Pengajian kitab Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratul ‘Ain (ke- 35)

Ranting NU Bogasari dan HMR
Sabtu, 5 Juni 2021

Syekh Zainuddin Abdul Aziz Al-Malibari

Oleh. Ahmad Lahmudin

وثالثها – (قيام قادر) عليه بنفسه أو بغيره (فى فرض) ولو منذورا أو معادا ويحصل القيام بنصب فقار ظهره أى عظامه التى هي مفاصله ولو باستناد إلى شيء بحيث لو زال لسقط ويكره الاستناد لا بانحناء إن كان أقرب إلى أقل الركوع إن لم يعجز عن تمام الانتصاب

Rukun shalat yang ketiga yaitu berdiri bagi yang mampu, baik dengan dirinya sendiri maupun dengan bantuan orang lain, di dalam shalat fardhu, shalat yang dinazarkan, atau shalat fardhu yang diulang. Berdiri dapat dicapai dengan cara menegakkan persendian tulang-tulang punggung, meskipun dengan bersandar kepada sesuatu yang bila mana sesuatu itu hilang maka ia akan terjatuh. Hukum bersandar semacam itu dimakruhkan. Tidak dapat dikatakan berdiri apabila dalam kondisi menunduk lebih mendekat kepada posisi ruku, di saat ia mampu untuk berdiri tegak.

ولعاجز شق عليه قيام – بأن لحقه به مشقة شديدة بحيث لا تحتمل عادة وضبطها الإمام بأن تكون بحيث يذهب معها خشوعه (صلاة قاعدا) كراكب سفينة خاف نحو دوران رأش إن قام وسلس لا يستمسك حدثه إلا بالقعود وينحنى القاعد بالركوع بحيث تحاذى جبهته ما قدام ركبتيه.

Diperbolehkan bagi seseorang yang tidak mampu berdiri sebab kondisi sulit untuk shalat dalam keadaan duduk. Dikatakan tidak mampu berdiri sebab adanya kesulitan yang berat yang secara adat (kebiasaan) tidak ada kemungkinan untuk bisa ditanggung. Imam Haramain memberi batasan kepada kondisi sulit untuk bisa berdiri, yaitu dengan hilangnya khusu. Contoh kondisi yang sulit untuk berdiri yaitu dalam keadaan mengendarai perahu yang akan timbul rasa nyeri kepala bila mana berdiri, juga seseorang yang tidak dapat menahan hadasnya terkecuali dengan cara duduk. Bagi seseorang yang shalat dalam kondisi duduk, ketika ruku maka menunduk dengan melurusi jidatnya ke arah tempat yang berada di depan kedua lututnya.

فرع – قال شيخنا يجوز لمريض أمكنه القيام بلا مشقة لو انفرد لا إن صلى فى جماعة إلا مع جلوس فى بعضها الصلاة معهم مع الجلوس فى بعضها وإن كان الأفضل الانفراد وكذا إذا قرأ الفاتحة فقط لم يقعد أو السورة قعد فيها جاز له قرائتها مع القعود وإن كان الأفضل تركها هـ

Cabang/sub bagian. Berkata Syakhuna, Ibnu Hajar: Bagi seseorang yang sakit, manakala shalat sendiri dimungkinkan dapat berdiri tanpa rasa sakit, namun apabila shalat berjamaah ia tidak mampu untuk berdiri terkecuali dengan kondisi duduk pada sebagian waktu jamaahnya, maka diperbolehkan baginya shalat dengan cara duduk di sebagian jamaahnya. Meskipun yang lebih utama adalah dengan shalat sendiri tanpa berjamaah. Seperti halnya juga, bagi seseorang yang apabila hanya membaca al-Fatihah maka ia mampu untuk berdiri atau ketika membaca al-Fatihah dan surat maka bacaan suratnya berada pada posisi duduk, maka diperbolehkan baginya membaca surat dalam posisi duduk, meskipun yang lebih utama adalah meninggalkan membaca surat.

والأفضل للقاعد الافتراش ثم التربع ثم التورك فإن عجز عن الصلاة قاعدا صلى مضطجعا على جنبه مستقبلا للقبلة بوجهه ومقدم بدنه ويكره على الجنب الأيسر بلا عذر فمستلقيا على ظهره وأخمصاه إلى القبلة ويجب أن يضع تحت رأسه نحو مخدة ليستقبل بوجهه القبلة وأن يومئ إلى صوب القبلة راكعا وساجدا وبالسجود أجرى أفعال الصلاة على قلبه فلا تسقط عنه الصلاة ما دام عقله ثابتا وإنما أخروا القيام عن سابقيه مع تقدمه عليهما لأنهما ركنان حتى فى النفل وهو ركن فى الفريضة فقط.

Posisi duduk yang paling utama dalam shalat yaitu duduk Iftirasy (yaitu duduk di atas tumit kaki yang kiri setelah menempelkan bagian luar kaki kiri tersebut ke lantai dan menegakkan kaki yang kanan serta meletakkan jari-jari kaki kanan di lantai dengan menghadap ke arah kiblat), disusul kemudian duduk Tarabbu’ (yaitu duduk di atas dua pangkal paha dengan meletakkan kaki yang kanan di bawah paha kaki kiri dan kaki yang kiri di bawah paha kaki kanan), dan terakhir duduk Tawarruk (yaitu duduk seperti duduk Iftirasy hanya kaki kiri dijulurkan ke arah kaki kanan, sementara pantat menempel lantai). Jika tidak mampu shalat dalam kondisi duduk maka diperbolehkan shalat dalam kondisi tidur miring pada lambung sebelah kanan, sementara wajah dan dadanya menghadap ke arah kiblat. Makruh shalat dalam kondisi miring pada lambung sebelah kiri dengan tanpa alasan yang diperbolehkan oleh agama. Bila tidak mampu dalam posisi tidur miring maka diperbolehkan shalat dalam keadaan tidur terlentang pada punggungnya, sementara dua bagian lekuk dari telapak kakinya menghadap ke kiblat. Wajib meletakkan seumpama bantal di bawah kepalanya agar wajahnya menghadap ke arah kiblat. Wajib menghadap ke arah kiblat dengan isyarat kepala ketika ruku dan sujud. Isyarat dengan kepala ketika sujud lebih direndahkan dibandingkan ketika ruku. Isyarat dengan menggunakan kepala ketika ruku dan sujud itu di lakukan manakala memang tidak mampu untuk ruku dan sujud. Jika tidak mampu dengan menggunakan isyarat kepala maka dengan isyarat kelopak mata. Jika tidak mampu dengan isyarat kelopak mata maka pekerjaan shalat dilakukan dengan menggunakan hati. Maka kewajiban shalat tidak gugur selama akal masih berfungsi. Ulama fikih meletakkan kewajiban berdiri dalam shalat berada diurutan setelah niat dan takbiratul ihram dengan alasan bahwa niat dan takbiratul ihram merupakan rukun tidak hanya pada shalat fardhu, juga pada shalat sunah. Sedangkan kewajiban berdiri hanya ada pada shalat fardhu.

كمتنفل – فيجوز له أن يصلى النفل قاعدا ومصطجعا مع القدرة على القيام أو القعود ويلزم المضطجع القعود للركوع والسجود أما مستلقيا فلا يصح مع إمكان الاضطجاع

Di samakan dengan kondisi seseorang yang tidak mampu berdiri ketika shalat, yaitu dalam kondisi shalat sunah. Maka diperbolehkan bagi orang yang shalat sunah untuk duduk dan tidur miring dalam kondisi ia mampu untuk berdiri atau duduk. Bagi yang dalam kondisi tidur miring wajib duduk di saat ruku dan sujud. Adapun shalat sunah yang di lakukan dalam posisi tidur terlentang dihukumi tidak sah di saat ia mampu melakukannya dalam posisi tidur miring.

وفى المجموع إطالة القيام أفضل من تكثير الركعات وفى الروضة تطويل السجود أفضل من تطويل الركوع.

Di dalam kitab Majmu, dikatakan bahwa memperpanjang berdiri lebih utama dibandingkan dengan memperbanyak rakaat. Sementara di dalam kitab Raudhah, dikatakan bahwa memperpanjang sujud lebih utama dibandingkan dengan memperpanjang ruku.

Wa Allahu A’lam bi Shawab ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *