Pengajian IPNU-IPPNU PAC KECAMATAN TARUMAJAYA

Pertemuan ke- 71

Kitab Rawa’i Al Bayan Tafsir Ayat Al Ahkam Min Al-Qur’an

Minggu, 1 Agustus 2021

Oleh. Ahmad Lahmudin

 الأحكام الشرعية

Hukum-hukum Syar’i

دليل المذهب الثالث:

واستدل من قال بأنه تطوع وليس يركن ولا واجب بما يلي:

ا – قوله تعالى: (ومن تطوع خيرا فإن الله شاكر عليم) فبين أنه تطوع وليس بواجب, فمن تركه لا شيء عليه عملا بظاهر اﻟﺂية.

ب – حديث (الحج عرفة) قالوا: فهذا الحديث يدل على أن من أدرك عرفة فقد تم حجه, وهذا يقتضي التمام من جميع الوجوه, العمل ترك به في بعض الأشياء, فبقي العمل معمولا به في السعي.

Dalil/argumentasi pendapat yang ketiga tentang hukum sa’i.

Ulama yang berpendapat bahwa hukum sa’i antara bukit Sofa dan bukit Marwah adalah sunah, bukan rukun, bukan pula wajib, yaitu dengan berargumentasi kepada:

  1. Firman Allah Ta’ala, ومن تطوع خيرا فإن الله شاكر عليم  (Dan barang siapa dengan kerelaan mengerjakan kebajikan maka Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui). Ayat ini menjelaskan bahwa sesungguhnya sa’i adalah sunah, bukanlah wajib. Barang siapa yang meninggalkan pekerjaan sa’i maka tidak ada kewajiban apapun yang dibebankan kepadanya, berdasarkan zohir ayat.
  2. Hadis Nabi, الحج عرفة  (Inti haji adalah wukuf di Arafah). Mereka mengatakan, sesungguhnya hadis ini menunjukkan bahwa orang yang meninggalkan pekerjaan sa’i maka hajinya dianggap telah sempurna. Hadis ini membawa konsekwensi kepada kesempurnaan haji dari berbagai cara. Pada sebagian persoalan terdapat pekerjaan yang ditinggalkan. Maka sa’i menjadi pekerjaan yang dilakukan dikemudian.      

قال ابن الجوزي : واختلفت الرواية عن إمامنا أحمد في السعي بين الصفا والمروة, فنقل الأثرم أن من ترك السعي لم يجزه حجه, ونقل أبو طالب : لا شيء في تركه عمدا أو سهوا, ولا ينبغي أن يتركه, ونقل الميموني أنه تطوع. Imam Ibnu al-Jauzi mengatakan, “Satu riwayat yang berbeda dari Imam kita, Imam Ahmad, terkait dengan hukum sa’i. Imam Abu

Bakar al-Atsram meriwayatkan bahwa seseorang yang meninggalkan pekerjaan sa’i maka tidak dianggap sempurna hajinya. Sementara Imam Abu Thalib meriwayatkan bahwa tidak ada konsekwensi apapun bagi yang meninggalkan sa’i, baik di sengaja maupun tidak di sengaja. Namun menurutnya, seyogyanya untuk tidak ditinggalkan. Dan Imam al-Maimuni meriwayatkan bahwa hukum sa’i adalah sunah.

الترجيح: ورجح صاحب المغني المذهب الثاني وقال: هو أولى لأن دليل من أوجبه دل على مطلق الوجوب, لا على كونه لا يتم الواجب إلا به, وقول عائشة معارض بقول من خالفها من الصحابة.

Pendapat yang diunggulkan. Pemilik kitab al-Mughni memilih pendapat yang kedua. Beliau berkata, “Pendapat kedua lebih utama. Sebab dalil/argumentasi pihak yang mengatakan bahwa sa’i adalah wajib menunjukkan kepada wajib yang bersifat umum, bukan perkara wajib yang dapat membatalkan suatu kewajiban bila tidak diikutsertakan. Perkataan ‘Aisyah bertentangan dengan perkataan para sahabat yang berbeda darinya”.

أقول: الصحيح قول الجمهور لأن النبي عليه الصلاة والسلام سعى بين الصفا والمروة وقال: (خذوا عني مناسككم) والاقتداء بالرسول صلى الله عليه وسلم واجب ودعوى من قال: إنه تطوع أخذا باﻟﺂية غير ظاهر لأن معناها كما قال الطبري: أن يتطوع بالحج والعمرة مرة أخرى والله أعلم. 

Pendapatku, “Yang benar adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Sebab Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukan pekerjaan sa’i antara bukit Sofa dan bukit Marwah. Nabi bersabda, خذوا عني مناسككم (Ikuti apa yang aku lakukan terkait ibadah-ibadah haji kalian!). Mengikuti apa yang dilakukan oleh Nabi merupakan perkara wajib. Klaim orang yang mengatakan bahwa sa’i termasuk perbuatan sunah dengan berdasarkan kepada teks al-Qur’an, maka klaim seperti itu bukanlah yang dituju oleh zohir ayat. Karena makna ayat, sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam at-Thabari, yaitu seseorang yang melakukan haji dan umrah dengan suka rela pada kesempatan lain setelah melakukan yang wajib. Wa Allahu A’lam” 

Wa Allahu Al Hadi ila Sawaissabil …

Post Author: Haikal Syah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *