Pertemuan ke – 55 Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah

Pertemuan ke – 55
Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah
Syekh Abi Abdullah Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abbad An Nafazi Ar Randi

Ranting NU Bogasari dan HMR
Selasa,8 Juni 2021

Oleh. Ahmad Lahmudin

Muhammad bin Musa al-Wasti berkata seraya memberikan petunjuk kepada maqam orang-orang yang telah mencapai ma’rifat;

الذاكرون في ذكره أكثر غفلة من الناسين لذكره, لأن ذكره سواه.

‘Orang-orang yang berzikir kepada Allah dengan menggunakan hati, mereka ketika berzikir dengan lisan akan lebih banyak lupanya ketimbang orang-orang yang meninggalkan zikir, sebab berzikir dengan lisan akan membawanya kepada nafsu, dan itu syirik. Syirik lebih buruk dari lupa’

Sementara Abu al-Abbas al-Banna berkata – dalam sebuah ungkapan yang disebutkan pada muqadimah kitab Abu al-Izz Taqiyuddin bin al-Muzaffar as-Syafi’i, yaitu kitab al-Asrar al-Aqliyah Fi al-Kalimati an-Nabawiyah. Aku melihat ungkapannya ini melalui tulisan tangannya Abu al-Abbas Rahimahullah – :

ومن أحسن الذكر ما هاج عن خاطر وارد من المذكور, جل ذكره

‘Zikir yang paling baik yaitu zikir yang timbul dari dalam hati yang berasal dari Allah Jalla Zikruhu’
Inilah yang disebut dengan zikir khofi menurut ulama tasawuf, yang terus menerus berzikir dengan hati.

Adapun perkataan mereka: Hingga kemungkinan bagi orang yang berzikir berada dalam kondisi batin yang kosong dari zikir. Maka itu bukanlah perwujudan dari konsep hulul (menyatunya dua jenis yang masing-masing berbeda), bukan pula bagian dari konsep ittihad (menyatunya dua jenis menjadi satu jenis). Hal tersebut merupakan hikmah dan kuasa dari Allah. Penjelasan dari itu, bahwa ketika berzikir dengan hati maka hati kosong dari selain-Nya. Maka tidak tersisa terkecuali Allah. Hati akan menjadi rumah bagi Allah. Hati hanya akan dipenuhi Allah. Zikir keluar darinya tanpa disengaja, tanpa dipikir. Ketika dalam kondisi itu maka Allah akan menjadi lisan baginya ketika ia berbicara. Ketika ia menampar maka Allah akan menjadi tangan baginya. Ketika ia mendengar maka Allah akan menjadi telinga baginya untuk mendengar. Sungguh, Allah telah menguasai seluruh hatinya untuk dimiliki-Nya. Allah juga menguasai seluruh anggota tubuhnya untuk digunakan-Nya sesuai dengan keinginan-Nya. Seluruh sifat hamba menjadi kuasa-Nya sehingga berkehendak sesuai dengan keinginan-Nya. Oleh karena itulah zikir keluar darinya tanpa terbebani. Amal-amal baik lahir dengan penuh gairah dan kesenangan tanpa rasa lelah. Allah gambarkan hal tersebut dalam surat Al-Jumu’ah ayat 4;

ذلك فضل الله يؤتيه من يشاء والله ذو الفضل العظيم

‘Demikianlah karunia Allah, yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki; dan Allah memiliki karunia yang besar’

Dalam surat An-Nahl ayat 128;

إن الله مع الذين اتَّقَوا والذين هم محسنون

‘Sungguh, Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan’

Allah mensifati hati ibu nabi Musa Alaihissalam dengan makna kosong dari segala sesuatu dalam surat Al-Qasas ayat 10;

وَأصْبَحَ فُؤَادُ أُمِّ مُوْسَى فارِغًا

‘Dan hati ibu Musa menjadi kosong ..’
Maksudnya kosong dari segala sesuatu kecuali hanya mengingat kepada Musa. Hampir-hampir tanpa dipikir dan disadarinya dia berteriak dengan menyebut nama Musa. Namun dia tidak menyebut nama Musa untuk bersabar atas janji yang akan Allah berikan, dengan dijadikan dirinya termasuk ke dalam golongan orang-orang mukmin, dan Musa kelak menjadi utusan Allah.

Dengan demikian, tertolak ketidakjelasan yang dilontarkan oleh Abu al-Izz. Dia mengistilahkan dengan al-Uzm, yaitu berkumpulnya dua hal yang saling berlawanan yang ada dalam pikiran. Kedua hal tersebut adalah mengingat dan tidak mengingat.

Tanda beserta tangga-tangga menuju kepada Tuhan tidak bisa diketahui hakekatnya terkecuali oleh para salikin (orang-orang yang berjalan menuju kepada Tuhan) dengan melalui perasaan hatinya. Sedangkan para ulama mengetahuinya dengan melalui iman dan tashdiq (persepsi). Maka takutlah kamu dari mendustakan ayat-ayat Allah yang akan membawamu termasuk ke dalam orang-orang yang tuli dan bisu yang berada dalam kegelapan.

Tatkala objek zikir, yaitu Allah tidak boleh memiliki sifat al-Faqdu (ketiadaan setelah ada), al-Adam (ketiadaan, baik setelah ada maupun tidak ada sebelumnya), tidak ada tabir yang dapat menghalanginya, tidak dicakup oleh tempat, tidak diliputi oleh waktu, tidak diperbolehkan untuk tidak ada di satu tempat manapun, tidak memiliki sifat yang dimiliki oleh sesuatu yang baru, tidak berlaku sifat makhluk bagi-Nya. Maka Dia hadir baik ‘Ain (Dzat) maupun secara makna, menyaksikan yang tersembunyi dan yang rahasia, oleh karena Dia dekat dari segala sesuatu, Dia lebih dekat dari orang yang berzikir, dari sisi mewujudkan-Nya, ilmu-Nya, kehendak-Nya, kekuasaan-Nya, mengatur-Nya, membantu-Nya, yang menciptakan makhluk yang tidak sama dengan sifat-Nya, mewujudkan berbagai hal yang tidak terbatas maknanya, Dia Maha Tinggi, Maha Agung.

Demikian akhir ungkapan Syekh Abu al-Abbas Rahimahullahu Ta’ala tentang makna maqam yang ketiga dari maqam-maqam zikir. Ungkapan Syekh Abu al-Abbas merupakan komentar terbaik juga mendalam sebagai petunjuk kepada tauhidnya orang-orang khusus dari para pelaku jalan ini.

Sudah semestinya bagi seorang hamba untuk tidak menganggap jauh bisa sampai menuju kepada maqam mulia ini. Hal tersebut tidaklah sulit bagi Dzat Yang Maha Pembuka, Maha Mengetahui. Maka wajib baginya menjalani hal-hal yang menjadi sebab. Allah Ta’ala yang kelak akan mengangkat hijab/penghalang …

Wa Allahu Ta’ala Waliyyu at-Taufik

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *