempat keramaian, dan di segala kondisi apapun.
Imam Mujahid bin Jabir Radiallahu ‘Anhu berkata;

الذكر الكثير أن لا تنساه أبدا

‘Tujuan zikir yang banyak agar kamu selamanya tidak melupakannya’
Diriwayatkan dari Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam;


أكثروا ذكر الله حتى يقولو: مجنون

‘Perbanyaklah mengingat Allah, hingga manusia mengatakan kamu sebagai orang gila’
Sudah semestinya bagi seorang hamba untuk memperbanyak zikir di segala kondisi, seluruh waktunya dihabiskan untuk berzikir, dirinya tidak lalai dari zikir. Baginya, tidak ada zikir yang ditinggalkannya sebab dirinya lalai dari berzikir. Karena baginya, meninggalkan zikir disertai dengan lalai itu lebih berat resikonya dibandingkan dengan hanya melupakannya. Maka wajib baginya untuk mengingat kepada Allah Ta’ala dengan lisannya meskipun melupakan-Nya di hati. Boleh jadi, dengan mengingat-Nya melalui lisan dengan disertai melupakan-Nya di hati akan membawanya kepada mengingat dengan lisan yang disertai dengan tidak mengingat kepada apapun terkecuali hanya sibuk kepada-Nya . Ini merupakan sifat bagi orang-orang yang berakal. Boleh jadi, dengan mengingat-Nya melalui lisan dengan disertai hanya mengingat kepada-Nya, tidak selain-Nya, akan membawanya kepada mengingat-Nya dengan lisan disertai dengan hati menuju ke hadapan Ilahi. Ini merupakan sifat dari para ulama. Boleh jadi, dengan mengingat-Nya melalui lisan disertai dengan hati menuju ke hadapan Ilahi akan membawanya kepada mengingat melalui lisan disertai dengan adanya ketidak hadiran terkecuali Allah. Ini adalah tempat bagi orang-orang yang benar-benar telah mencapai ma’rifat kepada Allah, yaitu para Auliya. Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-Kahfi ayat 24;


وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيْتَ

‘Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa’
Maksudnya adalah ketika engkau lupa sesuatu selain Allah. Ketika dalam kondisi tersebut engkau menjadi pribadi yang mengingat kepada Allah. Pada maqam ini terputus zikir melalui lisan. Seorang hamba menjadi hilang di hadapan mata. Pada makna ini, mereka lantunkan sebuah syi’ir;


مـا إن ذكـرتـك, إلا هــم يقلقنـي سري, وقلبي, وروحي عند ذكراك
حتـى كـأن رقيبـا منك يهتف بي إيـــاك ويحــــك والتـــذكـــار إيـــاك
أما ترى الحق قد لاحت شواهده وواصــل الكـــل مــن معنـاه معنـا

Tidak pernah aku mengingat Engkau terkecuali kecemasan yang akan membuatku gelisah. Adapun batinku, hatiku, dan ruhku hanya tertuju untuk mengingat-Mu.
Sehingga seakan-akan pengawal-Mu membisikkan kepadaku; Waspadalah terhadap zikirmu.
Tidakkah engkau melihat Allah. Sungguh terlihat bukti-bukti keberadaan-Nya. Penghubung semua makna-Nya yaitu makna engkau’
Wa Allahu Ta’ala Waliyyu at-Taufik

Post Author: Apip Rahman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *